Selamat Hari Raya Idul Fitri

Posted on 07.27

Tahun ini rasanya waktu sangat berkejaran. Baru selesai dengan hajat pelepasan siswa TK B, kelas 6 dan 3 SMP, langsung berangkat ke Singapura untuk program internship -yang liputannya kutulis di sini, di sini, sini, dan sini-. Liburan hanya sekejap rasanya, kami sudah sibuk lagi dengan persiapan awal tahun ajaran baru dengan program FDoS (First Day of School), yang bahkan liputannya tak sempat kutuliskan di sini. Berlanjut dengan program Ramadhan dengan seabrek aktivitasnya, yang bersinggungan dengan keriaan perayaan HUT ke-66 Republik Indonesia kita ini. Agustus ini, yang bertepatan dengan Ramadhan 1432 H, kegiatan kita teramat padat.
Di sela aktivitas mengajar dan mengelola murid-muridku di kelas satu, kami semua berjuang, rasanya. Sungguh Allah tahu. Susah-senang, letih-lelah, terasa semua. Semoga jadi catatan ibadah bagi kami dan semua yang ikut menjalani. Hanya dua dari tiga kelas yang berhasil kubuatkan program membuat hartu ucapan selamat Idul Fitri, yang di kedua kelas tersebut anak-anak hanya punya waktu 2 jam pelajaran (=60 menit) untuk menyelesaikan kartu ucapan mereka. Ini termasuk dengan SoP masuk dan keluarnya guru (yang cukup makan waktu), mendengarkan penjelasanku tentang proyek kartu, dan eksekusi pengerjaannya. 
Contoh kartu yang kubuat sederhana saja, sebetulnya. Kuharapkan murid-muridku bisa mengembangkan ide kreatif mereka secara bebas. Anak-anak kelas 5 dan 6 rata-rata sudah punya skill yang diperlukan. Beberapa karya mereka luar biasa. Ini salah satunya. Proyek kartu ucapan dengan mengerat bagian muka dengan tampilan warna-warni atau gambar di bagian dalamnya. Qushoyy, murid kelas 6 yang baru bergabung dengan Al Irsyad Satya di tahun ini, mengerjakan kartunya dengan kesungguhan dan upaya terbaik. Hasilnya? Aku angkat jempol untuk dia. 
Keratan yang rapi untuk sebuah kaligrafi berlafadz Allah, berhasil dia selesaikan dalam satu pertemuan saja. Selamat Idul Fitri untuk semua. Mohon maafkan segala kesalahan lahir batin. Semoga Allah mempertemukan kita lagi di Syawal nanti, dengan kemurnian hati dan semangat fitri untuk belajar lagi, sekemapuan diri. Semoga Allah meridhoi. Amiin.

Buka Bersama Guru-guru Al Irsyad Satya

Posted on 19.02

Berawal dari ide acara buka bersama para lajangsters di Al Irsyad Satya, beberapa teman lain yang sudah menikah mau juga ikut berpartisipasi. Maka dibuatlah event liwet party di rumah salah seorang guru. Hayuu...!
Disepakatilah hari Selasa, 16 Agustus lalu sebagai waktunya. Sepulang sekolah, kami menuju ke lokasi, berangkat sendiri-sendiri. Siap bertemu di lokasi jelang maghrib. Menu disiapkan di dua rumah sekaligus, di rumah Tri dan Deden yang terletak tidak jauh dari rumah Tri. Untuk menu pembuka, tersedia es buah campur (campur agar-agar serut, campur lidah buaya, campur sirup, meriah deh.) Manis segar, sedap...!
Saat bapak-bapak pergi ke masjid untuk shalat maghrib, ibu-ibu shalat di rumah dilanjut dengan menyiapkan nasi liwet plus plus untuk santapan makan malam. Tapi Deden tinggal di tempat karena dia master chef-nya. Karena namanya liwet party, tidak perlu pakai piring untuk makan. Sebagai gantinya, dua lembar daun pisang yang lebar dihamparkan di atas karpet beralas koran untuk alas makan. Nasi dan lauk-pauknya disebar di atas daun pisang itu. Meriah...!
Saatnya makan, semua menyerbu dengan lahapnya. Aturannya: tidak boleh ada yang berhenti jika makanan belum habis. Hihi... kelihatannya tidak ada yang berniat untuk berhenti cepat-cepat. Tapi kalau untuk berpose, aktivitas makan boleh dong dihentikan sementara. Cheese...! Beberapa waktu kemudian, satu persatu mulai 'menyerah'. Alhamdulillah kenyang. Belum bisa cepat-cepat bangkit berdiri. Dilanjut dengan bincang-bincang ringan, saling bercanda, termasuk mengajak main si kecil Kirei, putri dari Tri dan Iman. Tepuk bebek! Ayo, salaman sama bebek...! Yang dituju pasti lajangster yang satu ini. Hihihi...
Belum mau beranjak dari sana, Deden mengeluarkan satu wadah berisi rujak cuka buatannya sendiri. Persiapan menghadapi istri yang ngidam, katanya (sok atuh, enggal-enggalan). By the way, nasi liwet pun dia yang menyiapkan lho. Hm... kelihatannya dia memang siap menikah. Sudah bisa masak ;) 
Rujak cuka pun 'dibahas' dengan cara yang tidak biasa, dengan game pendahuluan. 3 second game. Seru-seruan. Yang kalah, harus makan dua suap rujak cuka. Okay. Aturan disepakati. Aku sempat kalah juga, 2 atau tiga kali. Kurang cepat berpikir, akibatnya harus makan rujak cuka ekstra, lebih dari yang aku mau. Tapi hampir semua kebagian juga, sih... Game berakhir ketika rujak cuka hanya bersisa sedikit saja. 
Alhamdulillah. Lepas pukul delapan, kami pulang. Ketemu lagi di acara buka bersama berikutnya ya. Kapan? Di mana? Tunggu saja tanggal mainnya ;)

Belajar Puasa Yuk...!

Posted on 12.00

Pekan pertama di awal tahun pelajaran baru, diisi dengan kegiatan FDoS (First Day of School). Banyak hal mengenai berbagai pembiasaan kegiatan di sekolah, terutama untuk murid-murid kelas 1 yang ku-wali kelas-i (apa sih, bahasanya kok gini? :p). Selain itu aplikasi SoP baru di sekolah kami juga memerlukan konsistensi tak terputus saat mengaplikasikannya. Melelahkan, tapi mesti jadi awal yang baik untuk kami.
Ketika murid-murid baru saja mulai terbiasa dengan irama sekolah yang baru, ternyata irama sekolah harus berubah lagi. Kedatangan Ramadhan yang disambut dengan gembira, terasa agak tergesa datangnya ('masalahnya', panitia kegiatan Ramadhan harus segera merancang kegiatan dan budgeting, lalu mengajukannya kepada manajemen dalam rentang waktu yang sangat terbatas -mengingat kami baru lepas dari kegiatan penyerahan buku rapor akhir tahun, kunjungan internship ke Singapur, dilanjut dengan rangkaian kegiatan FDoS yang padat. Mega-megap, rasanya). Tapi walau bagaimanapun, Ramadhan tetap kita sambut dengan bahagia, kedatangan bulan mulia yang hanya terjadi sekali dalam setahunnya. :)
Murid-muridku di kelas 1 dan 2 kumotivasi agar ikut berpuasa, setidaknya ketika di sekolah, dalam rentang waktu pukul 7.30 hingga pukul 2 siang. OK. Sebagian besar dari mereka setuju. Baik. Mari kita nantikan komitmen mereka.
Hari-hari awal puasa, seorang anak menangis terus. Selidik punya selidik, dia hanya makan cereal dan susu saat sahur (atau sarapan?). Ketika di sekolah tidak ada kesempatan untuk makan, dia resah. Lapar, pastinya. Menangislah jadinya. Akhirnya kuizinkan dia untuk minum, larutan madu yang kubuatkan. Tapi setelah minum segelas pun, dia masih menangis saja. Akhirnya hari itu dia pulang lebih awal. Menyerah...
Sementara di kelas 2, seorang anak minta izin untuk makan siang usai shalat dzuhur. Bunda..., dia anak kelas dua...!!! Belajar puasa yuk. Jangan mau kalah dari anak kelas 1 dong, yang sudah ada beberapa yang tamat puasanya sampai maghrib. Kalau nggak malu sama anak yang lebih muda, ayo deh belajar nabung pahala sejak belia. Bikin Allah suka, dan makin sayang pada kita. Ayo bunda, ajarkan ananda untuk ikut puasa. Bismillah... insya Allah kuat, kok.