Skip School to be a Judge

Posted on 17.32

Seorang teman memberi kabar, mengundang aku untuk ikut berpartisipasi di acara Lomba Kreativitas PLB se-Jabar sebagai juri lomba menggambar. Wow, tawaran yang sungguh sayang untuk dilewatkan. Minta ijin atasan dulu dong. Alhamdulillah diberi ijin. Atur-atur deh jadwal mengajar di sekolah, titip kelas ke beberapa teman. 
Dan di hari Selasa, 22 Mei 2012, aku pun menyiapkan diri untuk keberangkatan. Bismillah, kucoba bawa kendaraan sendiri ke sana. Green Hill Cipanas, aku dataaang. Berangkat dari rumah sekitar pukul setengah enam pagi, dengan janji akan sampai di lokasi pukul 8. Bismillah. 
Ternyata perhitungan tepat sekali. Jalanan pagi yang belum padat membuat perjalananku lancar sampai tujuan. Pukul 8 aku baruuu saja menempatkan katana-ku di lokasi dalam posisi parkir paralel. Sebuah pesan masuk. Dari Dadan, yang mempertanyakan keberadaanku. Segera aku keluar dari kendaraan dan menemuinya, lalu dilanjut dengan menemui juri-juri lainnya yang rata-rata senior dan sudah berumur (heu... memangnya aku belum berumur ya? :p)
Segera setelah itu, kami (para juri) pun mulai berkeliling untuk melihat para peserta lomba berkiprah. Aku pun mengambil gambar di sana-sini. Mengingat ini adalah lomba tingkat Jabar yang para pesertanya merupakan peserta terpilih hasil seleksi di daerah masing-masing, maka tak heranlah jika kemampuan menggambar mereka cukup tinggi. 
Ada seorang peserta di level SMP yang sejak awal, tanpa ragu mencoretkan spidolnya untuk membuat sketsa. Garisnya tegas dan mantap. Ketika kemudian diwarnainya, paduan warnanya pun kuat dan berani. Dia keluar sebagai salah satu juara ;) 
Satu peserta lain yang kuamati adalah seorang gadis yang juga menggunakan spidol untuk membentuk gambarnya. Separuh jadi dalam warna hitam-putih dengan warna hitam yang terasa dominan, gambarnya sudah terlihat bagus. Rupanya dia masih melanjutkan dengan mewarnai bagian demi bagian satu persatu. Perlu waktu, tentunya. Waktu 2,5 jam yang disediakan ternyata tidak cukup untuk menggarap hingga tuntas karya gambar di kertas berukuran 60x70 cm itu. Sayang sekali. Padahal teknik dan gaya gambarnya sangat orisinil. Jikalah dia selesai menuntaskan gambarnya, karya itu bisa jadi salah satu juara.
Juri berdiskusi cukup alot. 7 kriteria lomba yang dinilai dibahas satu persatu dari tiap gambar untuk menentukan karya siapa yang akan jadi juara. Jika paduan dan komposisi warna terlihat ada kesamaan, tentu yang akan jadi andalan adalah teknis menggambar dan ide yang dituangkan. Beberapa gambar terlihat menonjol. Ketika gambar-gambar lain bermain dalamnuansa warna terang seperti kuning, jingga, hingga merah, biru dan ungu, ada satu gambar yang justru cenderung gelap tapi tidak kusam. Senimannya tidak ragu mengaplikasikan warna hitam. Karyanya jadi unik, karena relatif berbeda dibanding yang lain. Satu lagi yang menarik perhatian kami para juri adalah satu karya yang dibuat dengan teknik pewarnaan yang unik. Pada saat peserta yang lain menggores dan mencampur warna dengan crayon, peserta yang satu ini lebih asyik membuat goresan-goresan pendek atau kumpulan titik untuk mengisi bidang. Karyanya pun menjadi unik dan cukup menonjol. Sayang, hasil akhirnya terlihat masih pucat dan terkesan tidak selesai. Satu karya lain yang mencuri perhatian kami adalah gambar yang dibuat dengan warna berani dan penuh. Idenya sangat kaya, dan semua masuk dalam karya itu. Teknik goresan pensil/benda tumpul di atas warna yang telah dibuat pun menjadi unik, jadi ciri khas senimannya yang sangat original. Sayang, karya itu akhirnya hanya menduduki posisi ke-2. 
Lepas sore, juri pun menyelesaikan tugas-tugasnya untuk kemudian menyerahkan hasil penjurian kepada panitia. Aku pun bersiap untuk pulang. Usai shalat maghrib, aku menyiapkan diri, fisik dan mental untuk membawa pulang katana-ku, kembali ke Bandung. Dalam gelap diterangi lampu kendaraan, Perjalanan pulang kali ini ditempuh dalam waktu 3 jam. Waktu tempuh yang cukup rasional, kukira. Dan siap kembali beraktivitas di sekolah di hari Rabu esok harinya.