Ekskul Kali Ini

Posted on 23.10

Aku kembali membantu mengkoordinir unit ekstra kurikuler Art yang diselenggarakan sekolah kami bekerja sama dengan Bale Seni Barli. Tahun ini, beberapa kali kami jadwalkan anak-anak ke BSB untuk beraktivitas di sana. Pertimbangan ini dibuat dan diputuskan untuk memudahkan pengajar saat beraktivitas. Kadangkala, sesi ekskul Art ini memerlukan berbagai peralatan pendukung, dan di BSB yang memang pusat belajar seni di area Kota Baru Parahyangan -dan kebetulan cukup dekat dengan sekolah kami- berbagai sumber daya cukup tersedia. Tidak hanya crayon dan pensil warna, tentunya, tapi juga kapur, arang, cat dan kuas, kertas lipat, lilin, tanah liat, lukis kaca, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, prosesi antar-jemput anak-anak ini jadi agak 'merepotkan'. Partisipan ekskul Art tahun ini jumlahnya mencapai 30 orang, mulai dari anak kelas 1 yang jumlahnya belasan sampai dua orang anak kelas 5. Keberadaan kendaraan pengantar-jemput menjadi teramat penting. 
Setelah dismissal, aku segera bersiap berangkat ke Bale Seni Barli. Kendaraan tak selalu tersedia, mengingat satu kendaraan sekolah dimanfaatkan bersama oleh segenap warga sekolah. Kadang sedang ngantar/jemput pejabat ke bandara, kadang sedang dipakai belanja ke Cibadak atau area Bandung lainnya, mobil belum datang karena terjebak macet di Pasteur, atau mengantar tamu agung keliling Bandung. Pasrah deh kalau sudah begitu kejadiannya. Tak jarang aku pergi ke BSB dengan membawa anak-anak di mobil Katana yang kukemudikan sendiri. Pengennya sih, ikut naik kendaraan jemputan. Sekali-sekali jadi penumpang, enak juga kan...? ;)
Sampai di arena BSB, anak-anak masuk ruang kelas, lalu dipandu oleh pak Epi sang pengajar ekskul, mereka pun bersegera mengerjakan project demi project yang dicontohkan oleh pak Epi. Seru. Semua tampak antusias di setiap sesi kegiatannya. Beberapa project yang dikerjakan antara lain:
Foto bersama sambil menunggu kendaraan jemputan datang. Cheers!!!
Origami berwarna. Dengan lipatan sederhana yang bisa jadi kantong pensil atau nota kecil, bisa digantung di pintu kamar atau kulkas. Hari itu juga, anak-anak langsung membawa pulang hasil karya mereka. Semua senang dengan hasil karyanya. 
Pak Epi sedang memberi saran dan apresiasi atas karya salah satu anak.
Gambar hitam-putih. Sambil latihan menggunakan kuas sebagai persiapan project Art selanjutnya. Ayo, beranikan diri, jangan ragu-ragu untuk menggambar. Usahakan jangan sampai salah ya. Kalau salah mencoret garis, ayo pinter-pinter ngakalinnya jadi gambar.
The boys in action.
Lukis hewan. Awalnya anak-anak belajar menggambar sosok hewan tertentu. Dan project melukis hewan (kuda, keledai dan zebra) merupakan hal yang menantang untuk anak-anak. Mereka antusias di setiap sesinya. 3 pekan mereka menyelesaikan project lukis ini. Dan di pertengahan Desember nanti, insya Allah ada program melukis di Kebun Binatang Bandung bersama dengan anak-anak sanggar lukis BSB. Yuk, ikutan yuuk...!
Project lainnya? Ah, jangan dibocorkan di sini semua dong. Biasanya di akhir semester nanti hasil karya anak-anak ini dikembalikan kepada mereka, bersama dengan laporan perkembangan mereka selama mengikuti aktivitas ekskul selama satu semester.
Nah, usai mengerjakan project Art mereka, biasanya aku harus 'menggiring' mereka untuk shalat ashar sebelum kembali ke sekolah. Jam setengah lima sore, jika kendaraan penjemput sudah datang, mari kita pulang. Naik mobil jemputan, umpel-umpelan. Belasan bahkan 20-an anak harus masuk sekali angkut di kendaraan jemputan yang akan segera digunakan untuk mengantar pulang anak-anak sekolah ke rumahnya masing-masing. Ribet banget deh. Sisanya? Mari masuk Katana lagi, kuantar ke sekolah lagi.

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)

Posted on 13.28

Postingan sebelumnya tentang field trip sebetulnya sudah cukup panjang, tapi memang cerita field trip ke Tahura Juanda belum selesai. Ayo, kita lanjutkan dengan rangkaian kegiatan berikutnya.  
Seriusnya Udi, Langie dan Adam. Masih pegang LKS, mencari sampel daun.
Dalam perjalanan menyusuri beberapa titik poin pembelajaran (Recycle, Cooking Session, Biopori, Composting), kami pun melakukan penelitian kecil mengenai biodiversity. Tugas kami adalah mengamati ragam pohon yang ada di Tahura Juanda dan mengumpulkan sampel daunnya. Daun-daun dari pohon yang pendek tentu dengan mudah kami kumpulkan. Petik satu daunnya, masih bolehlah. Tapi untuk pohon yang tinggi? Tak mungkin kami memanjat batang pohonnya yang besar dan tinggi menjulang. Minimal, kita ketahui nama-nama pohonnya, bentuk daunnya, dan tak lupa untuk mensyukuri oksigen siang hari yang begitu segar, dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Anak-anak terlihat senang, tapi beberapa orang bolak-balik memohon, "Miss... boleh makan ya...?" Haduh... sebentar lagi ya, nak. Kita akan makan siang bersama. Segera setelah sampai di 'base camp'.
Usai pengamatan di pos Composting, hujan rintik-rintik mulai turun. Hwaduh, anak-anak sibuk mengeluarkan jas hujannya. Semua ingin pakai jas hujan lengkap. Kan sudah berbekal dari rumah ;) Hujannya tidak deras sih, hanya sekedar gerimis saja. Tapi ya... ayolah kita pakai jas hujan lengkap. Dan pasukan berjas hujan pun siap melanjutkan perjalanan kembali. Mari...!
Sampai di base camp, kita siap-siap makan siang dan shalat. Shalat dulu deh. Subhanallah... anak-anak shalih ini. Mereka -9 orang yang ada di kelompokku- shalat berjamaah dan dzikir bareng. Duh, anak-anak, semoga Allah ridho kepada kalian ya. 
Langie jadi imam, memandu shalat dan dzikir. Anak-anak perempuannya nggak kelihatan :p
Selesai shalat, kami pun siap makan. Menu makan siang yang disiapkan adalah nasi, perkedel tahu, rolade daging, sop sayuran dengan baso, kerupuk dan semangka iris. Yang lapar, makan dengan lahap dong, walaupun selalu ada anak yang bilang nggak suka ini-lah, nggak pengen itu-lah, sudah kenyang-lah, dan sebagainya. 
Usai makan, karena hujan sedikit menderas, makin banyak kelompok yang berteduh di base camp. Kebetulan, acara memang dilanjutkan dengan sesi sharing. Acara ini kembali dipandu oleh pak Viktor. Beberapa anak bergantian ke depan dan menyampaikan kesannya tentang kegiatan paling menarik yang diikutinya dalam rangkaian field trip kali ini. Jawabannya beragam, tentu saja. Suasana jadi begitu ramai, karena banyak anak yang berlomba untuk maju ke depan. Tapi ada yang nyenyak ketiduran, tak peduli sekitar yang ramai luar biasa :p Di tengah keramaian itu, kami pun diminta untuk menyelesaikan LKS yang kami pegang. Beberapa pertanyaan memang belum terjawab. Aku dan anak-anak laki-laki yang duduk di satu baris, bersama-sama membahas pertanyaan demi pertanyaan, dan mereka berebutan untuk menuliskan jawabannya di LKS. Senangnya punya murid-murid yang bersemangat begini. Semangat terus ya nak, semangat mengejar ilmu, di dalam dan di luar kelas. 
Rangkaian kegiatan terus berlanjut. Kali ini saatnya permainan tradisional. Ada dua sesi permainan tradisional yang diperkenalkan di sesi ini. Yang pertama adalah permainan dengan untaian karet ganda. Simse, namanya. Sebagai anak kampung, aku kenal permainan karet ini dan tentu saja aku juga cukup sering main simse bersama teman-teman masa kecilku dulu. Melihat anak-anak masa kini yang terlihat kaku dan canggung, aku jadi gemes. Jadi pengen ikut main. Hayu ah, sesi berikutnya, giliran guru-gurunya yuk! 
Main simse yang (mestinya) seru ini sedikit berubah jadi membosankan. Anak-anak kelamaan nunggu, dan mereka mulai berlarian ke sana-ke mari. Guru-guru mesti kejar-kejaran deh sama anak-anak aktif itu, menjaga supaya mereka tetap terlihat di arena. Kalau hilang satu kan nggak lucu :p. Nah, permainan selanjutnya adalah gatrik. Ini pun permainan seru. Anak-anak bergantian memegang tongkat untuk melontarkan tongkat kecil lainnya untuk ditangkap kelompok lawan. Semua ingin dapat giliran. Seru sih. Nah, yang namanya permainan tradisional, memang seru kan? Yuk kita sering-sering mainnya. Bikin segar badan, juga pikiran. 
Ngantri main gatrik. Asyiik...!
Selesai bermain, kita siap-siap pulang yuk...! Sebelum pulang, kami kembali berkumpul di arena panggung. Anak-anak diminta untuk menulis atau menggambar kesan mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan di Tahura Juanda kali ini. Ada yang menggambar, ada yang menulis cerita, ada juga yang menulis puisi. Secara sekilas, karya mereka dicek oleh tim juri yang terdiri dari pak Viktor dan romo Ferry. Dan terpilihlah puisi tentang kesegaran udara yang ditulis Donna (siswa Primary 3). Congrats!
Dalam perjalanan pulang, anak-anak di bus 1 masih seperti kelinci dengan baterai yang tak habis-habis. Masiiih saja bergerak ke sana-ke mari, dengan suara yang masih bisa disetel kencang di level 5, padahal standar bicara mestinya di level 2 saja :p. Sementara itu, rata-rata gurunya sudah pada ngedrop baterainya hingga tinggal satu-dua garis saja. Mungkin karena faktor usia, ya. Ya... ya... aku harus ngaku sebagai salah satunya. Biarpun begitu, kami tetap bolak-balik mengingatkan anak-anak untuk duduk manis, terutama ketika bus sedang bergerak. Tapi malang tak dapat ditolak. 
Dalam satu kesempatan, bus ngerem mendadak, dan banyak anak terbentur ke kursi depannya. Seorang anak yang duduk di baris paling depan mengaku bahunya sakit karena bertahan pada tiang di belakang sopir. Sementara itu, satu anak lainnya terjatuh cukup keras ke lantai bus. Luka. Walaupun begitu, dia tidak menangis sama sekali. Sepanjang sisa perjalanan ke sekolah, eh... dia malah ngantuk. Tapi tentunya kami cemas juga. Kami kontak orang tuanya, dan kami temani di UGD RSCK yang terletak di dekat sekolah. 
Selama di UGD, setelah ditangani dan menanti dokter untuk konsultasi, baterainya seperti di-charge kembali. Ceritaaaa terus. Jalan-jalan juga ke sana ke mari. Nggak ada matinye deh. Tapi dokter tetap memberi surat sakit untuknya. Istirahat di rumah dan cepat sembuh ya, Mirace. Kami tunggu kehadiran Mirace kembali di sekolah, sehat, ceria, dan semangat kembali. 
Yang tertinggal dari moment field trip semester 1. Saat menanti di depan arena. Anak-anak P1 Andalusia tanpa 5 orang yang tidak bisa ikut serta di kegiatan ini. Salah satu form teacher-nya -yaitu diriku- juga tak nampak dalam foto karena memang aku yang pegang kamera. Ayo, bilang P1 Andalusiaaaa :D

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 1)

Posted on 18.34

Semester pertama ini, jadwal Field Trip Al Irsyad Satya adalah ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, Dago. Hari Selasa, 13 November lalu, kami berangkat dari Kota Baru Parahyangan Padalarang menuju Dago. Terlambat lebih dari satu jam, entah menunggu apa, akhirnya kami pun berangkat. Dari 11 orang yang dikelompokkan bersamaku, hanya 9 orang yang bersedia untuk ikut berpartisipasi, dan salah satunya akan dijemput di kawasan Dago karena memang dia berdomisili di sana. 5 bus berangkat beriringan. Kelompok kami ada di bus 1, bersama 2 kelompok anak-anak kelas 1 lainnya dan 2 kelompok anak-anak kelas 4.
Sepanjang perjalanan, anak-anak tak bisa diajak diam. Selain mulutnya yang tak henti makan (begitu duduk, langsung siap-siap mengeluarkan bekal snack mereka ;)), mereka juga bicara dengan suara riuh, ditambah lagi dengan gerakan mereka yang luar biasa. Berdiri, berputar, melompat, berlarian (maunya) ke depan dan ke belakang bus, berpindah-pindah tempat duduk dengan teman, hingga akrobatik (ya... ya... aku memang sedikit melebih-lebihkan). 
Pendek kata, sampailah kami di Tahura Juanda. Disambut oleh tim Spice yang berseragam kaos hijau, kami pun siap berkegiatan sesuai dengan arahan mereka. Spice ini merupakan vendor penyelenggara paket kegiatan field trip kali ini. 
Setelah seluruh bus tiba dan semua tim berkumpul, perjalanan pun dimulai. Kelompok 1 (kelompok kami) mulai jalan lebih dulu. Yell kami, "Grup satu, siap maju!" Sementara grup 2 "Oke!" dan grup 3 "Ready!". Ini jadi salah satu kiat kami untuk menyatukan perhatian anak-anak agar fokus kembali. 
Tiba di lokasi, baru turun dari bus. "Grup satu, Siap maju!"
Berjalan melintasi hutan pinus. Hmm... udaranya sejuuk.
Mari kita jalan, menuju lokasi pertama untuk pembekalan awal. Kami semua berkumpul di seputar arena panggung untuk mendengarkan sambutan dari Spice dan Tahura Juanda. Ada pak Victor dan romo Ferry di sana. Setelah pembekalan singkat, kami pun mulai jalan kembali. Dengan dibekali LKS untuk dikerjakan, kelompok kami siap menjalani rangkaian kegiatan dan melaksanakan semua tugas. Grup Satu, siap maju! teriak 9 anak di kelompokku dengan bersemangat.
Sambutan selamat datang dari pak Viktor untuk rombongan Al Irsyad Satya
Pos pertama yang kami singgahi adalah pos Recycle. Dipandu oleh tim dari Eureka ITB, kami membuat beragam proyek yang berbeda. Kelompok kami mendapat proyek membuat kincir angin pengangkat beban, sedangkan kelompok sebelah mendapat proyek mobil bertenaga angin (dari balon). Seru lho.
Membuat mobil tenaga angin dari botol bekas air mineral.
Pos selanjutnya adalah cooking session. Sambil menunggu giliran untuk memasak (atau memakan) kue cubit, anak-anak (eh, alhamdulillah, gurunya juga) dapat jatah donat sebagai snack pagi. Ampuun deh, anak-anak bolak-balik ingin pilih sendiri donat favoritnya. Ada yang keukeuh ingin donat coklat meises, ada yang mau donat serupa dengan yang didapat oleh karibnya, atau ada juga yang pasrah dengan donat gula dan selai blueberry atau topping/rasa lain. 
Setelah makan donat, saatnya mencicip kue cubit. Kakak-kakak kelas besar dipandu untuk mencoba memasak sendiri, sedangkan adik-adik kecil kelas satu cukup dengan menonton saja dan boleh mencicip kue cubit satu satu. 
Belajar membuat kue cubit. Kak Vikri terlihat terampil meminyaki cetakan kue cubit.
Setelah mencicip kue cubit, kami berjalan lagi untuk belajar tentang manfaat lubang biopori. Anak-anak kelas besar memperdalam lubang dengan alat khusus (umm... apa ya namanya? Aku lupa :p), sedangkan anak-anak kelas kecil mulai membuat lubang dengan sendok semen. Gantian ya pakainya. Hadeuh... mereka rebutan ingin ikut andil membuat lubang. Seru kan, 'main tanah' :p Kalau nggak dipandu, hasilnya pasti cuma ngacak-ngacak tanah aja. Untungnya, anak-anak di kelompokku kooperatif sekali. Mereka mau dipandu, diarahkan, diberi contoh, belajar sabar dan menggali bergantian. 
Gali lubang biopori. Iih, Faqih kok tiga kali menggali. Aku cuma dua :p
Usai menggali lubang biopori, kami kembali berjalan menyusuri hutan, menuju pos berikutnya, sambil mengamati pohon dan mengambil sampel beberapa daun tertentu. Dari 8 sampel daun yang diminta, dua tak berhasil kami kumpulkan. Tapi kami menemukan pohon yang cantik, dengan kulit pohon berwarna seperti lembayung. Ayo, berfoto dulu...! Sayang, keindahan pohon ini tidak tertangkap sempurna oleh kamera yang kupunya. Makanya, harus datang langsung deh untuk melihat keindahannya dengan mata dan kepala sendiri ;)
Bergaya di depan pohon berkulit lembayung :)
Selesai sesi foto, kami menyusul teman-teman lain di pos pembuatan kompos atau pupuk hijau. Anak-anak menyimak penjelasan petugas sambil sesekali mengamati mesin pencacah daun yang kemudian sengaja dioperasikan oleh bapak petugas. Tak berapa lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai mengguyur tanah Dago.
Adam dan Aya lagi apa siiiih? Padahal yang lain sedang asyik menyimak.
Kisah lanjutannya insya Allah ditulis di Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2) ya.