Peringatan Hari Ibu dan Pembagian Rapor

Posted on 18.21

23 Desember 2010, hari terakhir bertemu dengan murid-muridku di tahun ini. Hari ini mereka akan menerima "buku amalan" mereka setelah belajar selama satu semester ini. 
Beberapa hari ini sibuk mempersiapkan buku laporan anak-anak, menyiapkan mereka untuk tampil di panggung perayaan hari ibu yang dirayakan hari ini. Ya.. ya... seharusnya hari ibu di Indonesia dirayakan tanggal 22 Desember, tapi karena kebetulan moment-nya berdekatan, akhirnya dikemaslah acara pembagian rapor semester 1 ini dengan tema celebrating mother's day.
Selain tampilan anak-anak yang -seperti biasa- keroyokan, kali ini beberapa orang guru juga ikut tampil. Aku dan bu Nenden menyanyikan lagu "Lestari", karyaku. Diiringi petikan gitar cantik oleh pak Idam, wah... boleh dong aku Ge-eR mengatakan bahwa tampilan kami sukses memukau bunda-bunda yang hadir di acara pagi tadi. Lagu itu memang kubuat spesial untuk ibu, beberapa tahun yang lalu. Kuikutkan lomba, tapi tak berjaya. Sempat kunyanyikan di beberapa acara, dan mendapat sambutan yang cukup membahagiakan. Tapi tampilan tahun inilah yang kurasa luar biasa. Kombinasi dari petikan gitar yang sungguh cantik, dipadu suara bu Nenden yang unik, dan aku 'mengacaukan' dengan paduan suara dua. Hm... jadi ingin lihat video tampilan kami. Ada yang punya? Bagi dong....! ;)

Al Irsyad Satya Open House 2010

Posted on 13.02

Sabtu pagi, saatnya show time (wah, bahasanya rancu nih). Open House Al Isyad Satya 2010 berlangsung di area sekolah kami. Banyak acara yang memerlukan penanganan dan koordinasi, mulai dari kegiatan lomba antarsekolah, talk show dengan tema "Menciptakan Generasi Gadget Terdidik", tampilan aksi murid-murid kami, show case kegiatan belajar di beberapa kelas tertentu, hingga diresmikannya "Interactive Teaching Room" oleh bapak wagub Jabar, H. Dede Yusuf. Semua orang di sekolah kami... sibuk!!!
Aku sendiri bertugas menangani kegiatan talk show hingga tampilan anak-anak P4 & P5 yang membawakan lagu Sherina, "Andai Aku Besar". Sebelumnya, bantu-bantu juga melatih tari Saman (setelah sebelumnya aku juga yang di-training ;)), juga tampilan anak-anak P2 yang membawakan laguku dalam tiga bahasa: Hariku, My Day, dan Yaumi. Belum cukup dengan itu, masih ditambah dengan menyiapkan ruang seni untuk 'dipamerkan'. Untungnya, aku dapat back up tenaga yang sangat sigap, bu Aini yang mengakhiri masa baktinya di Al Irsyad justru di hari ini. Jadi bakti terakhirnya sebelum berpisah dengan sekolah kami.
Di akhir hari, kita semua cappek... tapi selalu ada senyum (terutama untuk sesi foto bersama ;)) Yuk, smile... Kita bertemu lagi di event besar lainnya. Selamat kepada semua pemenang. Untuk panitia penyelenggara, bukan mengecilkan hati... tapi laporan menanti. Hihi... ;)

Banjir Bandung Selatan

Posted on 20.15

Akhir-akhir ini hujan lebat kembali mengguyur Bandung. Aku betul-betul harus waspada dengan kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini. Jika hujan lebat lebih dari dua jam, aku harus bersiap-siap untuk berhadapan dengan jalanan padat yang geraknya sungguh merayap.
Itulah yang terjadi tempo hari. Berangkat seperti biasa, rupanya aku salah berencana. Ruas jalan yang biasa kulalui telah dipadati oleh segala jenis kendaraan, yang semuanya ingin bersegera sampai di tujuan. Banyak dari kendaraan itu yang merupakan limpahan dari ruas jalan lain yang tak bisa dilalui karena tergenang banjir.
Pejalan kaki mengalah untuk pengendara motor
Pengendara motor berlomba untuk melaju, menghabiskan ruas jalan, hingga menyulitkan arus lalu lintas dari arah berlawanan untuk lewat, membuat kemacetan makin parah saja :p Mereka bahkan mengambil hak pejalan kaki dengan melaju di atas tepian jembatan. Pejalan kaki bahkan terpaksa mengalah untuk mereka. Sungguh teganya.
Aku sendiri, akhirnya tak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah saja. Menghabiskan snack dan bekal minum yang kubawa dari rumah, bahkan menyempatkan untuk menamatkan bacaan majalah yang kubawa. Sungguh-sungguh bisa kulakukan di tengah kemacetan parah seperti itu. Membaca sambil mengemudi kendaraan. Haha... Hal yang tak akan kulakukan saat kendaraan melaju. Banyak-banyak juga memotret sekitar.
Kencan perahu di bawah jembatan
Selain membaca dan makan-minum, aku cukup banyak mengambil foto-foto dari lokasi banjir. Selain Antrian panjang kendaraan yang membuat stress, ada juga satu-dua moment yang unik, seperti yang berikut ini.
Main-main di tengah banjir.
Setelah berjam-jam di perjalanan, pegal mendera setelah kaki lelah bergantian menginjak pedal gas-kopling dan rem, membiarkan tangan sebelah kanan terpanggang sinar matahari, kelaparan dan kepanasan di perjalanan, dan datang ke sekolah jelang tengah hari. Get real??? Maafkan aku ya, murid-muridku. Hm... mungkin aku harus mengungsi? (oh, please...)
Jadi teringat sekolahku dulu, tempat aku melewatkan 6 tahun di sekolah dasar yang berlokasi di tepi sungai Citarum. Setiap musim banjir siap-siap untuk mendapat libur dadakan karena sekolah terendam air. Tapi tentu harus siap-siap juga untuk kerja bakti membersihkan bekas banjir. Ketika masih anak-anak sih, seru-seru saja. Baru terpikir sekarang, bagaimana ya pikiran guru-guru kami pada waktu itu? Tak bisa mengajar, padahal materi pelajaran masih banyak yang perlu diberikan, atau bahkan saatnya anak-anak untuk ujian akhir, seperti saat ini.
Sekolahku dulu, apa kabarmu?
Foto ini kuambil di kesempatan lain, ketika melintas di ruas jalan Dayeuhkolot, jalan yang jadi langganan banjir Bandung Selatan. Jika banjir besar, ruas jalan ini tak bisa dilalui. Maka kendaraan yang biasa melintas di jalan ini akan mencari jalan alternatif yang salah satunya ke jalan Bojong Soang yang biasa kulalui sehari-hari. Macet beratlah jadinya, seperti kejadian tempo hari. :)
Oya, sekolahku terletak di seberang sungai. Atapnya terlihat di foto ini, di seberang mesjid berkubah kotak, dekat menara radio. Apa kabar ya sekolahku itu sekarang? Apakah banjir masih sering menyapanya? Semoga murid-muridnya masih tetap dapat belajar.