Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banjir. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Maret 2013

Musim Banjir

Beberapa kali di musim penghujan ini, aku datang sangat terlambat ke sekolah. Penyebabnya: terjebak antrian panjang -bahkan bisa dikatakan macet total- di seputar Bandung Selatan. Bale Endah kebanjiran! Rumahku di sekitar Bale Endah, sebetulnya aman-aman saja, bebas banjir. Tapi rute yang biasa kulalui jadi jalur alternatif arus lalu lintas yang berasal dari 'jalur sebelah'. Maka padat luar biasa-lah jalur Bojong Soang karena rute Palasari-Dayeuhkolot tergenang air cukup tinggi. Pengendara jalan saling berebut, saling nggak mau kalah. Yang sabar? Hm... nggak kebagian :(
Ruas jalan Dayeuhkolot-Palasari tergenang air tinggi.
(foto: dok. RepublikaOnline)
Arus lalu lintas berpindah ke sini. Padat sekali. Ngerriii...
(foto: dok. @syairendra via @infobdg)
Untuk membunuh kebosanan, aku menyempatkan membaca buku di belakang kemudi. Bisa banget. Dua buku kutamatkan dalam dua kali kesempatan. Majalah bulanan juga bisa khatam dalam sekali jalan. Harus selalu siapkan snack dan bekal minum nih untuk bekal di perjalanan, soalnya sekali jalan bisa makan waktu 3-4 jam!!! Banyak orang saling berebutan jalan
Di suatu hari Rabu, tak kuasa sampai ke sekolah pada waktunya, aku minta rekanku untuk menggantikan. Alhamdulillah, bisa. Dan sampai sekolah, anak-anak ramai berkomentar, "Miss, kebanjiran ya?" Heu... Maaf ya anak-anak, Ms. Diah tak bisa hadir di kelas kalian.
Jadi ingat masa lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sekolahku, sebuah sekolah negeri di kampung Dayeuhkolot, terletak nyaris di tepi sungai Citarum. Di setiap musim hujan (baca: musim banjir), kami datang ke sekolah hanya untuk membaca pengumuman bahwa sekolah diliburkan karena banjir. Ya, sekolah kami sudah langganan digenangi 'bajigur' limpahan dari sungai Citarum. Kalau sudah demikian, kami pulang untuk ganti baju, lalu kembali ke sekolah untuk main air. Jadi anak-anak sih senang aja, nggak belajar malah bisa seru-seruan main air bareng temen. 
Keriaan anak saat bermain di halaman sekolah. Libur ekstra akibat banjir.
(foto: dok. inilah.com)
Setelah air surut pun, kami masih belum bisa belajar karena sibuk kerja bakti membersihkan lumpur dan jejak banjir di sekolah. Nggak kebayang deh kalau jadi guru di masa itu. Apa kabar dengan target kurikulum yang mesti dikejar? Beberapa hari libur dadakan begitu kan tidak ada rencananya dalam kalender akademik. Ah... perjuangan guru-guruku di masa itu, sungguh luar biasa. Angkat topi untuk guru-guruku, bu Ida (kelas 1 dan 3), bu Engkom (kelas 2), bu Haryati (kelas 4), dan pak Ero (kelas 5 dan 6)serta bu Euis (pengajar PAI). Semoga barakah dan kasih sayang Allah selalu tercurah untuk Anda semua.

Rabu, 15 Desember 2010

Banjir Bandung Selatan

Akhir-akhir ini hujan lebat kembali mengguyur Bandung. Aku betul-betul harus waspada dengan kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini. Jika hujan lebat lebih dari dua jam, aku harus bersiap-siap untuk berhadapan dengan jalanan padat yang geraknya sungguh merayap.
Itulah yang terjadi tempo hari. Berangkat seperti biasa, rupanya aku salah berencana. Ruas jalan yang biasa kulalui telah dipadati oleh segala jenis kendaraan, yang semuanya ingin bersegera sampai di tujuan. Banyak dari kendaraan itu yang merupakan limpahan dari ruas jalan lain yang tak bisa dilalui karena tergenang banjir.
Pejalan kaki mengalah untuk pengendara motor
Pengendara motor berlomba untuk melaju, menghabiskan ruas jalan, hingga menyulitkan arus lalu lintas dari arah berlawanan untuk lewat, membuat kemacetan makin parah saja :p Mereka bahkan mengambil hak pejalan kaki dengan melaju di atas tepian jembatan. Pejalan kaki bahkan terpaksa mengalah untuk mereka. Sungguh teganya.
Aku sendiri, akhirnya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah saja. Menghabiskan snack dan bekal minum yang kubawa dari rumah, bahkan menyempatkan untuk menamatkan bacaan majalah yang kubawa. Sungguh-sungguh bisa kulakukan di tengah kemacetan parah seperti itu. Membaca sambil mengemudi kendaraan. Haha... Hal yang tak akan kulakukan saat kendaraan melaju. Banyak-banyak juga memotret sekitar.
Kencan perahu di bawah jembatan
Selain membaca dan makan-minum, aku cukup banyak mengambil foto-foto dari lokasi banjir. Selain Antrian panjang kendaraan yang membuat stress, ada juga satu-dua moment yang unik, seperti yang berikut ini.
Main-main di tengah banjir.
Setelah berjam-jam di perjalanan, pegal mendera setelah kaki lelah bergantian menginjak pedal gas-kopling dan rem, membiarkan tangan sebelah kanan terpanggang sinar matahari, kelaparan dan kepanasan di perjalanan, dan datang ke sekolah jelang tengah hari. Get real??? Maafkan aku ya, murid-muridku. Hm... mungkin aku harus mengungsi? (oh, please...)
Jadi teringat sekolahku dulu, tempat aku melewatkan 6 tahun di sekolah dasar yang berlokasi di tepi sungai Citarum. Setiap musim banjir siap-siap untuk mendapat libur dadakan karena sekolah terendam air. Tapi tentu harus siap-siap juga untuk kerja bakti membersihkan bekas banjir. Ketika masih anak-anak sih, seru-seru saja. Baru terpikir sekarang, bagaimana ya pikiran guru-guru kami pada waktu itu? Tak bisa mengajar, padahal materi pelajaran masih banyak yang perlu diberikan, atau bahkan saatnya anak-anak untuk ujian akhir, seperti saat ini.
Sekolahku dulu, apa kabarmu?
Foto ini kuambil di kesempatan lain, ketika melintas di ruas jalan Dayeuhkolot, jalan yang jadi langganan banjir Bandung Selatan. Jika banjir besar, ruas jalan ini tak bisa dilalui. Maka kendaraan yang biasa melintas di jalan ini akan mencari jalan alternatif yang salah satunya ke jalan Bojong Soang yang biasa kulalui sehari-hari. Macet beratlah jadinya, seperti kejadian tempo hari. :)
Oya, sekolahku terletak di seberang sungai. Atapnya terlihat di foto ini, di seberang mesjid berkubah kotak, dekat menara radio. Apa kabar ya sekolahku itu sekarang? Apakah banjir masih sering menyapanya? Semoga murid-muridnya masih tetap dapat belajar. 

Senin, 01 November 2010

Indonesia Berduka

Indonesia berduka. Begitu banyak bencana melanda negeri.  Surat kabar, radio dan televisi menjadikan bencana di berbagai tempat di Indonesia ini menjadi berita utama.
Beberapa waktu lalu, terdengar kabar adanya banjir bandang di Wasior. Beberapa desa tersapu air bah. Banyak warga berduka di Papua sana. Sementara kita hanya mendengar berita tentangnya dan merasa iba.
Picture: courtesy of www.telegraph.co.uk
Akhir Oktober. Terdengar kabar adanya gempa berkekuatan 7,2 SR di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. BMKG menyebutkan bahwa gempa itu berpotensi tsunami. Mungkin karena letaknya yang agak berada di tepian barat, berita mengenai tsunami di kepulauan Mentawai ini terlambat sampai ke pusat (Jakarta). Gelombang air laut hingga setinggi 10 meter yang menyapu kawasan Mentawai itu meluluhlantakkan beberapa desa sekaligus. Musnah. Keluarga tercerai berai. Ratusan orang meninggal, sementara ratusan lainnya hilang dan masih dalam pencarian.
Di hari yang sama, Gunung Merapi dalam status awas. Tanda-tanda aktivitasnya sudah terdeteksi oleh para pengamat gunung api. Penduduk di kawasan Merapi dihimbau untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi pun dihimbau untuk meninggalkan rumahnya yang berada dalam radius 5 km-an dari puncak Merapi. Beliau tetap menolak, hingga tersapu awan panas yang meluncur kencang menuruni lereng Merapi. Wafat, oleh Merapi yang dijaganya. 
Kami peduli. Aku banyak bercerita pada murid-muridku. Walaupun mereka baru kelas 2 SD, mereka bisa lho diajak peduli. Aku minta mereka menaruh simpati dan empati pada para korban yang sekarang tinggal sengsara di pengungsian. Tidur tak nyaman, makanan nyaris tak ada. Jadi kuminta murid-muridku untuk bersyukur dengan apa yang ada. Mensyukuri makanan yang mereka punya. Tidak mengeluh dan berusaha menghabiskan hidangan yang tersedia (minimal pada saat makan siang, ketika mereka berada dalam pengawasanku, di bawah tanggung jawabku).
Selain itu, mereka juga kuminta untuk mengerem kebiasaan jajan dan belanja banyak makanan kecil (tak berguna dan nyaris tak bergizi). Tabung uangnya, untuk disumbangkan kepada korban gempa dan tsunami. Sedikit pun berarti. 
Di sesi pelajaranku, Kesenian, kuminta mereka untuk membuat gambar tentang para pengungsi. Akan kukirimkan untuk teman-teman, saudara-saudara mereka di pengungsian. Kami peduli.
Dan yang terakhir, tentu saja kami kirimkan doa untuk mereka, semoga tabah, sabar, diberi kekuatan untuk menjalani. Semoga bantuan dapat segera sampai kepada mereka dengan utuh dan selamat. Kami akan upayakan apa yang kami bisa, untuk bantu kalian, saudaraku. Karena kalian... adalah juga Indonesia. Kami berduka untuk kalian.

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...