Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)

Posted on 13.28

Postingan sebelumnya tentang field trip sebetulnya sudah cukup panjang, tapi memang cerita field trip ke Tahura Juanda belum selesai. Ayo, kita lanjutkan dengan rangkaian kegiatan berikutnya.  
Seriusnya Udi, Langie dan Adam. Masih pegang LKS, mencari sampel daun.
Dalam perjalanan menyusuri beberapa titik poin pembelajaran (Recycle, Cooking Session, Biopori, Composting), kami pun melakukan penelitian kecil mengenai biodiversity. Tugas kami adalah mengamati ragam pohon yang ada di Tahura Juanda dan mengumpulkan sampel daunnya. Daun-daun dari pohon yang pendek tentu dengan mudah kami kumpulkan. Petik satu daunnya, masih bolehlah. Tapi untuk pohon yang tinggi? Tak mungkin kami memanjat batang pohonnya yang besar dan tinggi menjulang. Minimal, kita ketahui nama-nama pohonnya, bentuk daunnya, dan tak lupa untuk mensyukuri oksigen siang hari yang begitu segar, dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Anak-anak terlihat senang, tapi beberapa orang bolak-balik memohon, "Miss... boleh makan ya...?" Haduh... sebentar lagi ya, nak. Kita akan makan siang bersama. Segera setelah sampai di 'base camp'.
Usai pengamatan di pos Composting, hujan rintik-rintik mulai turun. Hwaduh, anak-anak sibuk mengeluarkan jas hujannya. Semua ingin pakai jas hujan lengkap. Kan sudah berbekal dari rumah ;) Hujannya tidak deras sih, hanya sekedar gerimis saja. Tapi ya... ayolah kita pakai jas hujan lengkap. Dan pasukan berjas hujan pun siap melanjutkan perjalanan kembali. Mari...!
Sampai di base camp, kita siap-siap makan siang dan shalat. Shalat dulu deh. Subhanallah... anak-anak shalih ini. Mereka -9 orang yang ada di kelompokku- shalat berjamaah dan dzikir bareng. Duh, anak-anak, semoga Allah ridho kepada kalian ya. 
Langie jadi imam, memandu shalat dan dzikir. Anak-anak perempuannya nggak kelihatan :p
Selesai shalat, kami pun siap makan. Menu makan siang yang disiapkan adalah nasi, perkedel tahu, rolade daging, sop sayuran dengan baso, kerupuk dan semangka iris. Yang lapar, makan dengan lahap dong, walaupun selalu ada anak yang bilang nggak suka ini-lah, nggak pengen itu-lah, sudah kenyang-lah, dan sebagainya. 
Usai makan, karena hujan sedikit menderas, makin banyak kelompok yang berteduh di base camp. Kebetulan, acara memang dilanjutkan dengan sesi sharing. Acara ini kembali dipandu oleh pak Viktor. Beberapa anak bergantian ke depan dan menyampaikan kesannya tentang kegiatan paling menarik yang diikutinya dalam rangkaian field trip kali ini. Jawabannya beragam, tentu saja. Suasana jadi begitu ramai, karena banyak anak yang berlomba untuk maju ke depan. Tapi ada yang nyenyak ketiduran, tak peduli sekitar yang ramai luar biasa :p Di tengah keramaian itu, kami pun diminta untuk menyelesaikan LKS yang kami pegang. Beberapa pertanyaan memang belum terjawab. Aku dan anak-anak laki-laki yang duduk di satu baris, bersama-sama membahas pertanyaan demi pertanyaan, dan mereka berebutan untuk menuliskan jawabannya di LKS. Senangnya punya murid-murid yang bersemangat begini. Semangat terus ya nak, semangat mengejar ilmu, di dalam dan di luar kelas. 
Rangkaian kegiatan terus berlanjut. Kali ini saatnya permainan tradisional. Ada dua sesi permainan tradisional yang diperkenalkan di sesi ini. Yang pertama adalah permainan dengan untaian karet ganda. Simse, namanya. Sebagai anak kampung, aku kenal permainan karet ini dan tentu saja aku juga cukup sering main simse bersama teman-teman masa kecilku dulu. Melihat anak-anak masa kini yang terlihat kaku dan canggung, aku jadi gemes. Jadi pengen ikut main. Hayu ah, sesi berikutnya, giliran guru-gurunya yuk! 
Main simse yang (mestinya) seru ini sedikit berubah jadi membosankan. Anak-anak kelamaan nunggu, dan mereka mulai berlarian ke sana-ke mari. Guru-guru mesti kejar-kejaran deh sama anak-anak aktif itu, menjaga supaya mereka tetap terlihat di arena. Kalau hilang satu kan nggak lucu :p. Nah, permainan selanjutnya adalah gatrik. Ini pun permainan seru. Anak-anak bergantian memegang tongkat untuk melontarkan tongkat kecil lainnya untuk ditangkap kelompok lawan. Semua ingin dapat giliran. Seru sih. Nah, yang namanya permainan tradisional, memang seru kan? Yuk kita sering-sering mainnya. Bikin segar badan, juga pikiran. 
Ngantri main gatrik. Asyiik...!
Selesai bermain, kita siap-siap pulang yuk...! Sebelum pulang, kami kembali berkumpul di arena panggung. Anak-anak diminta untuk menulis atau menggambar kesan mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan di Tahura Juanda kali ini. Ada yang menggambar, ada yang menulis cerita, ada juga yang menulis puisi. Secara sekilas, karya mereka dicek oleh tim juri yang terdiri dari pak Viktor dan romo Ferry. Dan terpilihlah puisi tentang kesegaran udara yang ditulis Donna (siswa Primary 3). Congrats!
Dalam perjalanan pulang, anak-anak di bus 1 masih seperti kelinci dengan baterai yang tak habis-habis. Masiiih saja bergerak ke sana-ke mari, dengan suara yang masih bisa disetel kencang di level 5, padahal standar bicara mestinya di level 2 saja :p. Sementara itu, rata-rata gurunya sudah pada ngedrop baterainya hingga tinggal satu-dua garis saja. Mungkin karena faktor usia, ya. Ya... ya... aku harus ngaku sebagai salah satunya. Biarpun begitu, kami tetap bolak-balik mengingatkan anak-anak untuk duduk manis, terutama ketika bus sedang bergerak. Tapi malang tak dapat ditolak. 
Dalam satu kesempatan, bus ngerem mendadak, dan banyak anak terbentur ke kursi depannya. Seorang anak yang duduk di baris paling depan mengaku bahunya sakit karena bertahan pada tiang di belakang sopir. Sementara itu, satu anak lainnya terjatuh cukup keras ke lantai bus. Luka. Walaupun begitu, dia tidak menangis sama sekali. Sepanjang sisa perjalanan ke sekolah, eh... dia malah ngantuk. Tapi tentunya kami cemas juga. Kami kontak orang tuanya, dan kami temani di UGD RSCK yang terletak di dekat sekolah. 
Selama di UGD, setelah ditangani dan menanti dokter untuk konsultasi, baterainya seperti di-charge kembali. Ceritaaaa terus. Jalan-jalan juga ke sana ke mari. Nggak ada matinye deh. Tapi dokter tetap memberi surat sakit untuknya. Istirahat di rumah dan cepat sembuh ya, Mirace. Kami tunggu kehadiran Mirace kembali di sekolah, sehat, ceria, dan semangat kembali. 
Yang tertinggal dari moment field trip semester 1. Saat menanti di depan arena. Anak-anak P1 Andalusia tanpa 5 orang yang tidak bisa ikut serta di kegiatan ini. Salah satu form teacher-nya -yaitu diriku- juga tak nampak dalam foto karena memang aku yang pegang kamera. Ayo, bilang P1 Andalusiaaaa :D

0 Response to "Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)"