Farewell Party with the Security

Posted on 10.35

Setahun kebersamaan kami bersama tim Security G4S (baca: G-force atau Group 4 Securicor). Tujuh orang personil mereka bergantian menjadi 'pager bagus' di lingkungan sekolah kami, Al Irsyad Satya Islamic School. Personil pilihan yang sangat cepat berbaur dengan seluruh unsur sekolah kami, mulai dari guru-guru dan staf, murid-murid TK hingga SMA, orang tua murid, hingga tamu yang berkunjung. 
Setahun lalu, aku agak enggan dengan kehadiran mereka yang menggantikan personil tim security sebelumnya. Tapi ternyata, keenggananku itu sama sekali tak beralasan. Semua personil G4S yang diturunkan, ternyata sangat ramah di balik kesigapan mereka menangani berbagai permasalahan yang berkait dengan keamanan di sekolah kami. Murid-murid dekat dengan mereka. Sementara orang tua murid pun menaruh kepercayaan tinggi kepada mereka. Guru-guru dan staf pun dapat mengandalkan mereka untuk beberapa keperluan. Mereka selalu sigap, ramah, dan cekatan. Tak jarang mereka menuntun anak-anak TK yang sungguh imut itu untuk kemudian diantarkan ke kelas mereka atau gurunya. Ternyata, di balik seragam dan sepatu mengkilat mereka, tersimpan hati yang begitu lembut. Kabarnya, mereka yang diturunkan ke sekolah kami memang personil khusus. (Jieee...)
Mengingat reputasi yang kami bangun sebagai sekolah internasional, tentu diperlukan staf yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Dalam beberapa kesempatan di akhir pekan, mereka pun menyempatkan diri untuk berpartisipasi dalam kelas bahasa Inggris yang disampaikan oleh salah seorang guru dari departemen Bahasa Inggris, Mr. Deden Rahmat. Sesi belajar-mengajar yang seru, (kabarnya) sangat mereka nikmati. Kubilang 'kabarnya', ya karena aku tidak bisa ikut di salah satu sesinya, jadi hanya sekedar tahu beritanya saja. Tapi dapat 'bocoran' nih, sebuah gambar sneak peak dari salah satu sesi belajar mereka.
Dalam beberapa kesempatan, mereka sudah mulai percaya diri untuk bercakap dalam bahasa internasional tersebut. "Excuse me, miss/sir, there is a guest for you, waiting in the guest room." ucap mereka dengan santun. Sungguh nampak peningkatan kualitas dan kapasitas diri setiap mereka. Tak segan mereka untuk belajar, bertanya, dan mempraktekkannya. Luar biasa. 
Setelah setahun kebersamaan kita, saling belajar dan menjalin sinergi, ternyata perpisahan itu sudah di ujung mata. Satu-dua pernyataan mereka, kabarnya baru kali ini mereka merasa sedih, sendu dan haru saat harus berpisah dengan klien mereka. Begitupun perasaan kami, bapak-bapak. Kebersamaan ini, begitu berharga. Akan aneh dan asing rasanya tanpa kehadiran Anda semua di tahun pelajaran baru nanti. Salam sukses untuk bapak-bapak semua. We've missed you already.


To Sir (and Maam) With Love

Posted on 17.16



Waktu cepat sekali berlalu. Sampailah kita di akhir tahun pelajaran. Saatnya berpisah telah tiba. Melepaskan satu generasi lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka ke tahap berikutnya.
Di tengah kesibukan luar biasa di akhir tahun pelajaran ini, menyiapkan rapor anak-anak (tentunya), berpartisipasi di kegiatan Art & Sport Day, melatih anak-anak untuk tampil di panggung lomba, menyiapkan kelas (tepatnya: merapikan kelas yang sempat berantakan berat dimanfaatkan sebagai sentra berbagai aktivitas), menulisi ijazah (masih aku aja nih petugasnya? tahun depan 'ganti pemain ah'), dan lain sebagainya, ternyata anak-anak lulusan kelas 6 berinisiatif untuk memberi persembahan satu lagu ekstra untuk guru-gurunya di acara graduation. Mestinya jadi satu kejutan untuk guru-guru kelas 6. Lha, aku kan guru kelas 6 juga, tapi ternyata didaulat untuk ikut mempersiapkan tampilan mereka. Oke deh...
Kuberi ide dengan sedikit efek drama ala Glee (halah...) yang sudah membawakan kembali lagu tahun 60-an ini. Kuusulkan juga ide properti untuk mereka bawa (bikin sendiri ya, anak-anak), berupa gambar bulan dan hati bolak-balik yang ditempel di batang kecil yang nantinya akan mereka berikan pada guru yang pernah mengajar mereka. Kebayang deh, wali kelasnya yang terkenal halus perasaan bakalan nangis berderai-derai melihat aksi mereka. Sedikit perubahan ditambahkan pada lirik lagu ini, tidak hanya to Sir with love, tapi to Sir and Maam with love. Terima kasih anak-anak. Thank you to you too, for being an ispiration, always.

Karya Murid-murid di Kelasku

Posted on 12.50

Mengajar Kesenian itu asyik-asyik susah. Asyiknya karena memang kegiatannya fun, seru. Anak-anak biasa menunjukkan antusiasme di setiap sesinya. Adik-adik kelas kecil biasanya terkagum-kagum melihat hasil karya kakak kelasnya yang 'spektakuler' -di mata mereka, tentunya-, sementara kakak kelasnya 'berdarah-darah' menyelesaikan proyek yang menantang.
Proyek String Art Fun ini, misalnya. Beberapa anak berjibaku, bersimbah peluh untuk memberikan karya terbaik mereka. Mulai dari mengampelas tripleks yang akan digunakan sebagai alas karya, lalu berlengket-lengket menempel kain felt dengan warna pilihan mereka di atas tripleks itu. Dilanjut dengan membenamkan jarum pentul satu demi satu sesuai dengan pola kapal yang telah kusediakan. Alhamdulillah, tak ada satu pun anak yang terluka di sepanjang proses ini. Tak ada pula yang coba-coba iseng atau bermain-main dengan jarum pentul atau palu yang mereka bawa dari rumah. Anak-anak kelas 5 ini telah cukup bertanggung jawab untuk mengindahkan keselamatan kerja saat berkarya. 
Berlanjut dengan mengikatkan benang sulam di antara paku-paku itu, wah... luar biasa. Berkali-kali kudengar panggilan untukku di sana-sini dari seantero penghuni kelas. Minta dibantu ;) Tapi ada juga yang mandiri dan bekerja cepat sekali. Ada yang request, minta benang khusus. Wow... aku mesti pergi sendiri nih ke King's Textile Center untuk membeli benang model pelangi. Nggak pake mobil sekolah. Bukan di jam kerja, pula. Ya sudahlah, kujabanin juga. Dan hasilnya? Karya benang yang tidak mengecewakan, bukan?
Lain lagi dengan karya anak-anak kelas 1. Aku yang keringatan di sini. Aku mesti memotong-motong plastisin/lilin malam berminyak yang dibelikan sekolah segedambrengan. Padahal aku minta paket-an yang sudah berukuran kecil, berwarna-warni pula. Tapi ya... daripada minta tukar dan perlu waktu lama lagi, akhirnya ya kumanfaatkan juga itu barang yang dibelikan sekolah. Dan anak-anak sibuk negosiasi. "Miss, aku mau yang warna merah." "Miss, aku mau yang warna biru!" dan seterusnya, dan sebagainya. Hadeuh... 
Kubuat mereka keringatan juga akhirnya (bukan balas dendam, lho... :p) Karena bukan lilin berkualitas tinggi yang kami punya, maka anak-anak harus meremas-remasnya dulu beberapa waktu sebelum sukses dibentuk sesuai keinginan. Ternyata, ada juga sih anak-anak yang kesulitan meremas lilin itu. Hasilnya: lilin malam malah jadi bubuk dan berhamburan mengotori meja dan lantai. Naah, ini baru 'pembalasan dendam' anak-anak padaku, karena sesudah itu, dibantu anak-anak pun, aku tetap harus membersihkan 'sisa-sisa perjuangan' mereka. Waktu belajar selama 2 peride (60 menit) tidak cukup untuk mengerjakan karya ini. Aku harus memberi petunjuk pengerjaan karya kepada anak-anak, membimbing beberapa dari mereka yang memerlukan, hingga merapikan kembali pekerjaan mereka, plus mencuci tangan bersih-bersih (dan meminta mereka mencuci tangan pun ternyata perlu waktu yang cukup lama). Tapi bagaimana pun hasilnya karya mereka, mereka tak sabar untuk membawa pulang lebah buatan mereka. Sabar ya nak. Miss Diah harus mencuci tangan juga bersih-bersih sampai tangan kembali kesat tak berminyak sebelum memberi nilai pada karya kalian. Jika sudah selesai, si lebah (yang mestinya lucu ini) boleh kok kalian bawa pulang ;)