Musim Banjir

Posted on 10.53

Beberapa kali di musim penghujan ini, aku datang sangat terlambat ke sekolah. Penyebabnya: terjebak antrian panjang -bahkan bisa dikatakan macet total- di seputar Bandung Selatan. Bale Endah kebanjiran! Rumahku di sekitar Bale Endah, sebetulnya aman-aman saja, bebas banjir. Tapi rute yang biasa kulalui jadi jalur alternatif arus lalu lintas yang berasal dari 'jalur sebelah'. Maka padat luar biasa-lah jalur Bojong Soang karena rute Palasari-Dayeuhkolot tergenang air cukup tinggi. Pengendara jalan saling berebut, saling nggak mau kalah. Yang sabar? Hm... nggak kebagian :(
Ruas jalan Dayeuhkolot-Palasari tergenang air tinggi.
(foto: dok. RepublikaOnline)
Arus lalu lintas berpindah ke sini. Padat sekali. Ngerriii...
(foto: dok. @syairendra via @infobdg)
Untuk membunuh kebosanan, aku menyempatkan membaca buku di belakang kemudi. Bisa banget. Dua buku kutamatkan dalam dua kali kesempatan. Majalah bulanan juga bisa khatam dalam sekali jalan. Harus selalu siapkan snack dan bekal minum nih untuk bekal di perjalanan, soalnya sekali jalan bisa makan waktu 3-4 jam!!! Banyak orang saling berebutan jalan
Di suatu hari Rabu, tak kuasa sampai ke sekolah pada waktunya, aku minta rekanku untuk menggantikan. Alhamdulillah, bisa. Dan sampai sekolah, anak-anak ramai berkomentar, "Miss, kebanjiran ya?" Heu... Maaf ya anak-anak, Ms. Diah tak bisa hadir di kelas kalian.
Jadi ingat masa lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sekolahku, sebuah sekolah negeri di kampung Dayeuhkolot, terletak nyaris di tepi sungai Citarum. Di setiap musim hujan (baca: musim banjir), kami datang ke sekolah hanya untuk membaca pengumuman bahwa sekolah diliburkan karena banjir. Ya, sekolah kami sudah langganan digenangi 'bajigur' limpahan dari sungai Citarum. Kalau sudah demikian, kami pulang untuk ganti baju, lalu kembali ke sekolah untuk main air. Jadi anak-anak sih senang aja, nggak belajar malah bisa seru-seruan main air bareng temen. 
Keriaan anak saat bermain di halaman sekolah. Libur ekstra akibat banjir.
(foto: dok. inilah.com)
Setelah air surut pun, kami masih belum bisa belajar karena sibuk kerja bakti membersihkan lumpur dan jejak banjir di sekolah. Nggak kebayang deh kalau jadi guru di masa itu. Apa kabar dengan target kurikulum yang mesti dikejar? Beberapa hari libur dadakan begitu kan tidak ada rencananya dalam kalender akademik. Ah... perjuangan guru-guruku di masa itu, sungguh luar biasa. Angkat topi untuk guru-guruku, bu Ida (kelas 1 dan 3), bu Engkom (kelas 2), bu Haryati (kelas 4), dan pak Ero (kelas 5 dan 6)serta bu Euis (pengajar PAI). Semoga barakah dan kasih sayang Allah selalu tercurah untuk Anda semua.