Twinkle Twinkle Little Stars

Posted on 22.59

Aku menyiapkan program menyanyi untuk anak-anak kelas dua. Mereka punya potensi bagus dalam menyanyi.  Kepekaan nada mereka rata-rata bagus. Kecakapan mereka untuk menyanyikan kembali lagu yang diajarkan, hingga membawakannya dengan gerakan yang sesuai, membuatku bangga melihatnya. Aku yakin, sebetulnya orang tua murid pun akan senang melihat putra/putri mereka tampil dengan percaya diri di atas panggung. Hmm... kapan ya saat yang tepat untuk itu...?
Anyway, lagu yang kuajarkan untuk mereka saat ini, aslinya adalah sebuah lagu anak entah gubahan siapa, juga entah judulnya apa. Sudah googling hingga menelusuri wikipedia, lagu Kerlip Bintang ini (apa betul judulnya begitu? :p) tak juga kutemukan sumbernya. Tapi ya sudahlah, lagu ini lalu kuterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dengan meminta beberapa guru bahasa Inggris untuk mengedit/mengoreksinya.

Twinkle twinkle little stars, up above the sky
Twinkle twinkle little stars, how pretty you are
Twinkle twinkle little stars, you are everywhere
Twinkle twinkle little stars, like diamonds in the sky

Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring
Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring

pic: courtesy of www.silvergemstonerings.co.uk
Ketika aku mulai menuliskannya di whiteboard, beberapa anak mulai menyanyikannya dengan nada lagu Twinkle Little Stars yang sudah mereka kenal sebelumnya. Tapi membaca rangkaian kata berikutnya, mereka pun tertegun. Eh??? kok nadanya tak cocok ya dengan jumlah birama pada lagu ini? Tapi tak lama kemudian, segera kucontohkan lagu itu untuk mereka ikuti.
Beberapa anak sangat cepat menghapal lagu ini. Dalam satu pertemuan saja, ada anak yang sudah hapal dan tak perlu lagi melihat teks (padahal aku sendiri beberapa kali mengintip lirik lagunya. Maklum... baru dikarang di hari itu juga :p) Ada yang tahu, apa judul lagu ini beserta pengarangnya? Apakah pak A.T. Machmud penciptanya? Jika ada yang tahu, silakan beri info. Pengarang lagu ini layak untuk diapresiasi. Ini dia lirik lagunya dalam bahasa Indonesia. 
Kerlap-kerlip bintang, di langit tinggi
Kerlap-kerlip bintang, indah sekali
Kerlap-kerlip bintang, di mana-mana
Kerlap-kerlip bintang, bagai permata

Ingin hatiku memetik bintang
Untuk kupasang di cincin ibu
Ingin hatiku memetik bintang
Untuk kupasang di cincin ibu

(Mantan) Muridku

Posted on 17.27

Pengalaman sekian tahun mengajar di Sekolah Dasar membawaku bertemu dengan beragam murid yang imut dan lucu. Tapi itu dulu. Sekarang, mereka-mereka itu, murid-muridku dulu, sudah bertransformasi jadi pemuda-pemudi gagah jelita, yang kiprah dan karyanya pun tak bisa dipandang sebelah mata. Sungguh bangga aku pada mereka.
Ijinkan aku menuliskan beberapa nama mereka, yang sebetulnya aku hanya sempat sebentar saja 'menyentuh' mereka dalam rentang pendidikan mereka. Berterima kasihlah pada ayah-bunda yang telah mendidik dan membimbing mereka sepanjang usia. Tentunya Allah akan mencatat ini sebagai amal shalih, jariah yang tak putus mengalir hingga hari akhir.
Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu Naufal, muridku yang dulu 'kupegang' saat dia menjalani masa kelas 4-nya. Dulu dia cengeng, nangisan. Dikit-dikit nangis. Kalah main ucing sumput aja nangis. Dia sendiri nggak habis pikir, kenapa dia bisa (pernah) secengeng itu :p Kali ini aku bertemu dia di event Science Night yang dilaksanakan di sekolah, dengan mengundang Naufal dan teman-temannya sebagai pengisi acara. Dia jadi salah satu pemandu kegiatan yang mumpuni. Sementara itu, adiknya pun sempat lolos seleksi ke luar negeri untuk mengikuti semacam program pertukaran pemuda atau seminar internasional. Seru, pastinya.
Seorang (mantan) muridku yang lain adalah Vivien. Sejak dulu, dia memang sudah punya karakter tegas, cerdas, dan sekarang berani terjun ke pedalaman untuk menjadi pengajar muda dalam program Indonesia Mengajar. Salut! Program yang digagas Anies Baswedan ini menuntut keberanian para pengajar muda untuk mengajar di pelosok Indonesia selama setahun, dengan resource yang begitu terbatas. Dulu, mana pernah kebayang 'anak kota' yang cenderung dimanjakan fasilitas itu akan jadi seperti sekarang ini. Sebelumnya, dia pun sukses merebut satu tempat untuk terbang ke Amerika sebagai peserta pertukaran pelajar melalui program AFS, juga mewakili ITB dalam kancah internasional lainnya. Dia aktif juga di berbagai kegiatan kemasyarakatan.
Eka. Seangkatan Vivien. Seorang Geolog yang 'berani' keluar dari zona nyaman dan menjajal kemampuan untuk berpartisipasi jadi pengajar sehari dalam program Kelas Inspirasi yang juga digagas Anies Baswedan. Kerjaan yang nggak ringan juga tuh. Menantang. Dan dia berani terima tantangan itu.
Ada juga Iqbal, Safir, Uphie, atau Chika. Semuanya masih dari angkatan yang sama. Dan semua malang melintang berkiprah di sana-sini, di belahan bumi yang lain, meninggalkan jejak positif dalam sejarah hidup mereka. Semoga bermanfaat. Sungguh, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk orang lain. 
Masih banyak lagi deretan anak-anak luar biasa, yang dulu dipandang sebelah mata bahkan oleh teman-temannya sendiri, tapi mereka berhasil mematahkan stigma itu, maju terus, berusaha, berkarya, dan berhasil membuktikan diri bahwa mereka bisa. Anak-anak itu, yang kini banyak kuliah di perguruan tinggi negeri ternama atau bahkan luar negeri, dengan ataupun tanpa beasiswa, kudengar mereka aktif di himpunan mahasiswa bahkan memegang tampuk pimpinan di lembaga kemahasiswaan, ah... sungguh aku bangga pada mereka.
Dan yang termuda, Kayla. Masih SMP kelas 1, dia. Ketika tempo hari kejadian banjir Jakarta, dia dan mamanya berinisiatif untuk menggalang dana untuk menyumbang nasi bungkus untuk korban banjir di sana. Rangkaian telefon atau pesan singkat dia kirimkan untuk mengetuk hati siapapun yang pernah bersentuhan dengan hidupnya, hingga ikut merogoh kocek untuk menyumbang. Semoga makin banyak juga kiprah positifnya di masa depan, yang juga diikuti oleh yang lainnya.
Dan ketika kulihat anak-anak di kelasku, di sekolah saat ini, kuyakin mereka pun menyimpan potensi yang tak kalah besar. Tak sabar rasanya menanti masa mereka bertumbuh dan berkembang dengan indah, jadi salah satu bunga bangsa yang luar biasa. Insya Allah. Aamiin.

Tim Security Sekolah Kami

Posted on 10.17

Tim Security sekolah kami sigap sekali. Terdiri dari (saat ini) belasan anggota G4S yang ramah tapi selalu siaga. Dikomandani oleh seorang yang matang pengalaman, Pak Iwan namanya. Beliau ini komandan tim Security di sekolah kami. Kepiawaiannya tidak hanya soal pengamanan lingkungan sekolah, tapi juga berbagai hal lainnya.
Bela diri? Beliau pasti bisa-lah. Urusan seni rupa, beliau pun mahir. Beberapa signage di lingkungan sekolah, beliau yang buat. Tanda ini dibuat dengan memanfaatkan tutup kaleng cat yang ditulisi sendiri oleh beliau. Terkadang, di waktu senggangnya pak Iwan yang ramah ini juga meraut potongan batang sapu yang patah untuk dibuat jadi miniatur binatang-binatang kecil. Karakter seperti Badak, Jerapah dan Dinosaurus pernah menjadi modelnya. Anak-anak suka dan minta. Ikhlas saja diberikannya. Hmm... bisa dipertimbangkan nih untuk inval guru kesenian ;)
Kepiawaian beliau dalam berkomunikasi pun sangat baik. Beliau tahu kapan harus tegas, baik kepada tamu maupun kepada orang tua murid maupun penjemput lainnya. Beliau hapal satu persatu. Anak ini siapa ayah dan ibunya, kakak atau adiknya, nanny atau sopir penjemputnya, apa mobilnya, di mana rumahnya. Aiih, sungguh luar biasa ya. Dan beliau pun menuntut hal serupa untuk anggota tim lainnya. 
Sementara itu, beliau pun tak segan untuk terus belajar. Kelas Bahasa Inggris untuk Security tak pernah absen diikutinya setiap Jumat malam. Bersama sebagian anggota Tim Security lainnya, beliau selalu bersemangat mengikuti setiap sesinya.
Anggota Security lainnya pun tak kalah hebat, hanya 'kalah' soal pengalaman saja. 
Sebagian anggota tim Security shift pagi dan malam bersama sang komandan.
Ada pak Angga yang jago karate dan pecinta kucing. Mendadak mellow dia kalau ketemu kucing imut. Satu lagi yang mendadak mellow adalah pak Anton. Yang biasa tegas ketika bertemu tamu mencurigakan, tapi langsung lumer ketika harus membujuk anak untuk pulang setelah dijemput orang tuanya. Ada pula pak Ari yang tegas tapi lembut tutur katanya. Selalu siap kapan saja. Sigap sekali.
Ada pula pak Sofyan yang tak kalah sigap. Siapa pun bisa ditaklukkannya. Menghadapi tamu, beliau bisa ramah. Dan saat Idul Qurban tiba, beliau pun sangat piawai menangani para kambing. Ikut ngangon. (Waduh... maaf, bukan menyamakan antara tamu dan... domba) ;)
Masih ada lagi pak Wawan yang nyaris tak pernah lepas dari senyuman. Bahkan saat bilang 'Siap!' sekalipun :p Ada juga pak Wahyu yang relatif baru bergabung dengan G4S, dengan 4 anggota baru lainnya yang disiagakan saat gedung baru SMA diresmikan, yaitu pak Ferdian, pak Andi, pak Yandi, dan pak Jajang. Selamat bertugas, bapak-bapak semuanya.