Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pikiran Rakyat. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

Pelatihan Menulis Untuk Guru

Kulihat pengumuman kecil itu di sudut surat kabar harian PR. Tertarik dong... selain aku sudah lama tidak ikut pelatihan apapun (duuh, susah memang cari pelatihan untuk guru kesenian atau guru kelas -selain standar pelatihan kurtilas tempo hari :p-), memang menulis adalah salah satu hal yang kugemari. Biaya yang nggak sedikit, tentu jadi kendala, baik jika dibebankan ke pihak sekolah, apalagi individu. Duh!!!
Kantor Redaksi PR sebagai penyelenggara terbakar!!! Sebuah berita mengejutkan. Akankah sesi pelatihan menulis artikel untuk guru itu akan tetap digelar? Nyatanya YA. Komitmen PR untuk tetap terbit dan tetap menjalankan segala aktivitas senormal mungkin, dijaga betul oleh pimpinan beserta segenap staf. Maka jadilah pelatihan yang sedianya akan diselenggarakan di kantor redaksi PR, pindah tempat ke Hotel Serela di Cihampelas.
Dan pada hari Rabu dan Kamis, 15-16 Oktober lalu, aku dan Ms. Reni dari sekolah kami, resmi bergabung menjadi salah satu peserta pelatihan menulis astikel untuk guru, beserta 20-an guru-guru dari sekolah lain.
Sesi pertama diawali oleh pak Budhiana yang punya pengalaman panjang di dunia persuratkabaran, termasuk di PR tentunya. Menarik mendengarkan kisah beliau, berbagi pengalaman mengenai banyak hal. Berlanjut dengan sesi kedua bersama pak Tendi, yang juga punya pengalaman tak kurang panjang bersama PR. Sesi terakhir di hari pertama ditutup oleh pak Septiana Santana, yang membongkar pola berpikir kita, agar lebih berani berpikir dan berpendapat dalam tulisan. Sebetulnya materi yang disampaikannya adalah tentang struktur tulisan, lengkap dengan contoh-contoh tulisan sesuai dengan penjelasan yang disampaikannya dengan cara yang menarik.
Hari kedua, kembali pak Septiawan Santana mengawali sesi pagi. Kali ini membahas mengenai gaya bertutur dalam tulisan. Beberapa contoh diungkapkan, tapi sayangnya tidak cukup waktu untuk membahas semua contoh yang diberikan. Sesi berikutnya, kembali pak Tendi mengisi materi. Kali ini mengenai Bidik Rubrik. Ternyata, cukup banyak peluang bagi penulis lepas untuk menjadi kontriutor di koran PR. Aku yakin, banyak ide sudah bermunculan di benak teman-teman, siap diwujudkan menjadi ragam tulisan untuk surat kabar.
Usai diskusi dengan pak Tendi, acara pun berakhir. Pembagian 3 doorprize untuk penyusun kerangka tulisan terbaik pun diumumkan. Hari sebelumnya sudah dibagikan 2 doorprize untuk partisipan dengan usulan tema terbanyak. Aku bukan salah satunya, cukup jadi fotografer saja :p
Selamat ya buat para penyabet door prize. Apa kabar denganku sendiri? Iddiiih, update blog ini saja tertunda-tunda teruuus. Apa kabar artikel untuk surat kabar, yang notabene harus berdasarkan data dan fakta, didukung riset baik kecil maupun besar, lebar menyeluruh? Sabar deh... satu-satu. Blog posting dulu yang diselesaikan yaa, yang hanya curhatan kecil dari hati. Sambil menanti hari, hingga tulisanku selesai. Tim PR-Institute sebagai penyelenggara menanti tulisan terbaik kita untuk dipublikasikan dalam salah satu penerbitan koran Pikiran Rakyat. Sementara itu, kita tunggu dulu liputan dari tim PR yaa. Ayo, berfoto yang cantik ;)

Selasa, 13 April 2010

Publikasikan Tulisanku di Koran Lokal (dulu)

Alhamdulillah senangnya... tulisanku bisa tembus media koran daerah (untuk langkah awal... sebelum merambah ke media nasional). Setelah 'panas' gara-gara seorang teman yang sudah mempublikasikan tulisannya lebih dulu, aku menyemangati diri untuk menulis dan mengirimkan tulisan itu ke koran daerah Pikiran Rakyat. Hari Senin tanggal 12 April kemarin tulisan itu tayang di rubrik forum guru. Aku tersemangati oleh seorang rekan guru, dan semoga semangat ini menular juga kepada murid-murid kami. Ada satu kutipan yang sangat kusuka: A good teacher, teaches; a great teacher, inspires. Semoga kami bisa jadi guru-guru yang hebat, sehingga bisa memberi inspirasi kepada murid-murid kami, agar semua kelak bisa memebri kontribusi terbaik. Yuk, semangat...!
Berikut ini saya tulis ulang isi tulisan tersebut, karena kelihatannya isi tulisan di gambar ini kurang jelas...
Belakangan ini, sekolah-sekolah dengan sistem full day school semakin banyak didirikan. Konon, karena tuntutan orang tua zaman sekarang yang menghendaki demikian. Semakin diminatilah sekolah serupa ini.
Sebagai seorang guru yang juga mengajar di sekolah semacam ini, saya mencoba sedikit menganalisa, apa sih kebaikan dari sekolah dengan sistem seperti ini? Secara umum, yang tentu saja masih perlu penelitian lebih jauh, beberapa data dan fakta saya temukan dalam perjalanan selama lebih dari 13 tahun malang melintang sebagai pengajar di sekolah dengan sistem full day ini.
Pertimbangan ini bisa ditujukan untuk Anda sebagai orang tua murid yang berencana untuk menyekolahkan putra-putrinya, atau bagi Anda yang berminat untuk membaktikan diri sebagai tenaga pendidik di sekolah seperti ini, khususnya sekolah Islam full day.
Jam kerja orang tua, pasangan suami-istri yang ketat dengan beban pekerjaan kantor mereka masing-masing, membuat mereka merasa harus menitipkan pendidikan anak-anak mereka pada sebuah lembaga terpercaya. Full day school menjadi pilihan untuk mengakomodir kondisi tersebut. Anak pulang di sore hari, tak lama sebelum kedatangan orang tuanya. Masih cukup waktu untuk membersihkan diri, dan bersiap menyambut ayah dan/atau ibu dari kantor.
Dalam struktur keluarga masa kini, keberadaan pembantu Rumah Tangga seperti menjadi sebuah keharusan. Tugas mereka bukan hanya sekedar memasak dan membersihkan rumah, mencuci dan menyeterika, tapi berkembang hingga merapikan peralatan sekolah anak dan membimbingnya belajar. Tapi akankah pembelajaran bersamanya akan optimal? Dengan latar belakang pendidikan maksimal SMA sekalipun, akankah PRT punya otoritas/kapabilitas untuk membimbing anak belajar dan beribadah? Ataukah tak berdaya pada kekuasaan dan keinginan si anak, dan membiarkannya menonton TV, bermain game komputer, atau mengakses internet sesukanya ke dunia maya?
Saat kegiatan anak terpusat di sekolah, mulai pukul 7.30 hingga pukul 4 sore, semua aktivitas sarat dengan nilai pendidikan.
Mulai dari ikrar pagi, guru sudah memandu siswa untuk fokus pada satu kegiatan saja. Dilanjut dengan doa pagi untuk memulai kegiatan pada hari itu, menggugah kesadaran siswa untuk selalu memulai segala aktivitas dengan memohon izin Allah. Semoga berkah.
Pembelajaran tentu saja disisipi dengan muatan moral aplikatif, semisal belajar menghargai pendapat orang lain, menyimak dengan baik, meminta izin untuk meminjam alat tulis teman, hingga meminta izin untuk minum di tengah-tengah waktu belajar.
Istirahat pagi digunakan untuk makan camilan sehat, diiringi kemauan untuk berbagi kepada teman. Pada kesempatan ini pun guru dapat mengenalkan berbagai jenis makanan ringan sesuai dengan apa yang dimakan anak, mengingatkan siswa untuk membuang sampah pada tempatnya, hingga membersihkan remah-remah ataupun bungkus makanan kecil yang mereka bawa. Siswa belajar bertanggung jawab.
Sedangkan istirahat siang digunakan untuk rehat sejenak dari aktivitas rutin, untuk shalat dan makan siang. Guru memimpin doa, atau bahkan murid yang bergiliran memimpin doa dan menjadi imam. Sebuah pembelajaran mengenai sistem nilai ibadah yang sangat baik bersama aplikasinya sekaligus.
Kegiatan makan siang pun perlu dimanfaatkan untuk mengingatkan siswa agar mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan, berupa ketersediaan makanan yang beragam dalam menu makan siang yang tinggal mereka makan. Siswa belajar bertanggungjawab untuk menghabiskan makanan di piring mereka dan mengembalikan wadah makanan yang telah kosong ke dapur.
Menjelang pulang, aktivitas sekolah ditutup dengan shalat asar. Guru mengingatkan siswa untuk juga melaksanakan shalat di rumah (maghrib, isya dan subuh keesokan harinya). Sebelum shalat, guru dapat mengulang hafalan surat pendek yang diajarkan di sekolah, atau menceritakan kisah berhikmah. Selain memperkaya batin siswa, hal ini juga membuat guru terus memacu diri untuk mencari ilmu, baik untuk materi cerita maupun metode bercerita. Bukankah ini akan jadi keuntungan bagi banyak pihak?
Jika sudah sedemikian banyak keuntungan yang ditawarkan pihak sekolah dengan sistem full day, pertimbangan apa lagi yang Anda pikirkan? Segera daftarkan putra-putri Anda di salah satu sekolah serupa. Investasi Anda dalam menyekolahkan putra-putri akan terbayar lunas, bahkan berpeluang hadiah/bonus ketika putra/putri Anda menjadi anak-anak shalih dan shalihat yang masih terus mendoakan Anda bahkan ketika Anda telah tiada sekalipun. Bukankah doa dari anak yang shalih akan terus mengalirkan pahala kepada orang tua yang telah mendidiknya?
Sedangkan bagi kita, para pendidik, ilmu yang bermanfaat pun akan tetap diperhitungkan sebagai amal shalih, juga ketika kita telah tiada. Jadi, mari kita berlomba-lomba menuai kebaikan di sekolah dengan sistem full day.

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...