Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gempa. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 April 2011

Gempa Cilacap... Lagi!!!

Rehat antar dua pelajaran. Anak-anak sedang di luar kelas, sibuk main, berlarian di koridor. Lamat-lamat, kurasa ada getaran kecil. Gempakah...? Kupastikan bahwa guncangan yang aku rasa di lantai dua sekolah itu bukan efek resonansi dari getaran kendaraan berat yang biasa lewat di jalanan sebelah. 'Jemuran pakaian', karya anak-anak beberapa waktu yang lalu terlihat bergoyang. Pelan. Membuatku yakin bahwa ini gempa. Deg-degan rasanya. Apa kabarnya anak-anak jika gempa susulan terjadi lagi? Untungnya tidak.
Ketika kutanya beberapa rekan dan murid-murid, banyak di antara mereka yang tidak merasakan keberadaan gempa tadi. Terlalu asyik dengan dunia mereka. Aku yang agak-agak paranoid, membawa serta tas beserta komputer jinjingku ke pertemuan rutin dengan departemen PDIS seperti biasa setiap Selasa.
Salah satu yang siap-siap diagendakan: pelatihan tanggap bencana jika sewaktu-waktu terjadi kejadian serupa di sekolah, dengan anak-anak yang masih berada di area sekolah. Harus segera, kiranya. Yuk, jadwalkan...!

Senin, 04 April 2011

Gempa Cilacap... Terasa Hingga ke Bandung!

Pukul tiga pagi. Bumi berguncang. Terbangun dari tidur, memastikan diri bahwa itu adalah guncangan gempa, dan bertanya-tanya sendiri, apakah harus siap-siap evakuasi ke luar rumah? Apa saja barang penting yang harus dibawa? Kerudung di mana? Apakah pakaian tidurku cukup layak untuk dikenakan ke luar rumah? Dan sebagainya dan sebagainya.
Dalam keadaan mengantuk tapi cukup waspada, aku berpikir-pikir apakah akan mencari informasi tentang gempa tersebut (MetroTV atau TVOne kurasa cukup bisa diandalkan untuk berita terkini semacam itu), meng-update status facebook (teteup... pengen eksis), atau kembali tidur. Atau pilih opsi ketiga ;)
Pagi harinya, baru kuketahui bahwa gempa sebesar 7,1 SR terjadi di 293 km barat daya Cilacap, dengan kedalaman 10 km. Cukup mengagetkan, apalagi mengingat pusat gempa itu berada di lempeng Eurasia, di mana lempeng Sunda -tempat barisan pulau Jawa dan Sumatera berada- juga termasuk di dalamnya. Apakah gempa serupa akan 'menjalar' ke tempat-tempat lain? Bumi memang sedang berguncang, menggeliat. 
Kelihatannya kita harus waspada saja. Siapkan tas survival berisi perlengkapan darurat seperti surat-surat penting, makanan kecil dan minuman botol, obat standar, pakaian ganti, hm... apa lagi? Kok jadi ingin seperti Doraemon dengan kantong ajaib atau Hermione Granger dengan tas kecil serba ada-nya. Inginnya memasukkan segala barang yang diperlukan dalam wadah kecil yang siap dibawa kapan saja. Rasanya perlu juga mengingatkan murid-muridku untuk selalu bersiaga, meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi. Mungkin drilling atau training kesiagaan bencana sudah harus diselenggarakan lagi di sekolah kami.

Sabtu, 12 Maret 2011

Gempa dan Tsunami Dahsyat di Jepang

Jumat sore, kudengar kabar adanya gempa hebat berkekuatan 8,9SR menghantam Jepang. Dengan tsunami lebih tinggi yang diperkirakan berketinggian sekitar 10 meter, bagian utara Jepang luluh lantak. Sendai jadi tempat yang paling parah dihantam bencana itu. Aku langsung mencari-cari kabar tentang beberapa teman yang ada di sana. 
Alhamdulillah, beberapa teman yang kukontak melalui dinding situs jejaring sosial ternyata menyambut dan menanggapi pertanyaan yang kuketikkan di dinding facebook mereka. Rata-rata mengabari bahwa kondisi mereka baik-baik saja. Berhasil mengungsi walaupun aliran listrik sempat mati. Begitu juga dengan satu-dua orang teman maya yang kujumpai di blog mereka. Tanya, seorang blogger teman mayaku bahkan masih juga menulis secara reguler (untungnya listrik dan koneksi internet tidak terputus di tempatnya), dan puluhan komentar masuk di blognya, menyuarakan dukungan dan doa.
pic: courtesy of dw-world---Republika.co.id
Hari Sabtu, hampir seharian aku memantau berita dari televisi dan internet, mencari tahu perkembangan terbaru dari Jepang. Berita yang dilansir suratkabar Republika online menyebutkan bahwa korban jiwa sudah mencapai angka 1000 orang, dan kelihatannya masih akan terus bertambah, mengingat masih banyak korban yang berada di reruntuhan dan puing bangunan yang terkena dampak gempa dan tsunami.
Satu kabar lain yang membuat prihatin dan khawatir, adalah ancaman meledaknya reaktor nuklir di wilayah Fukushima. Salah satu reaktor pendinginnya rusak akibat gempa. Penduduk di radius 10 km dari lokasi sudah dihimbau untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih jauh untuk menghindari ancaman radiasi nuklir. Berita yang kudapat dari berbagai media -salah satunya detiknews- menyatakan bahwa reaktor nuklir itu telah meledak. Berita terkait itu bisa kudapat dengan mengakses internet. Membuat khawatir, tentunya.
Yang jelas, doaku dan doa kami semua, semoga Jepang segera pulih dari derita bencana besar ini. Semoga teman-teman dan keluarga di sana baik-baik saja, dan dapat berkumpul kembali bersama keluarga dalam kondisi terbaik. Amiin.

Senin, 01 November 2010

Indonesia Berduka

Indonesia berduka. Begitu banyak bencana melanda negeri.  Surat kabar, radio dan televisi menjadikan bencana di berbagai tempat di Indonesia ini menjadi berita utama.
Beberapa waktu lalu, terdengar kabar adanya banjir bandang di Wasior. Beberapa desa tersapu air bah. Banyak warga berduka di Papua sana. Sementara kita hanya mendengar berita tentangnya dan merasa iba.
Picture: courtesy of www.telegraph.co.uk
Akhir Oktober. Terdengar kabar adanya gempa berkekuatan 7,2 SR di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. BMKG menyebutkan bahwa gempa itu berpotensi tsunami. Mungkin karena letaknya yang agak berada di tepian barat, berita mengenai tsunami di kepulauan Mentawai ini terlambat sampai ke pusat (Jakarta). Gelombang air laut hingga setinggi 10 meter yang menyapu kawasan Mentawai itu meluluhlantakkan beberapa desa sekaligus. Musnah. Keluarga tercerai berai. Ratusan orang meninggal, sementara ratusan lainnya hilang dan masih dalam pencarian.
Di hari yang sama, Gunung Merapi dalam status awas. Tanda-tanda aktivitasnya sudah terdeteksi oleh para pengamat gunung api. Penduduk di kawasan Merapi dihimbau untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi pun dihimbau untuk meninggalkan rumahnya yang berada dalam radius 5 km-an dari puncak Merapi. Beliau tetap menolak, hingga tersapu awan panas yang meluncur kencang menuruni lereng Merapi. Wafat, oleh Merapi yang dijaganya. 
Kami peduli. Aku banyak bercerita pada murid-muridku. Walaupun mereka baru kelas 2 SD, mereka bisa lho diajak peduli. Aku minta mereka menaruh simpati dan empati pada para korban yang sekarang tinggal sengsara di pengungsian. Tidur tak nyaman, makanan nyaris tak ada. Jadi kuminta murid-muridku untuk bersyukur dengan apa yang ada. Mensyukuri makanan yang mereka punya. Tidak mengeluh dan berusaha menghabiskan hidangan yang tersedia (minimal pada saat makan siang, ketika mereka berada dalam pengawasanku, di bawah tanggung jawabku).
Selain itu, mereka juga kuminta untuk mengerem kebiasaan jajan dan belanja banyak makanan kecil (tak berguna dan nyaris tak bergizi). Tabung uangnya, untuk disumbangkan kepada korban gempa dan tsunami. Sedikit pun berarti. 
Di sesi pelajaranku, Kesenian, kuminta mereka untuk membuat gambar tentang para pengungsi. Akan kukirimkan untuk teman-teman, saudara-saudara mereka di pengungsian. Kami peduli.
Dan yang terakhir, tentu saja kami kirimkan doa untuk mereka, semoga tabah, sabar, diberi kekuatan untuk menjalani. Semoga bantuan dapat segera sampai kepada mereka dengan utuh dan selamat. Kami akan upayakan apa yang kami bisa, untuk bantu kalian, saudaraku. Karena kalian... adalah juga Indonesia. Kami berduka untuk kalian.

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...