Berikan Susu Untuk Muridku

Posted on 21.31

Di sekolah yang menjalankan sistem sekolah sehari penuh seperti sekolahku, anak-anak perlu energi yang cukup untuk berkegiatan sepanjang hari. Untuk itu tentu mereka perlu asupan energi yang cukup. Dalam satu kesempatan bermain switch seat, satu kalimat yang kunyatakan adalah, "Switch seat for students who drinks milk this morning." Ternyata yang berpindah tempat duduk hanya beberapa orang saja. Mengejutkan!
Kukira semua anak di sekolahku minum susu tiap pagi, bahkan mungkin tiap pagi dan malam. Tapi ternyata, banyak dari mereka lebih suka minum air bening saja sebagai pendamping sarapan. Beda ya denganku dulu? Aku makan roti dengan susu untuk sarapan. Dan itu kulakukan hampir tiap hari. Tapi anak-anak sekarang memang tak bisa disamakan dengan jaman kita dulu.
Walaupun begitu, kupikir minum susu di pagi hari baik lho untuk asupan gizi dan energi anak-anak. Kebanyakan susu yang beredar di pasaran mengandung zat gizi yang berguna untuk proses tumbuh-kembang anak. Salah satu yang kuamati adalah produk Milkuat Danone yang satu ini, karena dia mempunyai beberapa keistimewaan. 
Bentuknya Unik
Dengan figur kepala harimau, kemasan botol ini menjadi unik. Untuk beberapa anak, ini jadi daya tarik tersendiri. Sayang, botol ini tidak bertutup, jadi cukup beresiko tumpah saat dikonsumsi anak-anak kecil yang penuh kelebihan energi. Saat mereka minum dan tak langsung dihabiskan, mereka cenderung untuk meninggalkan botol ini di meja tanpa pengawasan. Mereka asyik bermain, berlarian ke sana ke mari. Dan ketika isi botol tumpah membasahi meja atau lantai, hm... ayo deh kita bersihkan sama-sama. 
Untungnya, Milkuat tiger tersedia dalam dua ukuran, yaitu 170  dan 95 ml sehingga orang tua dapat membekali anak dengan ukuran besar atau kecil sesuai keperluan.
Kandungannya Baik
Milkuat tiger mengandung zat gizi yang dibutuhkan anak di masa perkembangan. Produk ini mengandung ekstra kalsium, yang berguna untuk pertumbuhan tulang. Zat besi dan seng yang dikandung produk ini lebih tinggi dibandingkan susu lain yang sejenis. Zat besi dan seng berfungsi untuk membangun koneksi antarsel otak, serta membantu otak untuk mengantarkan informasi genetik kepada sel. Ini berarti membantu koordinasi gerak anak. Selain mineral, tentu saja susu ini juga memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat dan natrium serta vitamin. Lengkap-lah untuk anak di masa pertumbuhannya.  
Rasanya Asyik
Milkuat tiger ini hanya terdiri dari dua varian rasa, yaitu coklat (Chocolicious) dan strawberry (Strawberry Fantasy). Kedua rasa ini merupakan rasa favorit yang digemari anak-anak. Sementara itu, ada yang baru pada varian rasa coklat. Dengan kemasan yang berwarna lebih muda, terkesan lebih ringan dan bersahabat. 

Belum Lima Menit!

Posted on 13.13

Kelamaan...! Tapi itu yang biasa diucapkan banyak orang saat makanan mereka jatuh ke lantai. Sayang untuk dibuang begitu saja. Dengan alasan 'belum lima menit', atau mungkin belum lima detik, atau bahkan ada yang sedikit strict dengan aturan belum tiga detik. Tapi bahkan tiga detik pun sudah terlalu lama. Begitu menurut studi yang dilakukan di University of Arizona. Faktanya, 50% pria mempercayai bahwa makanan yang jatuh ke lantai, masih aman dimakan selama belum menempel selama 5 detik, bahkan perempuan yang mempercayai hal ini mencapai angka 70%.
Faktanya, bakteri bisa ada di mana saja, dan kita boleh takjub bahwa kecepatan mereka untuk menempel di makanan yang jatuh ke permukaan lantai atau bahkan meja makan sekalipun, ternyata cepat sekali. Dan saat kuman itu masuk ke tubuh kita bersama makanan, kita perlu waspada. Untuk aku yang anak kampung, makan makanan 'kotor' bukan masalah besar. Lambung dan ususku cukup kebal bahkan mungkin 'bersahabat' dengan beberapa kuman. Tapi untuk murid-muridku yang rata-rata 'anak kota', yang terbiasa dengan pola hidup (teramat) higienis, kuman bisa jadi adalah salah satu musuh besar mereka. Salah makan sedikit bisa berakibat masuk rumah sakit. Hmm... apakah aku berlebihan? Rasanya tidak. Cukup sering isi kelas tak lengkap karena ada saja anak yang sakit.
Sudah jadi salah satu tugas dan tanggung jawab guru untuk ikut memperhatikan menu dan pola makan murid-muridnya. Boleh dibilang, aku termasuk 'polisi' di sekolah. Selalu kuingatkan anak-anak untuk menghabiskan makanan yang sudah mereka ambil sendiri ke piring mereka, juga (minimal) mencicipi sayur yang dihidangkan. Sampai beberapa murid kelas atas mengingatku sebagai miss Veggie karena setiap ketemu mereka saat makan siang, kerjaanku cuma mengingatkan mereka untuk makan sayur belaka :p 
Nah, kalau mereka tidak suka dengan makanannya, mulai deh aksi membuang sedikit-dua dikit makanan ke meja makan atau bahkan menjatuhkannya ke lantai. Ya itu dia yang jadi alasan untuk membuang-buang makanan. Aku nggak suka deh kalau lihat meja dan lantai kotor berantakan. Mengundang kuman dan lalat ke sekitar. Susahnya, kalau anak diingatkan untuk membersihkan, mereka suka beralasan bahwa itu bukanlah sampah yang dihasilkan olehnya (padahal kalau bantu membersihkan, itu jadi ladang pahala buat mereka kan, selain menciptakan lingkungan bersih yang keuntungannya buat mereka juga). Tapi terkadang, komentar mereka bikin aku meradang juga, karena katanya, "Aku nggak mau mberesin. Biar OB (Office Boy) ajalah yang mberesin. Mereka kerja untuk itu kan?" Masya Allah... jika kebersihan sebagian dari iman, apa cuma staf OB aja yang beriman?

Laguku-Doa Untuk Ayah dan Ibu

Posted on 08.38

Beberapa waktu lalu aku mengikutkan satu lagu karyaku dalam Festival Lagu Anak Nusantara 2012. Rasanya sih (menurut aku sebagai pengarang lagunya), lagu itu bagus. Haha, subjektif sekali kan ya? :p Aku minta seorang teman di sekolah yang jagoan main gitar untuk mengiringi aku menyanyi, merekam kembali lagu itu untuk dikirimkan kepada panitia lomba. Berharap menang? Tentu saja. Apalagi dengan godaan hadiah yang berjuta-juta, wah... aku sudah berharap cukup banyak. Kalau menang, lumayan buat nambah-nambah biaya reparasi mobil katana-ku yang akhir-akhir ini bolak-balik masuk bengkel :-(
Tapi ternyata, bahkan lagu karyaku itu tidak masuk jajaran finalis sama sekali. Kecewa, pastilah terasa. Tapi tak perlu dirasa berlama-lama kan? Lagu itu sempat juga kuajarkan kepada murid-muridku. Anak-anak kelas 3 atau 4 di tahun ini, mungkin masih hapal lagu itu. Lagunya yang manna siiiih? Ayo deh, aku buatkan file audio-video dalam bentuk movie maker
Utak-atik movie maker, ternyata nggak sebentar juga. Komputer yang kupakai sudah agak penuh nih muatannya (jadi agak-agak lemot, gitu :p), berakibat 'prosesi' bongkar-pasang rangkaian foto yang kujadikan sebagai ilustrasi pengiring lagu jadi makan waktu. Lammaa... Aku sengaja pakai foto-foto keluarga saja, supaya terabadikan dalam file. Awalnya mau comot gambar dari sana-sini, tapi khawatir di kemudian hari ada claim hak cipta atau bagaimana, nah... untuk amannya aku pakai foto-foto dari keluarga dekat saja. Mereka iklash & ridho, foto-fotonya kupakai di video ini :)

Jelang sore, file video movie maker itu akhirnya selesai. Ku-upload di youtube ya. Silakan buka link-nya, dengar dan apresiasi. Aku membuka diri untuk kritik dan saran. Tahun ini, anak-anak kelas 1 yang dapat giliran kuajari lagu ini. Ada yang sempat mempertanyakan, nyaris protes, "Miss, bukannya nggak boleh doa dinyanyi-nyanyiin?" tanya anak itu tempo hari. Hmm... gimana ya? Kayaknya, kalau yang begini masih boleh deh. Akhirnya mereka mau juga sih diajari lagu ini. Sesekali, mereka menyenandungkan lagu ini di kelas. Saat dinyanyikan sepenuh hati, siapa tahu jadi doa yang langsung didengar Allah. Mari kita aminkan.

"Miss, Abis Kondangan Ya?" :p

Posted on 17.40


Aku termasuk guru yang jarang berdandan ke sekolah. Pagi-pagi memang seringkali berdandan lengkap (psst, yang kumaksud dengan dandan lengkap itu ya pelembab dan foundation, bedakkan juga tentunya. Tambah lipgloss dan lipstick senada busana pada hari itu, nah sudah.) Tapi selepas dzuhur, sesudah bedak luntur oleh keringat dan air wudhu, aku jarang touch up. Jadinya wajah tampil natural saja hingga sepulang sekolah di sore harinya. 
Dan hari itu aku terlambat datang ke sekolah. Mau perpanjang SIM yang sudah expired beberapa bulan yang lalu :p. Untuk keperluan ini, tentu mengharuskan aku untuk berfoto. Dan untuk tampil maksimal di foto, aku nambah dandanan sedikitlah... Cuma nambah eye intensity pencil di lingkar luar mata bagian atas, sebagai pengganti eye liner. Tapi tampilan wajahku secara keseluruhan langsung kelihatan beda-lah. 
Hari itu, aku juga sekalian mengurus pajak kendaraan yang memang habis di akhir bulan November lalu. Maka aku datang terlambat sekali ke sekolah. Tengah hari, saat makan siang, aku baru sampai, dan  langsung menuju ruang makan tempat murid-muridku mulai menikmati menu makan siang mereka. Beberapa dari mereka menyempatkan untuk menyapa, dan pertanyaan mereka nyaris seragam, "Miss, baru dari kondangan ya?" Haha... Efek apa sih aku disangka pulang kondangan? Efek baju warna fuschia, atau gara-gara riasan mata yang tak biasa? Hadeuh... sekali-sekali gurunya dandan cantik, boleh kan...? Nggak mesti cantik cuma buat ke kondangan. Diajarin sama yang cantik, bukannya lebih asyik? ;)

Ekskul Kali Ini

Posted on 23.10

Aku kembali membantu mengkoordinir unit ekstra kurikuler Art yang diselenggarakan sekolah kami bekerja sama dengan Bale Seni Barli. Tahun ini, beberapa kali kami jadwalkan anak-anak ke BSB untuk beraktivitas di sana. Pertimbangan ini dibuat dan diputuskan untuk memudahkan pengajar saat beraktivitas. Kadangkala, sesi ekskul Art ini memerlukan berbagai peralatan pendukung, dan di BSB yang memang pusat belajar seni di area Kota Baru Parahyangan -dan kebetulan cukup dekat dengan sekolah kami- berbagai sumber daya cukup tersedia. Tidak hanya crayon dan pensil warna, tentunya, tapi juga kapur, arang, cat dan kuas, kertas lipat, lilin, tanah liat, lukis kaca, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, prosesi antar-jemput anak-anak ini jadi agak 'merepotkan'. Partisipan ekskul Art tahun ini jumlahnya mencapai 30 orang, mulai dari anak kelas 1 yang jumlahnya belasan sampai dua orang anak kelas 5. Keberadaan kendaraan pengantar-jemput menjadi teramat penting. 
Setelah dismissal, aku segera bersiap berangkat ke Bale Seni Barli. Kendaraan tak selalu tersedia, mengingat satu kendaraan sekolah dimanfaatkan bersama oleh segenap warga sekolah. Kadang sedang ngantar/jemput pejabat ke bandara, kadang sedang dipakai belanja ke Cibadak atau area Bandung lainnya, mobil belum datang karena terjebak macet di Pasteur, atau mengantar tamu agung keliling Bandung. Pasrah deh kalau sudah begitu kejadiannya. Tak jarang aku pergi ke BSB dengan membawa anak-anak di mobil Katana yang kukemudikan sendiri. Pengennya sih, ikut naik kendaraan jemputan. Sekali-sekali jadi penumpang, enak juga kan...? ;)
Sampai di arena BSB, anak-anak masuk ruang kelas, lalu dipandu oleh pak Epi sang pengajar ekskul, mereka pun bersegera mengerjakan project demi project yang dicontohkan oleh pak Epi. Seru. Semua tampak antusias di setiap sesi kegiatannya. Beberapa project yang dikerjakan antara lain:
Foto bersama sambil menunggu kendaraan jemputan datang. Cheers!!!
Origami berwarna. Dengan lipatan sederhana yang bisa jadi kantong pensil atau nota kecil, bisa digantung di pintu kamar atau kulkas. Hari itu juga, anak-anak langsung membawa pulang hasil karya mereka. Semua senang dengan hasil karyanya. 
Pak Epi sedang memberi saran dan apresiasi atas karya salah satu anak.
Gambar hitam-putih. Sambil latihan menggunakan kuas sebagai persiapan project Art selanjutnya. Ayo, beranikan diri, jangan ragu-ragu untuk menggambar. Usahakan jangan sampai salah ya. Kalau salah mencoret garis, ayo pinter-pinter ngakalinnya jadi gambar.
The boys in action.
Lukis hewan. Awalnya anak-anak belajar menggambar sosok hewan tertentu. Dan project melukis hewan (kuda, keledai dan zebra) merupakan hal yang menantang untuk anak-anak. Mereka antusias di setiap sesinya. 3 pekan mereka menyelesaikan project lukis ini. Dan di pertengahan Desember nanti, insya Allah ada program melukis di Kebun Binatang Bandung bersama dengan anak-anak sanggar lukis BSB. Yuk, ikutan yuuk...!
Project lainnya? Ah, jangan dibocorkan di sini semua dong. Biasanya di akhir semester nanti hasil karya anak-anak ini dikembalikan kepada mereka, bersama dengan laporan perkembangan mereka selama mengikuti aktivitas ekskul selama satu semester.
Nah, usai mengerjakan project Art mereka, biasanya aku harus 'menggiring' mereka untuk shalat ashar sebelum kembali ke sekolah. Jam setengah lima sore, jika kendaraan penjemput sudah datang, mari kita pulang. Naik mobil jemputan, umpel-umpelan. Belasan bahkan 20-an anak harus masuk sekali angkut di kendaraan jemputan yang akan segera digunakan untuk mengantar pulang anak-anak sekolah ke rumahnya masing-masing. Ribet banget deh. Sisanya? Mari masuk Katana lagi, kuantar ke sekolah lagi.

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)

Posted on 13.28

Postingan sebelumnya tentang field trip sebetulnya sudah cukup panjang, tapi memang cerita field trip ke Tahura Juanda belum selesai. Ayo, kita lanjutkan dengan rangkaian kegiatan berikutnya.  
Seriusnya Udi, Langie dan Adam. Masih pegang LKS, mencari sampel daun.
Dalam perjalanan menyusuri beberapa titik poin pembelajaran (Recycle, Cooking Session, Biopori, Composting), kami pun melakukan penelitian kecil mengenai biodiversity. Tugas kami adalah mengamati ragam pohon yang ada di Tahura Juanda dan mengumpulkan sampel daunnya. Daun-daun dari pohon yang pendek tentu dengan mudah kami kumpulkan. Petik satu daunnya, masih bolehlah. Tapi untuk pohon yang tinggi? Tak mungkin kami memanjat batang pohonnya yang besar dan tinggi menjulang. Minimal, kita ketahui nama-nama pohonnya, bentuk daunnya, dan tak lupa untuk mensyukuri oksigen siang hari yang begitu segar, dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Anak-anak terlihat senang, tapi beberapa orang bolak-balik memohon, "Miss... boleh makan ya...?" Haduh... sebentar lagi ya, nak. Kita akan makan siang bersama. Segera setelah sampai di 'base camp'.
Usai pengamatan di pos Composting, hujan rintik-rintik mulai turun. Hwaduh, anak-anak sibuk mengeluarkan jas hujannya. Semua ingin pakai jas hujan lengkap. Kan sudah berbekal dari rumah ;) Hujannya tidak deras sih, hanya sekedar gerimis saja. Tapi ya... ayolah kita pakai jas hujan lengkap. Dan pasukan berjas hujan pun siap melanjutkan perjalanan kembali. Mari...!
Sampai di base camp, kita siap-siap makan siang dan shalat. Shalat dulu deh. Subhanallah... anak-anak shalih ini. Mereka -9 orang yang ada di kelompokku- shalat berjamaah dan dzikir bareng. Duh, anak-anak, semoga Allah ridho kepada kalian ya. 
Langie jadi imam, memandu shalat dan dzikir. Anak-anak perempuannya nggak kelihatan :p
Selesai shalat, kami pun siap makan. Menu makan siang yang disiapkan adalah nasi, perkedel tahu, rolade daging, sop sayuran dengan baso, kerupuk dan semangka iris. Yang lapar, makan dengan lahap dong, walaupun selalu ada anak yang bilang nggak suka ini-lah, nggak pengen itu-lah, sudah kenyang-lah, dan sebagainya. 
Usai makan, karena hujan sedikit menderas, makin banyak kelompok yang berteduh di base camp. Kebetulan, acara memang dilanjutkan dengan sesi sharing. Acara ini kembali dipandu oleh pak Viktor. Beberapa anak bergantian ke depan dan menyampaikan kesannya tentang kegiatan paling menarik yang diikutinya dalam rangkaian field trip kali ini. Jawabannya beragam, tentu saja. Suasana jadi begitu ramai, karena banyak anak yang berlomba untuk maju ke depan. Tapi ada yang nyenyak ketiduran, tak peduli sekitar yang ramai luar biasa :p Di tengah keramaian itu, kami pun diminta untuk menyelesaikan LKS yang kami pegang. Beberapa pertanyaan memang belum terjawab. Aku dan anak-anak laki-laki yang duduk di satu baris, bersama-sama membahas pertanyaan demi pertanyaan, dan mereka berebutan untuk menuliskan jawabannya di LKS. Senangnya punya murid-murid yang bersemangat begini. Semangat terus ya nak, semangat mengejar ilmu, di dalam dan di luar kelas. 
Rangkaian kegiatan terus berlanjut. Kali ini saatnya permainan tradisional. Ada dua sesi permainan tradisional yang diperkenalkan di sesi ini. Yang pertama adalah permainan dengan untaian karet ganda. Simse, namanya. Sebagai anak kampung, aku kenal permainan karet ini dan tentu saja aku juga cukup sering main simse bersama teman-teman masa kecilku dulu. Melihat anak-anak masa kini yang terlihat kaku dan canggung, aku jadi gemes. Jadi pengen ikut main. Hayu ah, sesi berikutnya, giliran guru-gurunya yuk! 
Main simse yang (mestinya) seru ini sedikit berubah jadi membosankan. Anak-anak kelamaan nunggu, dan mereka mulai berlarian ke sana-ke mari. Guru-guru mesti kejar-kejaran deh sama anak-anak aktif itu, menjaga supaya mereka tetap terlihat di arena. Kalau hilang satu kan nggak lucu :p. Nah, permainan selanjutnya adalah gatrik. Ini pun permainan seru. Anak-anak bergantian memegang tongkat untuk melontarkan tongkat kecil lainnya untuk ditangkap kelompok lawan. Semua ingin dapat giliran. Seru sih. Nah, yang namanya permainan tradisional, memang seru kan? Yuk kita sering-sering mainnya. Bikin segar badan, juga pikiran. 
Ngantri main gatrik. Asyiik...!
Selesai bermain, kita siap-siap pulang yuk...! Sebelum pulang, kami kembali berkumpul di arena panggung. Anak-anak diminta untuk menulis atau menggambar kesan mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan di Tahura Juanda kali ini. Ada yang menggambar, ada yang menulis cerita, ada juga yang menulis puisi. Secara sekilas, karya mereka dicek oleh tim juri yang terdiri dari pak Viktor dan romo Ferry. Dan terpilihlah puisi tentang kesegaran udara yang ditulis Donna (siswa Primary 3). Congrats!
Dalam perjalanan pulang, anak-anak di bus 1 masih seperti kelinci dengan baterai yang tak habis-habis. Masiiih saja bergerak ke sana-ke mari, dengan suara yang masih bisa disetel kencang di level 5, padahal standar bicara mestinya di level 2 saja :p. Sementara itu, rata-rata gurunya sudah pada ngedrop baterainya hingga tinggal satu-dua garis saja. Mungkin karena faktor usia, ya. Ya... ya... aku harus ngaku sebagai salah satunya. Biarpun begitu, kami tetap bolak-balik mengingatkan anak-anak untuk duduk manis, terutama ketika bus sedang bergerak. Tapi malang tak dapat ditolak. 
Dalam satu kesempatan, bus ngerem mendadak, dan banyak anak terbentur ke kursi depannya. Seorang anak yang duduk di baris paling depan mengaku bahunya sakit karena bertahan pada tiang di belakang sopir. Sementara itu, satu anak lainnya terjatuh cukup keras ke lantai bus. Luka. Walaupun begitu, dia tidak menangis sama sekali. Sepanjang sisa perjalanan ke sekolah, eh... dia malah ngantuk. Tapi tentunya kami cemas juga. Kami kontak orang tuanya, dan kami temani di UGD RSCK yang terletak di dekat sekolah. 
Selama di UGD, setelah ditangani dan menanti dokter untuk konsultasi, baterainya seperti di-charge kembali. Ceritaaaa terus. Jalan-jalan juga ke sana ke mari. Nggak ada matinye deh. Tapi dokter tetap memberi surat sakit untuknya. Istirahat di rumah dan cepat sembuh ya, Mirace. Kami tunggu kehadiran Mirace kembali di sekolah, sehat, ceria, dan semangat kembali. 
Yang tertinggal dari moment field trip semester 1. Saat menanti di depan arena. Anak-anak P1 Andalusia tanpa 5 orang yang tidak bisa ikut serta di kegiatan ini. Salah satu form teacher-nya -yaitu diriku- juga tak nampak dalam foto karena memang aku yang pegang kamera. Ayo, bilang P1 Andalusiaaaa :D

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 1)

Posted on 18.34

Semester pertama ini, jadwal Field Trip Al Irsyad Satya adalah ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, Dago. Hari Selasa, 13 November lalu, kami berangkat dari Kota Baru Parahyangan Padalarang menuju Dago. Terlambat lebih dari satu jam, entah menunggu apa, akhirnya kami pun berangkat. Dari 11 orang yang dikelompokkan bersamaku, hanya 9 orang yang bersedia untuk ikut berpartisipasi, dan salah satunya akan dijemput di kawasan Dago karena memang dia berdomisili di sana. 5 bus berangkat beriringan. Kelompok kami ada di bus 1, bersama 2 kelompok anak-anak kelas 1 lainnya dan 2 kelompok anak-anak kelas 4.
Sepanjang perjalanan, anak-anak tak bisa diajak diam. Selain mulutnya yang tak henti makan (begitu duduk, langsung siap-siap mengeluarkan bekal snack mereka ;)), mereka juga bicara dengan suara riuh, ditambah lagi dengan gerakan mereka yang luar biasa. Berdiri, berputar, melompat, berlarian (maunya) ke depan dan ke belakang bus, berpindah-pindah tempat duduk dengan teman, hingga akrobatik (ya... ya... aku memang sedikit melebih-lebihkan). 
Pendek kata, sampailah kami di Tahura Juanda. Disambut oleh tim Spice yang berseragam kaos hijau, kami pun siap berkegiatan sesuai dengan arahan mereka. Spice ini merupakan vendor penyelenggara paket kegiatan field trip kali ini. 
Setelah seluruh bus tiba dan semua tim berkumpul, perjalanan pun dimulai. Kelompok 1 (kelompok kami) mulai jalan lebih dulu. Yell kami, "Grup satu, siap maju!" Sementara grup 2 "Oke!" dan grup 3 "Ready!". Ini jadi salah satu kiat kami untuk menyatukan perhatian anak-anak agar fokus kembali. 
Tiba di lokasi, baru turun dari bus. "Grup satu, Siap maju!"
Berjalan melintasi hutan pinus. Hmm... udaranya sejuuk.
Mari kita jalan, menuju lokasi pertama untuk pembekalan awal. Kami semua berkumpul di seputar arena panggung untuk mendengarkan sambutan dari Spice dan Tahura Juanda. Ada pak Victor dan romo Ferry di sana. Setelah pembekalan singkat, kami pun mulai jalan kembali. Dengan dibekali LKS untuk dikerjakan, kelompok kami siap menjalani rangkaian kegiatan dan melaksanakan semua tugas. Grup Satu, siap maju! teriak 9 anak di kelompokku dengan bersemangat.
Sambutan selamat datang dari pak Viktor untuk rombongan Al Irsyad Satya
Pos pertama yang kami singgahi adalah pos Recycle. Dipandu oleh tim dari Eureka ITB, kami membuat beragam proyek yang berbeda. Kelompok kami mendapat proyek membuat kincir angin pengangkat beban, sedangkan kelompok sebelah mendapat proyek mobil bertenaga angin (dari balon). Seru lho.
Membuat mobil tenaga angin dari botol bekas air mineral.
Pos selanjutnya adalah cooking session. Sambil menunggu giliran untuk memasak (atau memakan) kue cubit, anak-anak (eh, alhamdulillah, gurunya juga) dapat jatah donat sebagai snack pagi. Ampuun deh, anak-anak bolak-balik ingin pilih sendiri donat favoritnya. Ada yang keukeuh ingin donat coklat meises, ada yang mau donat serupa dengan yang didapat oleh karibnya, atau ada juga yang pasrah dengan donat gula dan selai blueberry atau topping/rasa lain. 
Setelah makan donat, saatnya mencicip kue cubit. Kakak-kakak kelas besar dipandu untuk mencoba memasak sendiri, sedangkan adik-adik kecil kelas satu cukup dengan menonton saja dan boleh mencicip kue cubit satu satu. 
Belajar membuat kue cubit. Kak Vikri terlihat terampil meminyaki cetakan kue cubit.
Setelah mencicip kue cubit, kami berjalan lagi untuk belajar tentang manfaat lubang biopori. Anak-anak kelas besar memperdalam lubang dengan alat khusus (umm... apa ya namanya? Aku lupa :p), sedangkan anak-anak kelas kecil mulai membuat lubang dengan sendok semen. Gantian ya pakainya. Hadeuh... mereka rebutan ingin ikut andil membuat lubang. Seru kan, 'main tanah' :p Kalau nggak dipandu, hasilnya pasti cuma ngacak-ngacak tanah aja. Untungnya, anak-anak di kelompokku kooperatif sekali. Mereka mau dipandu, diarahkan, diberi contoh, belajar sabar dan menggali bergantian. 
Gali lubang biopori. Iih, Faqih kok tiga kali menggali. Aku cuma dua :p
Usai menggali lubang biopori, kami kembali berjalan menyusuri hutan, menuju pos berikutnya, sambil mengamati pohon dan mengambil sampel beberapa daun tertentu. Dari 8 sampel daun yang diminta, dua tak berhasil kami kumpulkan. Tapi kami menemukan pohon yang cantik, dengan kulit pohon berwarna seperti lembayung. Ayo, berfoto dulu...! Sayang, keindahan pohon ini tidak tertangkap sempurna oleh kamera yang kupunya. Makanya, harus datang langsung deh untuk melihat keindahannya dengan mata dan kepala sendiri ;)
Bergaya di depan pohon berkulit lembayung :)
Selesai sesi foto, kami menyusul teman-teman lain di pos pembuatan kompos atau pupuk hijau. Anak-anak menyimak penjelasan petugas sambil sesekali mengamati mesin pencacah daun yang kemudian sengaja dioperasikan oleh bapak petugas. Tak berapa lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai mengguyur tanah Dago.
Adam dan Aya lagi apa siiiih? Padahal yang lain sedang asyik menyimak.
Kisah lanjutannya insya Allah ditulis di Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2) ya.

Searching, Googling, Teaching

Posted on 18.26

Tahun pelajaran 2012-2013 ini aku kembali ke bidang keahlian dasarku, Seni. Aku diberi tanggung jawab untuk mengajar materi Art & Culture untuk seluruh kelas di level Primary. Back to basic kalau begini caranya. Sungguh aku senang, karena akan bisa fokus di bidang yang kusukai dan kukuasai. Walaupun kadang-kadang ada saja guru-guru mata pelajaran lain yang memanfaatkan media seni untuk mengajar dan mengajak anak belajar. Dunia seni memang universal, bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh siapa saja.
Sekarang kembali lagi kepada aku sebagai guru. Aku tak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada keberadaan buku panduan standar, maka harus rajin-rajin mencari referensi. Untuk resource gambar, dunia maya menyediakan rentang yang sangat luas. Tak hanya aku yang bisa memanfaatkannya. Guru lain dengan korelasi tertentu untuk mata pelajaran mereka pun sangat bisa mendapatkan sumbernya dari aktivitas searching dan googling
Untuk aktivitas berkarya dan berkriya pun, dunia maya merupakan sumber yang nyaris tak ada habisnya. Bisa seharian aku mengubek-ubek cyber area itu dan selalu menemukan hal-hal baru yang bisa kumanfaatkan atau jadi inspirasi untuk kubawa ke ruang kelas. Tak jarang, aku perlu juga langkah-langkah pembuatan suatu karya tertentu. Kalau yang ini, memang masih agak sulit menemukannya. Jadi harus rajin-rajin mengulik dan mencari kata kunci yang pas untuk menemukan sumber yang tepat.
Nah, dari aktivitas googling itu, ternyata aku menemukan beberapa blog crafter Indonesia yang luar biasa kreatif. Aku yang memang suka dengan benda-benda kriya yang orisinil, handmade product yang dibuat dengan cinta, menemukan sumber ide yang menarik, bisa diadaptasi ke dalam proyek seni murid-muridku. Selain itu, di satu-dua kesempatan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan hadiah gratisan alias giveaway. Senangnya... mendapat inspirasi dan ide kreatif saja sudah menyenangkan. Jika bisa mendapatkan salah satu hadiah giveaway-nya sekalian, wah... kesenangan berlipat ganda tuh. Yang mau ikut serta 'bersaing' untuk mendapatkan hadiahnya, silakan klik link berikut ini. Lengkapi syarat dan ketentuannya, lalu tunggu hasilnya. Sementara itu, aku sih kembali ke kelas saja. Mengajar lagi. Mariii...!

Selamat Idul Fitri

Posted on 20.50

Waah, lama nggak update blog ini, banyak moment terlewat. Upacara kelulusan, liburan sambil kerja di Pelabuhan Ratu, hari-hari awal masa sekolah, yang dilanjut dengan rangkaian kegiatan Ramadhan. Seluruhnya sungguh luar biasa.
Kali ini, bahas tugas terakhir untuk anak-anak sebelum libur lebaran saja ah. Sebagai guru kesenian (alhamdulillah, tahun ini full jadi guru kesenian lagi, khusus buat level Primary), tugas yang kuberi untuk anak-anak ya nggak jauh-jauh dari bikin karya seni. Dan jelang idul fitri begini, tugasnya tentu sangat bisa ditebak. Membuat kartu ucapan Idul Fitri. Setiap level punya tingkat kesulitan tersendiri. 
Untuk anak-anak kelas satu, ditugaskan untuk menggambar dengan tema masjidku. Hehe... konvensional sekali ya? Untuk kelas dua pun bertema serupa. Untuk kelas tiga pun masih sama, sebetulnya, tapi dengan detil tambahan di bagian dalamnya. Kertas lipat agak-agak pop-up untuk disisipkan di bagian dalam. Kupikir, ini adalah teori lipatan yang sederhana sekali. Hanya dua lipatan silang plus satu lipatan horizontal untuk menulis ucapan. Tapi untuk anak kelas tiga, bahkan kelas lima sekalipun, ini ternyata cukup rumit juga. Jadilah bikin gurunya keringatan. Ampuuun, target tak tercapai kalau gini. Teorinya, urusan lipat melipat ini cuma memerlukan waktu dua menit saja. Tapi ternyata mulurnya jadi 10 kali lipat!!! Serius, aku nggak mengada-ada. Begitu banyak tangan yang minta dibantu, dan akhirnya kartu yang mestinya bisa selesai dalam dua pertemuan saja, mulur jadi tiga pertemuan (3 pekan??? untuk membuat kartu sederhana begini???)
Kartu lebaran karya anak-anak kelas 3
Kartu lebaran untuk anak-anak kelas 4 juga bertema pop up. Tapi kali ini mereka harus membuat gambar yang akan ditempel sedemikian rupa di bagian dalam hingga akan jadi gambar munculan saat kartu dibuka. Rata-rata mereka senang mengerjakannya. Hasilnya? Lumayan jugalah. 
Kartu pop-up karya anak Primary 4
Kelas 5 membuat kartu dengan penyelesaian campuran dua media warna, yaitu crayon dan cat air. Dengan konsep garis crayon tak akan tertembus air, penyelesaian akhirnya dilakukan dengan sapuan cat air. Hasilnya lucu-lucu juga. 
Karya mixmedia Primary 5
Sayangnya, kelas 6 tak berhasil mencapai cita-cita. Kartu mereka tak selesai dieksekusi karena pada hari-H, sekolah kami sedang menyelenggarakan event lomba musik sahur, nasyid, dan lomba rangkai parcel. Kelas 6 nggak kebagian waktu untuk mengerjakan proyek kartu lebaran mereka. Maaf ya anak-anak... :(
Dan yang terakhir, kartu virtual dariku. Karena dibuat bersamaan dengan moment ulang tahun Indonesia, maka kartu ini mengambil tema warna merah-putih. Dari foto lama bunga di halaman rumah, hanya tinggal ditambahi teks. Sederhana saja. Semoga kesederhanaan ini juga berimbas ke kehidupan kita. Tak perlu bermewah-mewah, yang penting berkah. 
Selamat Idul Fitri 1433 H. Semoga Allah berkenan membawa kita meraih fitri di Syawal ini. Amiin.

Farewell Party with the Security

Posted on 10.35

Setahun kebersamaan kami bersama tim Security G4S (baca: G-force atau Group 4 Securicor). Tujuh orang personil mereka bergantian menjadi 'pager bagus' di lingkungan sekolah kami, Al Irsyad Satya Islamic School. Personil pilihan yang sangat cepat berbaur dengan seluruh unsur sekolah kami, mulai dari guru-guru dan staf, murid-murid TK hingga SMA, orang tua murid, hingga tamu yang berkunjung. 
Setahun lalu, aku agak enggan dengan kehadiran mereka yang menggantikan personil tim security sebelumnya. Tapi ternyata, keenggananku itu sama sekali tak beralasan. Semua personil G4S yang diturunkan, ternyata sangat ramah di balik kesigapan mereka menangani berbagai permasalahan yang berkait dengan keamanan di sekolah kami. Murid-murid dekat dengan mereka. Sementara orang tua murid pun menaruh kepercayaan tinggi kepada mereka. Guru-guru dan staf pun dapat mengandalkan mereka untuk beberapa keperluan. Mereka selalu sigap, ramah, dan cekatan. Tak jarang mereka menuntun anak-anak TK yang sungguh imut itu untuk kemudian diantarkan ke kelas mereka atau gurunya. Ternyata, di balik seragam dan sepatu mengkilat mereka, tersimpan hati yang begitu lembut. Kabarnya, mereka yang diturunkan ke sekolah kami memang personil khusus. (Jieee...)
Mengingat reputasi yang kami bangun sebagai sekolah internasional, tentu diperlukan staf yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dalam beberapa kesempatan di akhir pekan, mereka pun menyempatkan diri untuk berpartisipasi dalam kelas bahasa Inggris yang disampaikan oleh salah seorang guru dari departemen Bahasa Inggris, Mr. Deden Rahmat. Sesi belajar-mengajar yang seru, (kabarnya) sangat mereka nikmati. Kubilang 'kabarnya', ya karena aku tidak bisa ikut di salah satu sesinya, jadi hanya sekedar tahu beritanya saja. Tapi dapat 'bocoran' nih, sebuah gambar sneak peak dari salah satu sesi belajar mereka.
Dalam beberapa kesempatan, mereka sudah mulai percaya diri untuk bercakap dalam bahasa internasional tersebut. "Excuse me, miss/sir, there is a guest for you, waiting in the guest room." ucap mereka dengan santun. Sungguh nampak peningkatan kualitas dan kapasitas diri setiap mereka. Tak segan mereka untuk belajar, bertanya, dan mempraktekkannya. Luar biasa. 
Setelah setahun kebersamaan kita, saling belajar dan menjalin sinergi, ternyata perpisahan itu sudah di ujung mata. Satu-dua pernyataan mereka, kabarnya baru kali ini mereka merasa sedih, sendu dan haru saat harus berpisah dengan klien mereka. Begitupun perasaan kami, bapak-bapak. Kebersamaan ini, begitu berharga. Akan aneh dan asing rasanya tanpa kehadiran Anda semua di tahun pelajaran baru nanti. Salam sukses untuk bapak-bapak semua. We've missed you already.


To Sir (and Maam) With Love

Posted on 17.16



Waktu cepat sekali berlalu. Sampailah kita di akhir tahun pelajaran. Saatnya berpisah telah tiba. Melepaskan satu generasi lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka ke tahap berikutnya.
Di tengah kesibukan luar biasa di akhir tahun pelajaran ini, menyiapkan rapor anak-anak (tentunya), berpartisipasi di kegiatan Art & Sport Day, melatih anak-anak untuk tampil di panggung lomba, menyiapkan kelas (tepatnya: merapikan kelas yang sempat berantakan berat dimanfaatkan sebagai sentra berbagai aktivitas), menulisi ijazah (masih aku aja nih petugasnya? tahun depan 'ganti pemain ah'), dan lain sebagainya, ternyata anak-anak lulusan kelas 6 berinisiatif untuk memberi persembahan satu lagu ekstra untuk guru-gurunya di acara graduation. Mestinya jadi satu kejutan untuk guru-guru kelas 6. Lha, aku kan guru kelas 6 juga, tapi ternyata didaulat untuk ikut mempersiapkan tampilan mereka. Oke deh...
Kuberi ide dengan sedikit efek drama ala Glee (halah...) yang sudah membawakan kembali lagu tahun 60-an ini. Kuusulkan juga ide properti untuk mereka bawa (bikin sendiri ya, anak-anak), berupa gambar bulan dan hati bolak-balik yang ditempel di batang kecil yang nantinya akan mereka berikan pada guru yang pernah mengajar mereka. Kebayang deh, wali kelasnya yang terkenal halus perasaan bakalan nangis berderai-derai melihat aksi mereka. Sedikit perubahan ditambahkan pada lirik lagu ini, tidak hanya to Sir with love, tapi to Sir and Maam with love. Terima kasih anak-anak. Thank you to you too, for being an ispiration, always.

Karya Murid-murid di Kelasku

Posted on 12.50

Mengajar Kesenian itu asyik-asyik susah. Asyiknya karena memang kegiatannya fun, seru. Anak-anak biasa menunjukkan antusiasme di setiap sesinya. Adik-adik kelas kecil biasanya terkagum-kagum melihat hasil karya kakak kelasnya yang 'spektakuler' -di mata mereka, tentunya-, sementara kakak kelasnya 'berdarah-darah' menyelesaikan proyek yang menantang.
Proyek String Art Fun ini, misalnya. Beberapa anak berjibaku, bersimbah peluh untuk memberikan karya terbaik mereka. Mulai dari mengampelas tripleks yang akan digunakan sebagai alas karya, lalu berlengket-lengket menempel kain felt dengan warna pilihan mereka di atas tripleks itu. Dilanjut dengan membenamkan jarum pentul satu demi satu sesuai dengan pola kapal yang telah kusediakan. Alhamdulillah, tak ada satu pun anak yang terluka di sepanjang proses ini. Tak ada pula yang coba-coba iseng atau bermain-main dengan jarum pentul atau palu yang mereka bawa dari rumah. Anak-anak kelas 5 ini telah cukup bertanggung jawab untuk mengindahkan keselamatan kerja saat berkarya. 
Berlanjut dengan mengikatkan benang sulam di antara paku-paku itu, wah... luar biasa. Berkali-kali kudengar panggilan untukku di sana-sini dari seantero penghuni kelas. Minta dibantu ;) Tapi ada juga yang mandiri dan bekerja cepat sekali. Ada yang request, minta benang khusus. Wow... aku mesti pergi sendiri nih ke King's Textile Center untuk membeli benang model pelangi. Nggak pake mobil sekolah. Bukan di jam kerja, pula. Ya sudahlah, kujabanin juga. Dan hasilnya? Karya benang yang tidak mengecewakan, bukan?
Lain lagi dengan karya anak-anak kelas 1. Aku yang keringatan di sini. Aku mesti memotong-motong plastisin/lilin malam berminyak yang dibelikan sekolah segedambrengan. Padahal aku minta paket-an yang sudah berukuran kecil, berwarna-warni pula. Tapi ya... daripada minta tukar dan perlu waktu lama lagi, akhirnya ya kumanfaatkan juga itu barang yang dibelikan sekolah. Dan anak-anak sibuk negosiasi. "Miss, aku mau yang warna merah." "Miss, aku mau yang warna biru!" dan seterusnya, dan sebagainya. Hadeuh... 
Kubuat mereka keringatan juga akhirnya (bukan balas dendam, lho... :p) Karena bukan lilin berkualitas tinggi yang kami punya, maka anak-anak harus meremas-remasnya dulu beberapa waktu sebelum sukses dibentuk sesuai keinginan. Ternyata, ada juga sih anak-anak yang kesulitan meremas lilin itu. Hasilnya: lilin malam malah jadi bubuk dan berhamburan mengotori meja dan lantai. Naah, ini baru 'pembalasan dendam' anak-anak padaku, karena sesudah itu, dibantu anak-anak pun, aku tetap harus membersihkan 'sisa-sisa perjuangan' mereka. Waktu belajar selama 2 peride (60 menit) tidak cukup untuk mengerjakan karya ini. Aku harus memberi petunjuk pengerjaan karya kepada anak-anak, membimbing beberapa dari mereka yang memerlukan, hingga merapikan kembali pekerjaan mereka, plus mencuci tangan bersih-bersih (dan meminta mereka mencuci tangan pun ternyata perlu waktu yang cukup lama). Tapi bagaimana pun hasilnya karya mereka, mereka tak sabar untuk membawa pulang lebah buatan mereka. Sabar ya nak. Miss Diah harus mencuci tangan juga bersih-bersih sampai tangan kembali kesat tak berminyak sebelum memberi nilai pada karya kalian. Jika sudah selesai, si lebah (yang mestinya lucu ini) boleh kok kalian bawa pulang ;)

Skip School to be a Judge

Posted on 17.32

Seorang teman memberi kabar, mengundang aku untuk ikut berpartisipasi di acara Lomba Kreativitas PLB se-Jabar sebagai juri lomba menggambar. Wow, tawaran yang sungguh sayang untuk dilewatkan. Minta ijin atasan dulu dong. Alhamdulillah diberi ijin. Atur-atur deh jadwal mengajar di sekolah, titip kelas ke beberapa teman. 
Dan di hari Selasa, 22 Mei 2012, aku pun menyiapkan diri untuk keberangkatan. Bismillah, kucoba bawa kendaraan sendiri ke sana. Green Hill Cipanas, aku dataaang. Berangkat dari rumah sekitar pukul setengah enam pagi, dengan janji akan sampai di lokasi pukul 8. Bismillah. 
Ternyata perhitungan tepat sekali. Jalanan pagi yang belum padat membuat perjalananku lancar sampai tujuan. Pukul 8 aku baruuu saja menempatkan katana-ku di lokasi dalam posisi parkir paralel. Sebuah pesan masuk. Dari Dadan, yang mempertanyakan keberadaanku. Segera aku keluar dari kendaraan dan menemuinya, lalu dilanjut dengan menemui juri-juri lainnya yang rata-rata senior dan sudah berumur (heu... memangnya aku belum berumur ya? :p)
Segera setelah itu, kami (para juri) pun mulai berkeliling untuk melihat para peserta lomba berkiprah. Aku pun mengambil gambar di sana-sini. Mengingat ini adalah lomba tingkat Jabar yang para pesertanya merupakan peserta terpilih hasil seleksi di daerah masing-masing, maka tak heranlah jika kemampuan menggambar mereka cukup tinggi. 
Ada seorang peserta di level SMP yang sejak awal, tanpa ragu mencoretkan spidolnya untuk membuat sketsa. Garisnya tegas dan mantap. Ketika kemudian diwarnainya, paduan warnanya pun kuat dan berani. Dia keluar sebagai salah satu juara ;) 
Satu peserta lain yang kuamati adalah seorang gadis yang juga menggunakan spidol untuk membentuk gambarnya. Separuh jadi dalam warna hitam-putih dengan warna hitam yang terasa dominan, gambarnya sudah terlihat bagus. Rupanya dia masih melanjutkan dengan mewarnai bagian demi bagian satu persatu. Perlu waktu, tentunya. Waktu 2,5 jam yang disediakan ternyata tidak cukup untuk menggarap hingga tuntas karya gambar di kertas berukuran 60x70 cm itu. Sayang sekali. Padahal teknik dan gaya gambarnya sangat orisinil. Jikalah dia selesai menuntaskan gambarnya, karya itu bisa jadi salah satu juara.
Juri berdiskusi cukup alot. 7 kriteria lomba yang dinilai dibahas satu persatu dari tiap gambar untuk menentukan karya siapa yang akan jadi juara. Jika paduan dan komposisi warna terlihat ada kesamaan, tentu yang akan jadi andalan adalah teknis menggambar dan ide yang dituangkan. Beberapa gambar terlihat menonjol. Ketika gambar-gambar lain bermain dalamnuansa warna terang seperti kuning, jingga, hingga merah, biru dan ungu, ada satu gambar yang justru cenderung gelap tapi tidak kusam. Senimannya tidak ragu mengaplikasikan warna hitam. Karyanya jadi unik, karena relatif berbeda dibanding yang lain. Satu lagi yang menarik perhatian kami para juri adalah satu karya yang dibuat dengan teknik pewarnaan yang unik. Pada saat peserta yang lain menggores dan mencampur warna dengan crayon, peserta yang satu ini lebih asyik membuat goresan-goresan pendek atau kumpulan titik untuk mengisi bidang. Karyanya pun menjadi unik dan cukup menonjol. Sayang, hasil akhirnya terlihat masih pucat dan terkesan tidak selesai. Satu karya lain yang mencuri perhatian kami adalah gambar yang dibuat dengan warna berani dan penuh. Idenya sangat kaya, dan semua masuk dalam karya itu. Teknik goresan pensil/benda tumpul di atas warna yang telah dibuat pun menjadi unik, jadi ciri khas senimannya yang sangat original. Sayang, karya itu akhirnya hanya menduduki posisi ke-2. 
Lepas sore, juri pun menyelesaikan tugas-tugasnya untuk kemudian menyerahkan hasil penjurian kepada panitia. Aku pun bersiap untuk pulang. Usai shalat maghrib, aku menyiapkan diri, fisik dan mental untuk membawa pulang katana-ku, kembali ke Bandung. Dalam gelap diterangi lampu kendaraan, Perjalanan pulang kali ini ditempuh dalam waktu 3 jam. Waktu tempuh yang cukup rasional, kukira. Dan siap kembali beraktivitas di sekolah di hari Rabu esok harinya. 

Kabar Duka

Posted on 16.06

Tanggal 3 April lalu kami masih bisa menjenguknya di ruang High Care Unit RS Santosa Bandung. Dan kemarin malam, kudengar kabar duka itu. Bu Elly, mama dari Farhan (P4 Iman) dan Fauzya a.k.a. Fia (P2 Iman), telah meninggal dunia. Innalillaahi wa inna ilayhi raaji'uun
Ibu yang lembut ini telah berjuang melawan leukemia yang diidapnya. Kesehatannya mendadak drop dalam waktu singkat. Kami dengar almarhumah beberapa kali berpindah ruang perawatan, mulai dari UGD, ruang ICU, sempat masuk ruang perawatan biasa, kemudian HCU saat kami menjenguknya beberapa waktu lalu. Dalam ruang perawatan khusus, kedua cahaya matanya tak diperkenankan menengoknya. Sungguh tak bisa kubayangkan betapa saling rindunya mereka. Bunda yang tak bisa bertemu putra-putrinya, dan sebaliknya. 
"Titip Fia..." ucap bu Elly lemah saat ms. Yetti menjenguknya. Fia yang memang berada di kelasnya, belum lagi genap 8 tahun, sedangkan kakaknya, Farhan, kurasa belum lagi 10 tahun. Mereka masih sangat muda, masih sangat perlu bimbingan dan dekapan bundanya.
Namun rencana Allah tak terelakkan. Perjuangan bu Elly harus terhenti di Sabtu sore lalu. Jenazah disemayamkan di kediaman kakaknya di Setiabudhi Regency, sebelum diberangkatkan ke Garut untuk dikebumikan di sana. Allahummaghfirlaha warhamha wa'afihi wa'fuanha. Semoga Allah SWT menerima semua amal ibadah almarhumah, dan menempatkannya di tempat terbaik. Doa pun terucap untuk keluarga -terutama anak-anak- yang ditinggalkan. Semoga mereka tabah, sabar menerima takdir Allah ini. Semoga Allah akan mempertemukan kita kembali di surga-Nya nanti. Amiin. Jadilah anak-anak yang shalih-shalihat ya nak, agar bisa jadi penyambung amal shalih bunda kalian.

Yuk, Banggakan Batik Indonesia

Posted on 14.52

Panas kuping nih, ‘diledekin’ sama warga negara tetangga, tentang warisan budaya kita yang (katanya) kita abaikan, Batik Indonesia. Konon, di negaranya, batik diajarkan di sekolah menengah. Apa kabar dengan negara kita? Jujur saja, aku tidak melakukan penelitian khusus tentang hal ini, tapi mari deh kita lihat fakta yang terjadi di negara kita sekarang.
Di tingkat dasar, sungguh sulit mengajarkan keterampilan batik kepada anak-anak. Kebutuhan pengajaran membatik yang berupa kompor beserta lilin panas untuk diaplikasikan ke atas kain dengan menggunakan canting atau kuas menjadi tantangan tersendiri. Karakteristik anak-anak Indonesia yang cenderung (teramat) aktif menjadi kendala tersendiri. Tak mungkin mengawasi belasan bahkan puluhan anak yang masing-masing punya kemauan sendiri untuk tekun mengaplikasikan lilin cair ke atas kain hingga membentuk pola batik artistik. Aku khawatir lilin cair akan bercipratan ke sana-ke mari, mengotori lantai -yang kemudian karena keterbatasan periode belajar yang hanya 2 jam pelajaran, akhirnya akan harus dibersihkan oleh gurunya :p- 
Peralatan membatik. Dok: Narisbatik.blogspot.com
Selain kekhawatiran akan terlukanya anak-anak akibat lilin panas, sistem pewarnaan pun masih jadi kendala. Saat ini sistem pewarnaan batik masih banyak menggunakan bahan kimia, walaupun penggunaan kembali pewarna alam masih terus dipelajari untuk dikembangkan. Besar harapan di waktu mendatang penggunaan pewarna alam yang ramah lingkungan akan makin banyak digunakan.
Di luar sistem pendidikan dan dilema pengajaran materi batik kepada siswa sekolah di tingkat dasar, menengah maupun lanjutan, ternyata industri batik terlihat berkembang dan bergerak dinamis. Makin banyak fashion desainer yang mengolah batik menjadi busana yang bisa dikenakan di berbagai lini, mulai dari busana sehari-hari hingga haute couture. Seiring dengan itu, bisa kita lihat pula bahwa makin banyak orang yang mengenakan busana batik dalam keseharian. Berbagai ragam kain dan pola batik, dengan variasi model dan warna, sungguh luar biasa.
Tapi… (selalu ada tapi-nya), ternyata geliat perkembangan industri batik tidak cukup kencang untuk dapat menambah pundi-pundi pengusaha lokal yang berskala kecil dan menengah. Tidak sedikit batik yang diproduksi di negara Cina, diimpor ke negara kita, lalu laku keras karena selisih harga yang cukup signifikan. Walaupun saya masih nggak ngerti, bagaimana mungkin batik impor dari Cina kok ya bisa lebih murah dari batik produksi dalam negeri. Jika kenyataannya memang demikian, tentu saja banyak anggota masyarakat kita yang memilih produk dengan harga yang lebih murah. Matlah pengusaha lokal bermodal pas-pasan.
Ugh, harusnya kita malu!!! Batik ini warisan budaya kita, Indonesia, bukan Cina. Kenapa mesti memilih produksi negara sono??? Produksi kain batik tidak murah, itu wajar, dan proses itulah yang justru harus kita hargai. Kalau kita sebagai bangsa Indonesia tidak bangga dengan produk batik bangsa sendiri, siapa lagi yang akan menghargai warisan budaya ini? Apakah akan kita biarkan sampai budaya batik ini terancam di-claim oleh negara tetangga lagi? Bercermin deh kita. Apa yang (sudah) kita lakukan untuk melestarikan warisan budaya leluhur ini? Jangan  hanya bisa protes dan marah-marah ketika negara tetangga sudah sibuk cuap-cuap membanggakan karya batiknya. Halah… sudah terlambat ah. 
Kalau begitu, kita mulai ajarkan lagi di sekolah yuk! Sesulit apapun, mestinya bisa kita siasati. Kita ajarkan keterampilannya, sambil kita gugah kesadaran cinta budaya mereka. Budaya batik ada di seantero Nusantara, mulai dari Sumatera hingga sekarang ada pula batik Papua. Ayo ah, kita lestarikan batik Indonesia sebagai warisan budaya leluhur kita. Kita tularkan demam Batik Indonesia. Hiyyaa…!!!
Disertakan pada lomba Blog Entry bertema Batik Indonesia, kerja sama Blogfam dan www.BatikIndonesia.com

Suwe Ora Nge-Blog

Posted on 14.34

Sungguh, lama juga aku tidak meng-update blog ini. Kangen, sungguh. Setelah sok sibuk (banget) dengan berbagai aktivitas, di dalam dan luar kelas, akhirnya aku bisa juga menyempatkan diri untuk menulis  postingan baru (dan postingan berikutnya akan segera menyusul ;)). 
The Expendibles in action.
Beberapa waktu lalu kami sibuk dengan event Open House. Sepaket dengan Open House itu, ada kegiatan berbagai lomba yang diikuti oleh beberapa sekolah yang diundang, penjelasan kurikulum yang berlaku di sekolah kami, pameran karya siswa, hingga pementasan. Wah... sungguh masa persiapan yang luar biasa. Di saat sibuk begitu, ternyata beberapa anak 'bertumbangan' karena virus udara, kelas relatif kosong, sementara the show must go on. Pergantian pemain untuk pementasan Bear Hunt terpaksa dilakukan. Aku yang baru diberi tahu beberapa hari sebelum show akhirnya menyingsingkan lengan baju juga, dan ikut sibuk ngatur pementasan anak-anak itu. Dan di akhir acara, The Expendibles, gabungan antara beberapa guru, Office Boy hingga Security, naik panggung dan menyanyikan dua lagu. Serruuuu!!!
Sementara itu, persiapan pameran karya yang dipadu dengan kegiatan interaktif dari departemen Pupil Development juga harus jalan terus. Kami menyiapkan aktivitas melukis gelas dengan Glass Deco yang ternyata mendapat sambutan meriah dari pengunjung. Seru. Sayangnya, hasil kerja berhari-hari menyusun konsep dan mendekorasi satu spot itu harus punah dalam beberapa menit saja usai event Open House. Sekolah akan segera di-fogging untuk mengantisipasi menyebarnya virus DB.
Segera setelah Open House usai, kami langsung disibukkan dengan urusan rapor tengah semester. Di sekolah kami, istilahnya adalah Progress Report term 3. Sibuk lagi deh mengumpulkan nilai anak-anak yang masih 'tercecer'. Beberapa anak yang memang harus ikut tes susulan atau melengkapi nilai tugas, harus rela 'dikejar-kejar'. Tapi untuk anak-anak yang sakit memang tak ada pilihan lain selain menunggu mereka sembuh. Cepat sembuh ya murid-muridku. Kangen deh kelas penuh lagi :p
Usai pembagian rapor, guru-guru masih belum libur. Ada sesi pelatihan untuk meng-upgrade kualitas pribadi kami sebagai guru dalam beberapa sesi training yang salah satunya bertajuk Project-Based Approach. Training semi workshop ini seru juga. Murid-muridku, siap-siap aja untuk mendapatkan project gaya baru yang inter-related dan multifungsi (maaf, nggak akan cukup untuk dijelaskan di sini. Penjelasannya nanti langsung di kelas aja ya ;)). 

EasyUni-Info Studi ke Luar Negeri

Posted on 23.02

Lama tak mem-posting apa pun di blog ini. Aku sedang (sok) sibuk cari-cari peluang beasiswa. Mau cari program postgraduate. Searching-searching, nemu banyak link juga sih. Tapi tahu-tahu 'nyasar' ke web ini, web untuk yang mau cari info sekolah lanjutan ke luar negeri, spesifiknya ke negara tetangga Malaysia dan Singapura. Segala program bisa dijajagi melalui tautan ini, mulai dari kursus alias short course hingga program S3 bahkan post-doc. Buat yang lulusan SMA, boleh tuh dicoba. Silakan klik tautan EasyUni untuk mendapatkan informasi selengkapnya.
Oya, ada tawaran program beasiswa juga sih dari berbagai lembaga, tapi memang hanya tersedia untuk beberapa universitas yang ada di Malaysia. Siapa yang berminat, silakan dicoba. Good luck.

Angin Kencang

Posted on 13.48

Beberapa hari ini angin kencang berhembus di seputar Bandung dan Jabar. Mungkin ini salah satu akibat dari perubahan iklim yang memang terasa, terjadi di atmosfir bumi kita ini. Cuaca berubah, cenderung lebih ekstrim. Dan beberapa hari belakangan ini, angin terasa kencang sekali berhembus.
Anak-anak kelas 1 yang relatif berbadan kecil senang sekali bermain-main dengan angin ini. Mereka sengaja menentang angin, membiarkan dirinya diterpa angin kencang yang menyenangkan (hmm??). Tapi orang tua mereka tentu saja melakukan tindakan antisipatif. Di hari ke-3 musim angin ini, banyak orang tua murid yang membekali putra-putri mereka dengan jaket atau sweater. 
Dan begini inilah pemandangan yang nampak di kelasku, pagi tanggai 26 Januari kemarin. Tiga anak yang duduk di barisan tengah, seperti janjian, berjaket/sweater merah ke sekolah. Luccuuuu!!! Sementara beberapa teman sekelas mereka juga mengenakan jaket warna-warni, walaupun masih ada saja anak-anak yang asyik-asyik saja tak berjaket. 

'Jackpot' di Hari Pertama Sekolah :p

Posted on 16.55

Hari pertama sekolah di semester 2 ini. Hanya dua anak yang tidak masuk sekolah. Semangat anak-anak maupun guru-guru masih tinggi setelah di-charge saat liburan, walaupun ada juga anak-anak yang tidak berlibur ke mana-mana, hanya di rumah saja. Tapi hari pertama sekolah tentunya membawa excitement tersendiri. 
Separuh hari sudah terlewati ketika seorang anak datang kepadaku, minta izin ke toilet. Tentu saja dia kuizinkan untuk segera pergi ke toilet, mumpung guru yang mestinya mengajar belum datang. Tak berapa lama, dia kembali ke kelas, melapor.
"Miss... sebetulnya tadi mau pup, tapi m**cret." Wew...! Dapat jackpot di hari pertama nih. Mana anak itu nggak ada persiapan baju ganti, pula. Untungnya ada satu anak lain yang bawa. Umm... boleh pinjam? Untungnya boleh. Iiih, baik banget ya?
Kubawalah sepaket baju ganti itu ke toilet anak laki-laki. Iya, benar, sodara-sodara, Anda tidak salah baca. Aku, yang notabene perempuan asli, mesti ikut masuk deh ke toilet anak laki-laki untuk ngurusi satu anak yang kecepirit itu. Dia bisa sih membersihkan diri sendiri, tapi tahapan-tahapannya masih mesti dipandu. Maklum deh, namanya juga masih anak kelas 1. 
Dua-tiga kali, anak laki-laki lain terkaget-kaget ketika mendapati aku ada di dalam toilet mereka. Maaf sodara-sodara... ini hanya untuk keperluan bisnis semata. No intention to do harassment
Galau juga sih, hari pertama sudah dapat jackpot begini. Hehe... ini istilah kami, aku dan partnerku untuk kejadian serupa ini. Anak kecepirit di kelas, itu nyaris jadi kejadian biasa di kelasku maupun kelas sebelah. Semester lalu, dihitung-hitung ada sekitar 6 'kasus' yang terjadi di kelasku, dengan anak yang berbeda-beda. Aku dan partnerku bahkan saling berhitung, menentukan 'undian' siapa giliran berikutnya yang akan menangani anak. 
Dan mengawali semester dua, semoga cukup kali ini saja ya. Besok-lusa, silakan siapkan baju ganti, anak-anak. Simpan di locker kelas saja ya. Mudah-mudahan tak perlu digunakan, biarkan tersimpan rapi di dalam locker untuk nanti dibawa pulang lagi di akhir semester.