Staedtler, Pensil Terbaik Untuk Anak

Posted on 10.23

Beberapa tahun ‘ditanam’ sebagai guru kelas satu SD, pastinya beragam hal kualami. Berbagai pengalaman di keseharian anak-anak, seringkali lucu-lucu hingga bikin haru, semua ada jadi satu. Salah satu yang jadi kisah klasik adalah pengalaman yang terkait dengan pensil. Selalu ada cerita tentang itu.
Ada masanya anak-anak sering kehilangan pensil, tapi tak bisa mengenali kembali pensil mereka sendiri. Tanpa identitas pada pensil mereka, nyaris tidak mungkin menemukan pemiliknya. Alhasil, pensil-pensil tak bertuan menumpuk di kelas. Kukumpulkan batang demi batang, sebagai persediaan jika sewaktu-waktu ada anak yang memerlukan. Tak jarang aku bertanya, siapa pemilik pensil ini atau itu. Tapi jawaban mereka senada, “Tidak tahu.”, begitu default-nya. Dengan ringan mereka mengatakan, “Biar saja. Kalau hilang, nanti bunda beli lagi.” :( Begitu mudahnya mereka berkata, tanpa tahu tanggung jawab yang seharusnya mereka miliki.
Di tahun berikutnya, kejadian serupa masih terulang. Banyak pensil hilang tak tentu rimbanya, tapi kali ini tak ditemukan jejaknya. Jadi ketika anak mengatakan bahwa pensilnya hilang, ya... memang hilang. Phew... mungkin ada semacam segitiga bermuda di kelas, sehingga pensil, bersama penghapus, rautan dan sebangsanya bisa lenyap begitu saja.
Dan tahun ini, tak kalah ‘lucunya’, masih tentang pensil. Anak-anak di kelas suka sekali mengetuk-ngetuk pensil ke meja hingga lead atau mata pensil di bagian dalam sudah patah sebelum diraut. Padahal lead pensil ini adalah bagian terpenting dari sebuah pensil. Apa jadinya jika mata pensil patah berulang-ulang? Tentu proses menulis atau menggambar yang jadi sarana pengembangan kreativitas anak jadi terhambat. 
FYI, batang lead atau mata pensil ini merupakan campuran dari materi tanah liat/clay dengan sejenis batuan bernama grafit, tapi singkatnya kita sebut grafit sajalah ya. Komposisi tanah liat dan grafit ini dikombinasikan secara berbeda untuk membentuk kekerasan yang berbeda dari beragam jenis pensil seperti yang kita kenal sekarang, mulai dari yang paling keras yaitu 2H, H, HB, B, 2B dan seterusnya hingga yang paling lunak yaitu 6B. Di masa kuliah dulu, sebagai mahasiswa Seni Rupa, aku cukup familiar dengan ragam jenis pensil ini untuk membentuk beragam efek dan gaya gambar. Isi kotak pensilku rata-rata pensil staedtler Mars Lumograph yang beragam jenisnya. Sebagai mahasiswa yang biasa-biasa saja, rasanya sudah gaya banget deh kalau punya satu set pensil biru itu. Memang di masa itu Staedtler dirasa sebagai pensil terbaik untuk menggambar. Sampai sekarang sih, rasanya ;)
Saat ini, aku nyaman menggunakan pensil 2B. Memang campuran paling ideal ada di batang pensil 2B yang pas kerasnya dengan goresan hitam yang bersahabat di kertas tapi masih cukup mudah untuk dihapus. Recommended deh untuk dipakai anak-anak early elementary yang baru mulai ‘berkenalan’ dengan pensil di masa awal sekolah mereka. Tentu saja, di masa akhir SD saat mereka menjalani ujian pun, pensil 2B tetap jadi partner ideal bagi mereka. Staedtler ini jaminan pensil terbaik untuk anak sepanjang masa deh...
Satu rekomendasi pensil terbaik untuk anak adalah pensil dengan bentuk segitiga, yang disediakan Staedtler. Produk baru andalannya adalah Staedtler Noris Triangular. Pensil ini berbentuk segitiga yang sangat pas digenggam sehingga tangan tidak mudah lelah saat menggunakannya. Terdiri dari enam pilihan warna yaitu biru, pink, hijau, kuning, putih, dan abu-abu, ini bisa jadi pilihan pas untuk masing-masing karakter murid-muridku di kelas satu. Paduan warna pilihan plus label nama akan menjadikan pensil ini punya ‘kepribadian’ unik. Anak-anak nggak akan mau kehilangan dan pastinya akan mereka jaga baik-baik. 
Pensil berbentuk segitiga semacam Staedtler Noris ini memang dianjurkan untuk anak yang baru belajar menulis. Bentuk segitiga merupakan bentuk yang ergonomis sehingga mudah digenggam atau tepatnya digunakan untuk menulis atau menggambar. Ukurannya pas dan nyaman di jari tangan sehingga mereka tidak mudah lelah saat menggunakannya. Selain itu, pensil Noris ini sudah bersertifikat FSC 100% wood, tanpa bahan tambahan sehingga aman untuk anak. Salah satu pensil terbaik untuk anak, ya pensil Noris Triangular ini.
Selain itu, pensil Staedtler Noris juga memiliki karakter di setiap warnanya, lucu-lucu dan pasti disukai anak-anak. Ayo, miliki salah satunya, segera! ;)
Ragam Karakter Pensil Staedtler Noris Triangular
Tidak jauh berbeda dengan pensil grafit, ‘nasib’ pensil warna pun tak jauh berbeda. Sebagian orang tua murid membekali anak-anaknya dengan pensil warna, mungkin dengan pertimbangan supaya bersih dan tidak mudah patah seperti halnya crayon. Sebetulnya, menurut pendapatku sebagai guru kesenian, crayon lebih pas untuk anak SD kelas kecil karena cepat menutup permukaan dan mudah dibaurkan untuk mencampur warna. Tapi salah satu produk Staedtler adalah pensil warna bagus yang tersedia dalam kemasan 12, 24 hingga 48 warna. Kelebihan pensil warna ini punya mata pensil yang lembut tapi warna yang cukup kuat. Plus-nya lagi, pensil warna Luna ini bisa dibaurkan dengan air untuk menghasilkan efek cat air. Wah... anak-anak senang sekali bereksplorasi dengan pensil warna ini. Mereka senang menggunakannya, dan di saat yang sama sekaligus mengasah kreativitas anak. Ini jadi salah satu produk rekomendasi untuk pensil warna bagus
Ragam pensil warna Staedtler Luna
Eh seriusan, bukan cuma anak-anak, aku juga mau banget punya pensil warna Luna ini. Setelah coba-coba menggunakan pensil warna anak-anak yang tercecer dan tak beridentitas, tampaknya aku harus punya sendiri deh, buat modal mengajar dong. Masa pengen pensil warna bagus tapi modalnya jadi pemulung doang. Aku akan contohkan, pensil pun kuberi nama satu-satu, supaya tidak tercecer dan dipulung orang :p

Tutorial Origami Kotak Segi Empat

Posted on 15.10

Membuat karya origami itu menyenangkan sekali. Kepuasan ketika berhasil menyelesaikan sebuah bentuk dengan sukses itu, whoaa... tak terkatakan. Tahun lalu, saya menugaskan pembuatan kotak segi tiga untuk murid-murid di kelas 6. Origami ini cukup njelimet untuk dibuat. Anak-anak kelas 6 tahun ini pun sudah belajar membuatnya. Setelah itu selesai, dilanjut dengan membuat kotak segi empat. Membuatnya bisa cepat kok. Tahap-tahap pembuatannya pun lebih sederhana dibandingkan dengan cara pembuatan kotak segi tiga. Buktikan sendiri yuk, lihat langkah-langkah pembuatannya di video di bawah ini.
Tutorial langkah-langkah pembuatannya, sudah tersedia di beberapa laman website di jagad maya sebetulnya, tapi ternyata saya sendiri masih agak pusing mencari tips dan trik paling sip untuk menyelesaikan kotak origami ini. Bertolak dari itu, saya beranikan diri untuk membuat tutorial cara pembuatan kotak segi empat ini. Di video berikut ini yaa.

Video ini memberi gambaran, bahwa sebuah karya, kotak segi empat hasil melipat-lipat kertas itu tidak serta merta terwujud dalam sekejap mata, tapi bisa cukup cepat dibuat jika mau memperhatikan secara cermat. Membuat video tutorial ini juga tidak sederhana walaupun tidak runit-rumit amat juga... . Kembali, video 'mission is possible' ini dibuat untuk ikut berpartisipasi di lomba vlog yang digelar Emak Gaoel.
Setelah berkutat dengan MovieMaker dan tidak kunjung sukses, saya pun melirik dunia maya, mencari-cari aplikasi movie maker online atau video maker gratisan. Ehehee... Ketemulah WeVideo ini yang langsung saya jajal untuk mengeksekusi video tutorial ini. Kali ini cara pembuatan tutup kotak segi empat.
Masih mengandalkan foto-foto hasil bidikan kamera dari posel cerdas saya yang standar saja adanya, bukan handphone canggih sekelas Smartfren Andromax, saya ambil belasan gambar di lantai ruang kelas setelah murid-murid pulang sekolah. Setelah itu, saya mengeditnya sedikit di Microsoft Office Picture Manager hingga foto-foto itu siap diunggah ke WeVideo. Menambahkan sedikit teks, menambahkan judul dan musik (bisa pilih-pilih sendiri di web tersebut), lalu sambungkan dengan account YouTube yang saya miliki Setelah itu, voila... tak berapa lama kemudian video tutorial ini sudah ikut nampang di jagad maya. Tapi yaa... namanya juga aplikasi gratisan, kualitasnya ya sekedarnya saja deh. Teks yang saya sertakan dalam video itu jadi tampak buram. Maaf maaf yaa, jika jadinya kurang jelas. :(
Untuk yang sudah melihat video tutorialnya, selamat berkarya membuat kotak segi empat ini ya. Jangan ragu untuk berkreasi dengan kertas berbagai warna dan motif. Kreasikan kertas polos dengan corak, atau polos dengan warna-warni serba seru. Mari berkarya lagiii...

Beasiswa Al Irsyad Satya 2016

Posted on 07.53

Tahun ini, Al Irsyad Satya kembali membuka peluang untuk bersekolah dengan beasiswa penuh untuk penerimaan siswa di tahun akademik 2016-2017. Syarat dan ketentuan bisa disimak di poster berikut ini. Silakan juga tanya langsung ke admin sekolah kami untuk mendapatkan penjelasan lebih terperinci.
Kesempatan ini terbuka untuk siswa kelas 6 yang akan masuk Secondary 1 di tahun ajaran depan, atau siswa kelas 3 SMP yang akan masuk Junior College. Untuk mempelajari tahapan sekolah dan ragam ketentuan lainnya, silakan kunjungi website resmi sekolah kami, alirsyadsatya.sch.id

Ramadhan Kali Ini...

Posted on 00.04

Sebagai guru di kelas kecil Sekolah Dasar, menjadi sangat penting untuk menjadi seorang motivator dan role model yang baik untuk murid-murid saya, dan sangat saya sadari bahwa itu bukan tugas yang ringan. Tahun ini, saya ditugaskan untuk menjadi guru kelas 1 SD (lagi). Menyenangkan sekali bertemu dengan anak-anak baru setiap tahunnya. Anak-anak yang manis, tentunya. Beberapa dari mereka sangat energik dan karenanya tak bisa diam, sementara beberapa anak yang lain pintar, rajin, patuh dan cerdas. Mereka senang mendengar cerita sebelum kita melaksanakan shalat dzuhur di kelas dan itu adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan banyak hal yang baik sebagai contoh dalam hidup. 
Selain belajar sabar saat mendengar cerita, mereka pun bisa menyerap hikmah dari kisah yang mereka simak, belajar dari itu dan terinspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik. Demikian pula dengan saya sendiri. Belajar dari KSGN, tak tertampung rasanya ilmu yang saya dapat di situ. Tak segan-segan saya ajak teman-teman lain untuk juga ikut bergabung di KSGN agar juga bisa mendapatkan manfaat untuk meng-upgrade diri.  Insya Allah. 
Dan setelah setahun masa belajar di kelas 1, datanglah saatnya libur panjang yang bertepatan dengan Ramadhan. Selain menyemangati diri sendiri, saya pun mendorong murid-murid saya untuk berpuasa. Sebelum Ramadhan, saya menanyakan apakah mereka ingin melakukan puasa penuh selama bulan Ramadhan atau tidak. Beberapa dari mereka sangat bersemangat untuk melakukannya dan menanti-nanti momen Ramadhan. Mereka ingin dan masih perlu pujian, pengakuan terhadap prestasi puasa mereka. Beberapa dari mereka tidak terlalu bersemangat, bahkan meragukan diri mereka sendiri, apakah mereka mampu melakukan puasa sepanjang hari atau tidak. Walaupun begitu, saya tetap memotivasi mereka untuk melakukan puasa, setidaknya sampai pukul 13 ketika mereka berada di sekolah, dan kalau mampu usahakan sampai maghrib. Suatu saat kelak, mereka akan bangga bahwa mereka sudah bisa konsisten berpuasa seharian di bulan Ramadhan, meskipun harus sangat sulit dan menantang saat mereka masih kecil. 
Aktivitas Keseharian
Selama 2 pekan, ada program semacam pesantren Ramadhan di sekolah. Cukup banyak anak-anak yang berpartisipasi di kegiatan itu. Hebaat. Tahun ini tak ada anak yang membawa bekal ke sekolah, jadi memang tak ada alasan untuk membatalkan puasa saat di sekolah. Semoga lanjut sampai maghrib yaa, anak-anak. 
Beragam kegiatan saat sanlat, dipandu guru-guru yang luang (well... dalam waktu yang bersamaan, ternyata cukup banyak juga guru yang dijadwalkan untuk mengikuti training ini dan itu). Tapi walaupun tidak semua guru bisa ikut berpartisipasi di rangkaian kegiatan ini, tentunya tetap seru. Sesain sesi 'ceramah' yang dikemas dalam bentuk cerita dan kisah berhikmah, suntikan motivasi mengenai fungsi puasa, simulasi ragam jenis shalat sunnah hingga shalat Eid, digelar juga beragam lomba. Lomba tahfizh, lomba membuat poster Ramadhan, membuat kartu lebaran, hingga lomba membuat parcel yang akan didonasikan kepada anak yatim, dan diakhiri dengan bakti sosial untuk karyawan harian yang bekerja di lingkungan sekolah dan sekitarnya. Ini seruuu. Bisa jadi bahan untuk menulis blog posting beberapa seri nih. Buat guru KSGN seperti saya, kegiatan non-rutin begini jadi inspirasi banget untuk menyalurkan hasrat menulis. 
Setelah dua pekan beraktivitas di sekolah, liburan panjang menyambut anak-anak kembali di rumah. Manfaatkan waktu seoptimal mungkin. Setelah subuh, ketika anak tidak pergi ke sekolah, siapkan beragam kegiatan untuk mengisi waktu. Beri contoh kepada mereka bahwa kita, orang tua, juga berkegiatan, tidak hanya kembali tidur setelah shalat subuh. Jika membantu orang tua melakukan kegiatan bersih-bersih rumah terlalu melelahkan untuk anak-anak, sediakan buku-buku yang menarik untuk mereka sehingga mereka dapat membaca cerita berkualitas untuk memulai hari. Tentu akan lebih baik lagi jika membiasakan membaca quran bersama-sama dengan seluruh anggota keluarga. Ketika saya masih kecil dulu, tak jarang waktu setelah sahur saya lewatkan dengan bermain congklak atau board game semacam monopoli, ludo, halma, dan sebagainya. Itu menyenangkan dan tidak melelahkan sama sekali. Dekat dengan maghrib, saya banyak membaca, bermain game lain, atau menonton TV. Ya ... ya ... saya tahu kadang-kadang stasiun TV tidak memberikan program televisi yang berkualitas untuk anak-anak, sungguh sayang sebetulnya... Ketika anak-anak dapat melakukan aktivitas secara mandiri, saat itulah kesempatan bagi guru untuk membali ngeblog. Sebagai member KSGN, saya ingin juga dong ikut eksis, ngeblog lagi...! Tapi jangan sampai lupa juga aktivitas menyiapkan hidangan untuk berbuka puasa.
Yuk Buka Puasa bersama
Maghrib adalah saat ketika anak-anak sangat bersemangat menunggu saat berbuka tiba. Mereka (seperti yang saya lakukan dulu, ketika saya masih anak-anak) ingin mempersiapkan banyak hidangan manis untuk berbuka puasa. Buah aneka jenis dalam sirup manis yang dingin bisa menjadi favorit mereka. Tentunya sangat menyegarkan untuk berbuka puasa dengan fruit mix atau sop buah ini. Yumm.... Selain itu, kolak, hidangan khas Indonesia, tak kalah baiknya sebagai hidangan pembuka setelah berpuasa seharian. Pisang atau ubi jalar yang dimasak dalam kuah manis karena gula merah dengan tambahan sedikit santan, yumm ... hangat atau dingin, ini pasti nikmat sekali. Menunggu maghrib, akan menjadi momen menyenangkan ketika anak berkumpul bersama dan bermain-main sehingga mereka akan melupakan rasa lapar mereka. Kesenangan lain untuk anak-anak adalah ketika mereka memiliki kesempatan untuk membantu orang tua mereka untuk mempersiapkan hidangan untuk ifthar/saat berbuka puasa. Biarkan mereka menyiapkan hidangan, memberi kesempatan pada mereka untuk berguna untuk yang lainnya. Melalui kegiatan ini, mereka belajar untuk berbagi dan berempati. Apa pahala besar yang bisa kita dapatkan dari kegiatan ini.
Sementara itu, guru-guru dalam Komunitas Sejuta Guru Ngeblog (KSGN) akan kembali 'mengejar setoran' tulisan. Bersegera menulis blog posting lagi sambil menunggu adzan maghrib berkumandang. Peras otak agar dalam waktu singkat bisa merangkai kata-kata bermakna, tidak sekedar memenuhi target tenggat tulisan, tapi dengan harapan bisa menabur hikmah melalui buah pikiran.
Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari yang sebelumnya. Semoga Allah menyirami kita dengan berkah-Nya sepanjang bulan suci dan dibersihkan untuk merangkul Syawal, berkenan mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan mendatang untuk mendapatkan keindahan dan beragam hal baik yang bisa kita dapatkan selama bulan berkah. Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepada kita semua. Amiin.

Lagu Untuk Guru Sejatiku

Posted on 14.03

Lagu ini sudah lama berada dalam memory card. Setelah proses merekam yang seadanya, yang hanya di depan MP3 saja, rasanya belum PD untuk merilis lagu ini ke khalayak (jyaaah...). Ingin sekali merekamnya ulang secara lebih serius. Sudah minta bantuan teman, tapi rupanya belum berjodoh saja. Akhirnya nekat juga. Aku tekadkan, lagu ini harus rilis di akhir tahun pelajaran ini!!!
Mulai dari mengkonversinya dari file wav ke MP3. Setelah itu mulai menyortir foto-foto untuk disisipkan ke dalam rangkaian koleksi foto dalam program MovieMaker. Eh... ternyata aku harus kembali mengunduh MovieMaker ke komputerku yang tempo hari sempat diinstall ulang. Baiklah...
Tak pakai berlama-lama, setelah MovieMaker kembali ter-install di komputerku, segera kumasukkan rangkaian foto-foto koleksiku yang berasal dari kumpulan foto anak-anak P1 Damascus dan P1 Baghdad yang lalu. Beberapa di antaranya foto narsisku juga siih :p Mengeditnya sedikitTak perlu waktu lama untuk memasukkan beberapa foto lalu mengubah-suai sususan foto agar terasa agak nyambunglah dengan lirik lagu, dan memastikan bahwa jumlah foto yang diunggah akan tayang pas dengan panjang lagu yang menyertainya. Tak pakai customize editing, segera kuselesaikan project video MovieMaker ini.
Setelah selesai dengan menyelesaikan video dalam program MovieMaker, file ini harus melewati proses converting files ke MP4 dari wlmp (file moviemaker). Aku gunakan salah satu fasilitas file converting online. Setelah itu, hanya tinggal mengunggahnya ke youtube. Dan inilah hasilnya...
Lagu ini berirama gembira yang menggambarkan semangat yang ditebarkan oleh guru-guru di sekitarku. Beberapa guru di sekolah dasar dan sekolah lanjutan dulu sangat menginspirasiku. Selain ibuku, mereka juga yang jadi inspirasi bagiku untuk menjadi guru. Tapi selain guru-guru di kelas, setelah aku sendiri menjadi guru justru kutemukan bahwa murid-murid kecilku pun bisa mengajari aku banyak hal. Sungguh, mereka semua adalah guru sejatiku, seperti apa yang disampaikan lagu ini. Lagu ini untuk kalian, semua, guru-guru sejatiku. 

Lebah Warna-warni Kami

Posted on 08.46

Beberapa waktu lalu, anak-anak berkarya dengan menggunakan lilin atau playdough. Perjuangan ekstra nih, ya persiapannya, ya eksekusinya. Ketika anak-anak suka, hadeuh... susah banget disuruh berhenti. Dimulai dengan latihan membuat bentuk dasar berupa bola dan tetesan air. Setelah bisa membuat bentuk dasar, mereka akan bisa membuat apa saja. Insya Allah.
Bahan dasar untuk project craft kali ini adalah lilin atau plastisin atau playdough. Sekolah menyediakan lilin, tapi dengan kualitas yang ala kadarnya. Kandungan minyaknya relatif tinggi, sehingga cukup sulit membersihkan tangan setelah berkreasi dengan lilin ini. Lilin yang kami siapkan dari sekolah adalah lilin yang sudah cukup kecil, sesuai dengan porsi yang diperlukan untuk anak-anak. Yang mau bawa sendiri dari rumah, tentu dipersilakan. Yang mau pakai lilin 'jatah' dari sekolah pun boleh. 
Saya siapkan koran untuk alas meja, supaya minyak lilin tak (terlalu) mengotori meja. Siap-siap juga, setelah selesai berkreasi, antrean cuci tangan bisa panjang sekali. Hihi... Kita mengerjakan projek karya seni 3 dimensi ini di kelas. Bentuk dasar yang harus mereka kuasai adalah membuat bentuk bola, tetesan air, 'cacing', hingga daun. Pertama-tama mereka harus meremas-remas lilin malam menjadi 'adonan' yang homogen dan tidak lagi berbutir atau mudah terburai. Membuat bentuk bola dilakukan dengan memutar 'adonan' di antara kedua telapak tangan. Setelah bola, dilanjutkan dengan membuat bentuk tetesan air. Kali ini, satu sisi bola dibuat pipih dengan menggunakan tepian telapak tangan. Boleh juga menggunakan ujung jari untuk membentuk kerucut kecil di puncak 'tetesan'. Beberapa anak mulai merasa kesulitan saat membuat bentuk ini. 
Selanjutnya adalah bentuk 'cacing' yang bisa didapat dengan proses memilin atau menggiling lilin dengan telapak tangan di atas meja sebagai alasnya. Ini pun ternyata cukup sulit dilakukan oleh anak-anak kelas 1. Bentuk 'cacing' seringkali tak sukses terbentuk, putus-putus, atau suka-suka anak saja mereka buat dengan ukuran 'jumbo'. Hmm... Dan yang terakhir adalah bentuk daun yang pipih, didapat dengan menipiskan bola di telapak tangan. Tak jarang anak-anak membuat bentuk ini dengan ekstra tipis. Dan dalam keseluruhan proses, banyak sekali anak yang minta dibantu. Dengan demikian, saya tak sempat mengambil gambar saat proses pembelajaran berlangsung. Beberapa foto baru saya ambil setelah anak-anak selesai berkarya. Ini dia beberapa hasil karya mereka.

Doa Untuk Ayah dan Ibu

Posted on 18.13

Dua pekan ini, mengajarkan lagu 'Doa Untuk Ayah dan Ibu' kepada murid-muridku, anak-anak kelas 1. Lagunya mudah, hanya dalam 15 menit, mereka sudah hapal melodinya. 15 menit berikutnya pun digunakan untuk berlatih, mengulang-ulang liriknya. Beberapa anak sudah langsung hapal dalam satu pertemuan. Langsung menantang battle menyanyi tanpa melirik teks-nya. Gayya ya? ;)

Pekan berikutnya, masih mengingat-ingat lagu yang diajarkan sebelumnya, dilanjut dengan mengajarkan melipat origami sederhana, yaitu sebuah amplop mungil dari kertas origami bercorak. Umm... mengajarinya cukup melelahkan, ternyata, karena tidak setiap anak terbiasa dengan aktivitas lipat melipat kertas. Banyak yang mudah menyerah dan minta dibantu begitu saja. Ah... anak-anak jaman sekarang ya. Tapi sebetulnya mereka antusias sekali, terutama karena corak yang menarik dari kertas origami yang kusiapkan untuk mereka. Selain itu, kuminta mereka menyiapkan surat cinta untuk orang tuanya yang nanti akan disisipkan ke dalam amplop tersebut. 
pic: courtesy of www.ohcrafts.net
Kusiapkan lembar kerja sederhana. Di bagian kiri kusiapkan teks lagu itu, sedangkan di bagian kanan ada area untuk menulis 'surat cinta'. Anak kelas 1 itu... ternyata banyak juga yang isi suratnya mengharu-biru. Aku yang 'hanya' gurunya saja, yang ikut bantu mengedit kata (misalnya ada huruf yang kurang), hampir berurai air mata juga membaca ungkapan hati mereka. Bunda-bunda... siap-siap dengan tissue dan pelukan hangat ya untuk putra-putri tercinta.
Mengingat pengalaman berurai air mata di kelas sebelah ketika mengajarkan lagu basmalah, kali ini aku mewanti-wanti anak-anak itu agar tidak menangis. Seorang anak yang saat ini tinggal bersama kakek-neneknya, terpisah dari ayah-bundanya, terlihat berkali-kali menahan haru. Tak kuat menahan perasaannya, dia bertanya, "Miss, kalau nangisnya nanti di rumah, boleh?" Oh... tentu saja boleh, nak. (T T)