Tampilkan postingan dengan label Art and Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Art and Culture. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

Twinkle Twinkle Little Stars

Aku menyiapkan program menyanyi untuk anak-anak kelas dua. Mereka punya potensi bagus dalam menyanyi.  Kepekaan nada mereka rata-rata bagus. Kecakapan mereka untuk menyanyikan kembali lagu yang diajarkan, hingga membawakannya dengan gerakan yang sesuai, membuatku bangga melihatnya. Aku yakin, sebetulnya orang tua murid pun akan senang melihat putra/putri mereka tampil dengan percaya diri di atas panggung. Hmm... kapan ya saat yang tepat untuk itu...?
Anyway, lagu yang kuajarkan untuk mereka saat ini, aslinya adalah sebuah lagu anak entah gubahan siapa, juga entah judulnya apa. Sudah googling hingga menelusuri wikipedia, lagu Kerlip Bintang ini (apa betul judulnya begitu? :p) tak juga kutemukan sumbernya. Tapi ya sudahlah, lagu ini lalu kuterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, dengan meminta beberapa guru bahasa Inggris untuk mengedit/mengoreksinya.

Twinkle twinkle little stars, up above the sky
Twinkle twinkle little stars, how pretty you are
Twinkle twinkle little stars, you are everywhere
Twinkle twinkle little stars, like diamonds in the sky

Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring
Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring

pic: courtesy of www.silvergemstonerings.co.uk
Ketika aku mulai menuliskannya di whiteboard, beberapa anak mulai menyanyikannya dengan nada lagu Twinkle Little Stars yang sudah mereka kenal sebelumnya. Tapi membaca rangkaian kata berikutnya, mereka pun tertegun. Eh??? kok nadanya tak cocok ya dengan jumlah birama pada lagu ini? Tapi tak lama kemudian, segera kucontohkan lagu itu untuk mereka ikuti.
Beberapa anak sangat cepat menghapal lagu ini. Dalam satu pertemuan saja, ada anak yang sudah hapal dan tak perlu lagi melihat teks (padahal aku sendiri beberapa kali mengintip lirik lagunya. Maklum... baru dikarang di hari itu juga :p) Ada yang tahu, apa judul lagu ini beserta pengarangnya? Apakah pak A.T. Machmud penciptanya? Jika ada yang tahu, silakan beri info. Pengarang lagu ini layak untuk diapresiasi. Ini dia lirik lagunya dalam bahasa Indonesia. 
Kerlap-kerlip bintang, di langit tinggi
Kerlap-kerlip bintang, indah sekali
Kerlap-kerlip bintang, di mana-mana
Kerlap-kerlip bintang, bagai permata

Ingin hatiku memetik bintang
Untuk kupasang di cincin ibu
Ingin hatiku memetik bintang
Untuk kupasang di cincin ibu

Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri

Waah, lama nggak update blog ini, banyak moment terlewat. Upacara kelulusan, liburan sambil kerja di Pelabuhan Ratu, hari-hari awal masa sekolah, yang dilanjut dengan rangkaian kegiatan Ramadhan. Seluruhnya sungguh luar biasa.
Kali ini, bahas tugas terakhir untuk anak-anak sebelum libur lebaran saja ah. Sebagai guru kesenian (alhamdulillah, tahun ini full jadi guru kesenian lagi, khusus buat level Primary), tugas yang kuberi untuk anak-anak ya nggak jauh-jauh dari bikin karya seni. Dan jelang idul fitri begini, tugasnya tentu sangat bisa ditebak. Membuat kartu ucapan Idul Fitri. Setiap level punya tingkat kesulitan tersendiri. 
Untuk anak-anak kelas satu, ditugaskan untuk menggambar dengan tema masjidku. Hehe... konvensional sekali ya? Untuk kelas dua pun bertema serupa. Untuk kelas tiga pun masih sama, sebetulnya, tapi dengan detil tambahan di bagian dalamnya. Kertas lipat agak-agak pop-up untuk disisipkan di bagian dalam. Kupikir, ini adalah teori lipatan yang sederhana sekali. Hanya dua lipatan silang plus satu lipatan horizontal untuk menulis ucapan. Tapi untuk anak kelas tiga, bahkan kelas lima sekalipun, ini ternyata cukup rumit juga. Jadilah bikin gurunya keringatan. Ampuuun, target tak tercapai kalau gini. Teorinya, urusan lipat melipat ini cuma memerlukan waktu dua menit saja. Tapi ternyata mulurnya jadi 10 kali lipat!!! Serius, aku nggak mengada-ada. Begitu banyak tangan yang minta dibantu, dan akhirnya kartu yang mestinya bisa selesai dalam dua pertemuan saja, mulur jadi tiga pertemuan (3 pekan??? untuk membuat kartu sederhana begini???)
Kartu lebaran karya anak-anak kelas 3
Kartu lebaran untuk anak-anak kelas 4 juga bertema pop up. Tapi kali ini mereka harus membuat gambar yang akan ditempel sedemikian rupa di bagian dalam hingga akan jadi gambar munculan saat kartu dibuka. Rata-rata mereka senang mengerjakannya. Hasilnya? Lumayan jugalah. 
Kartu pop-up karya anak Primary 4
Kelas 5 membuat kartu dengan penyelesaian campuran dua media warna, yaitu crayon dan cat air. Dengan konsep garis crayon tak akan tertembus air, penyelesaian akhirnya dilakukan dengan sapuan cat air. Hasilnya lucu-lucu juga. 
Karya mixmedia Primary 5
Sayangnya, kelas 6 tak berhasil mencapai cita-cita. Kartu mereka tak selesai dieksekusi karena pada hari-H, sekolah kami sedang menyelenggarakan event lomba musik sahur, nasyid, dan lomba rangkai parcel. Kelas 6 nggak kebagian waktu untuk mengerjakan proyek kartu lebaran mereka. Maaf ya anak-anak... :(
Dan yang terakhir, kartu virtual dariku. Karena dibuat bersamaan dengan moment ulang tahun Indonesia, maka kartu ini mengambil tema warna merah-putih. Dari foto lama bunga di halaman rumah, hanya tinggal ditambahi teks. Sederhana saja. Semoga kesederhanaan ini juga berimbas ke kehidupan kita. Tak perlu bermewah-mewah, yang penting berkah. 
Selamat Idul Fitri 1433 H. Semoga Allah berkenan membawa kita meraih fitri di Syawal ini. Amiin.

Minggu, 03 Juni 2012

Karya Murid-murid di Kelasku

Mengajar Kesenian itu asyik-asyik susah. Asyiknya karena memang kegiatannya fun, seru. Anak-anak biasa menunjukkan antusiasme di setiap sesinya. Adik-adik kelas kecil biasanya terkagum-kagum melihat hasil karya kakak kelasnya yang 'spektakuler' -di mata mereka, tentunya-, sementara kakak kelasnya 'berdarah-darah' menyelesaikan proyek yang menantang.
Proyek String Art Fun ini, misalnya. Beberapa anak berjibaku, bersimbah peluh untuk memberikan karya terbaik mereka. Mulai dari mengampelas tripleks yang akan digunakan sebagai alas karya, lalu berlengket-lengket menempel kain felt dengan warna pilihan mereka di atas tripleks itu. Dilanjut dengan membenamkan jarum pentul satu demi satu sesuai dengan pola kapal yang telah kusediakan. Alhamdulillah, tak ada satu pun anak yang terluka di sepanjang proses ini. Tak ada pula yang coba-coba iseng atau bermain-main dengan jarum pentul atau palu yang mereka bawa dari rumah. Anak-anak kelas 5 ini telah cukup bertanggung jawab untuk mengindahkan keselamatan kerja saat berkarya. 
Berlanjut dengan mengikatkan benang sulam di antara paku-paku itu, wah... luar biasa. Berkali-kali kudengar panggilan untukku di sana-sini dari seantero penghuni kelas. Minta dibantu ;) Tapi ada juga yang mandiri dan bekerja cepat sekali. Ada yang request, minta benang khusus. Wow... aku mesti pergi sendiri nih ke King's Textile Center untuk membeli benang model pelangi. Nggak pake mobil sekolah. Bukan di jam kerja, pula. Ya sudahlah, kujabanin juga. Dan hasilnya? Karya benang yang tidak mengecewakan, bukan?
Lain lagi dengan karya anak-anak kelas 1. Aku yang keringatan di sini. Aku mesti memotong-motong plastisin/lilin malam berminyak yang dibelikan sekolah segedambrengan. Padahal aku minta paket-an yang sudah berukuran kecil, berwarna-warni pula. Tapi ya... daripada minta tukar dan perlu waktu lama lagi, akhirnya ya kumanfaatkan juga itu barang yang dibelikan sekolah. Dan anak-anak sibuk negosiasi. "Miss, aku mau yang warna merah." "Miss, aku mau yang warna biru!" dan seterusnya, dan sebagainya. Hadeuh... 
Kubuat mereka keringatan juga akhirnya (bukan balas dendam, lho... :p) Karena bukan lilin berkualitas tinggi yang kami punya, maka anak-anak harus meremas-remasnya dulu beberapa waktu sebelum sukses dibentuk sesuai keinginan. Ternyata, ada juga sih anak-anak yang kesulitan meremas lilin itu. Hasilnya: lilin malam malah jadi bubuk dan berhamburan mengotori meja dan lantai. Naah, ini baru 'pembalasan dendam' anak-anak padaku, karena sesudah itu, dibantu anak-anak pun, aku tetap harus membersihkan 'sisa-sisa perjuangan' mereka. Waktu belajar selama 2 peride (60 menit) tidak cukup untuk mengerjakan karya ini. Aku harus memberi petunjuk pengerjaan karya kepada anak-anak, membimbing beberapa dari mereka yang memerlukan, hingga merapikan kembali pekerjaan mereka, plus mencuci tangan bersih-bersih (dan meminta mereka mencuci tangan pun ternyata perlu waktu yang cukup lama). Tapi bagaimana pun hasilnya karya mereka, mereka tak sabar untuk membawa pulang lebah buatan mereka. Sabar ya nak. Miss Diah harus mencuci tangan juga bersih-bersih sampai tangan kembali kesat tak berminyak sebelum memberi nilai pada karya kalian. Jika sudah selesai, si lebah (yang mestinya lucu ini) boleh kok kalian bawa pulang ;)

Senin, 11 Oktober 2010

Pasar Seni 10.10.10

Niatnya, mau berkunjung ke Pasar Seni untuk cari ide untuk materi pelajaran di kelas yang kuajar. Walaupun tahun ini aku hanya mengajar satu level pelajaran kesenian atau Art and Culture, tapi aku tetap masih sangat perlu penyegaran ide, supaya pembelajaran yang kusampaikan lebih variatif, menatik, dan bermakna.
Berfoto bersama alumni asrama putri di halaman dalam.
Aku baru berkesempatan ke arena Pasar Seni selepas shalat dan makan siang. Paginya ada acara ketemuan dengan alumni asrama putri ITB dulu sih. Awalnya berjalan bertiga dengan dua orang alumni aspuri lainnya. Tiap kali mampir ke satu stand tertentu, satu orang ngilang, tertinggal. Gabung lagi di stand yang lain. Lalu yang lain ngilang lagi. Akhirnya capek juga nunggu atau ngikutin temen-temen, akhirnya sih kita sukses aja berpencar. Kebetulan tak ada janji untuk selalu bersama. :)
mau lihat apa di tengah crowd seperti ini? :p
Tapi jalan sendiri, ternyata nggak asyik juga ya. Dikombinasikan dengan capek dan be-te, akhirnya baru setengah lokasi ITB kukitari, aku memutuskan pulang! Peduli amat deh dengan Pasar Seni yang hanya diselenggarakan sekali (dan cuma satu hari) saja dalam empat tahun. Aku pulang!!
Kalau mau cari barang yang unik-unik dan menarik, browsing n searching saja deh di dunia maya, atau cari info melalui jejaring pertemanan. Nggak perlu pakai keringatan dan umpel-umpelan di lautan manusia kan? Atau... di event Pasar Seni berikutnya, aku ikut jualan aja kali ya... ;)

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...