Gempa Cilacap... Lagi!!!

Posted on 08.18

Rehat antar dua pelajaran. Anak-anak sedang di luar kelas, sibuk main, berlarian di koridor. Lamat-lamat, kurasa ada getaran kecil. Gempakah...? Kupastikan bahwa guncangan yang aku rasa di lantai dua sekolah itu bukan efek resonansi dari getaran kendaraan berat yang biasa lewat di jalanan sebelah. 'Jemuran pakaian', karya anak-anak beberapa waktu yang lalu terlihat bergoyang. Pelan. Membuatku yakin bahwa ini gempa. Deg-degan rasanya. Apa kabarnya anak-anak jika gempa susulan terjadi lagi? Untungnya tidak.
Ketika kutanya beberapa rekan dan murid-murid, banyak di antara mereka yang tidak merasakan keberadaan gempa tadi. Terlalu asyik dengan dunia mereka. Aku yang agak-agak paranoid, membawa serta tas beserta komputer jinjingku ke pertemuan rutin dengan departemen PDIS seperti biasa setiap Selasa.
Salah satu yang siap-siap diagendakan: pelatihan tanggap bencana jika sewaktu-waktu terjadi kejadian serupa di sekolah, dengan anak-anak yang masih berada di area sekolah. Harus segera, kiranya. Yuk, jadwalkan...!

Polling Device di Kelas

Posted on 14.23

Akhir-akhir ini pelajaran Matematika jadi pelajaran favorit. Selain karena materinya jadi terasa semakin mudah setelah disampaikan dan dilatih berkali-kali, juga karena disampaikan dengan cara yang menarik dan variatif. Ms. Pury, guru matematika di sekolah kami, memanfaatkan teknologi untuk menarik minat murid-murid kami agar makin menyukai matematika. Salah satu program berbasis teknologi yang digunakan oleh ms. Pury adalah Polling Device. Sederhananya sih semacam alat survey elektronik. Data diinput, dan hasilnya bisa langsung nampak sesaat kemudian.
Polling device bisa digunakan di ruang ajar interaktf (Interactive Teaching Room) atau kelas. Persiapannya memang cukup makan waktu, sedangkan eksekusinya hanya beberapa menit saja. Tapi ketika anak-anak tampak bersemangat belajar karenanya, susah payah saat membuatnya seolah terbayar. Lunas. 
Halaman editing Ars2007-sampel soal science kelas 2.
Untuk menggunakannya, ms. Pury menggunakan program ARS2007 yang sudah di-install di komputernya (sebetulnya, di komputer kami juga ada, tinggal mengoptimalkan penggunaannya saja). Soal dan kunci jawaban dibuat dalam file tersendiri. Semua materi soal dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Biasanya ms. Pury membuat 10-20 soal untuk satu sesi. Setelah disimpan dalam folder, file tersebut siap digunakan sewaktu-waktu.
Pada saat digunakan, ms. Pury membawa proyektor in-focus ke kelas atau membawa anak-anak ke IT Room. Wah, belum apa-apa mereka sudah senang luar biasa, padahal mau diberi latihan soal. ;) Setelah layar in-focus siap. setiap anak bisa mengambil remote yang akan digunakan untuk memasukkan data jawaban mereka. Cek ketersediaan/kekuatan baterai remote sebelum digunakan. Setelah semua siap, mulailah soal pertama ditayangkan di layar. 
Beradu cepat menekan tombol remote, menjawab soal.
Dalam rentang waktu yang relatif pendek, anak-anak harus membaca dan menjawab soal yang terpampang di layar dengan memijit salah satu tombol pada remote yang mereka pegang. Maaf-maaf, jawaban tak bisa diralat, dan hasilnya bisa langsung diketahui saat itu juga. Siapa-siapa yang tepat menjawab soal ataupun salah, hasilnya langsung terpampang di layar yang sama. Hasil akhirnya? Seperti bermain game, peringkat teratas hingga juru kunci, semua terpampang dengan jelas di depan mereka. 
Ms.Pury menjelaskan kembali materi pelajaran.
Selain itu, ms.Pury pun bisa segera membahas soal jika diperlukan, menekankan pada soal-soal yang dirasa sulit bagi anak-anak. Dengan begitu, kesalahan serupa di masa datang bisa diminimalisir. Apapun hasilnya, tetap menyenangkan untuk mereka. 

Pengalaman Pertama Dengan Derek Jasa Marga

Posted on 15.39

Semoga jadi yang terakhir juga. Pagi tadi aku sedikit bertenang hati karena jalanan lancar. Pukul tujuh pagi aku sudah masuk tol. Pertanda baik nih. Kupikir begitu. Dalam perjalanan kurasakan sedikit keanehan dengan suara mesin mobilku. Hm... Sudah beberapa hari ini memang terasa kurang enak sih bawaannya. Aku belum cek ulang lagi Katana-ku. Ditunda-tunda terus. Memang salahku... :p 
Dan firasat (burukku) terbukti. Jelang km 129 di tol Padaleunyi arah Padalarang, mobilku rasanya kehilangan tenaga. Pelan-pelan kutepikan kendaraanku, dan mencoba menginjak pedal gas untuk menggerakkan mobilku. Gagal. Berkali-kali mencoba, gagal. Akhirnya menyerah. Telfon sana-sini, akhirnya 'ditemukan' oleh petugas jasa marga yang sedang berpatroli. Aku tak punya pilihan selain merelakan mobilku diderek hingga bengkel dekat gerbang tol Padalarang. Bayar extra-lah, karena bukan dibawa ke gerbang tol terdekat (Baros). 
Setelah menitipkan mobilku di bengkel, aku pergi ke sekolah, mampir ke ATM untuk mengambil sebagian uangku. Jam pertama, IQRO, murid-muridku kehilangan. Untungnya, beberapa anak di grup-ku shalih sekali. Alhamdulillah. Mereka berinisiatif untuk memimpin teman-temannya tetap membaca buku IQRO. Jam kedua, aman, karena aku sudah berjanji untuk menggabungkan dua kelas sekaligus untuk pelajaran bahasa Inggris bersama ms. Pury. Beliau sudah setuju. Sesi berikutnya, Science, alhamdulillah, aku ada di sekolah untuk mengajar. Magic, seru! (tapi itu episode blog posting yang lain ;)). 
Setelah semua urusan di sekolah selesai, sore ini aku siap-siap untuk menjemput mobilku di bengkel. Heu... 'jajan' lagi deh buat mobilku. Semoga membawa keselamatan. Hari ini, kemarin, atau nanti, pasti aku akan mesti mengeluarkan uang untuk servis kendaraan juga. Cuma kali ini ditambah dengan bea mobil derek, 350.000!!! (padahal di km 129 tadi pak petugas derek mengatakan 'hanya' 300 ribu saja. Tapi karena kuitansinya ada, jelas, yah... aku tak punya pilihan lain selain membayar. :( Jangan kejadian lagi ah. Jadi agak-agak paranoid nih melintas di km 129 :p

Gempa Cilacap... Terasa Hingga ke Bandung!

Posted on 16.16

Pukul tiga pagi. Bumi berguncang. Terbangun dari tidur, memastikan diri bahwa itu adalah guncangan gempa, dan bertanya-tanya sendiri, apakah harus siap-siap evakuasi ke luar rumah? Apa saja barang penting yang harus dibawa? Kerudung di mana? Apakah pakaian tidurku cukup layak untuk dikenakan ke luar rumah? Dan sebagainya dan sebagainya.
Dalam keadaan mengantuk tapi cukup waspada, aku berpikir-pikir apakah akan mencari informasi tentang gempa tersebut (MetroTV atau TVOne kurasa cukup bisa diandalkan untuk berita terkini semacam itu), meng-update status facebook (teteup... pengen eksis), atau kembali tidur. Atau pilih opsi ketiga ;)
Pagi harinya, baru kuketahui bahwa gempa sebesar 7,1 SR terjadi di 293 km barat daya Cilacap, dengan kedalaman 10 km. Cukup mengagetkan, apalagi mengingat pusat gempa itu berada di lempeng Eurasia, di mana lempeng Sunda -tempat barisan pulau Jawa dan Sumatera berada- juga termasuk di dalamnya. Apakah gempa serupa akan 'menjalar' ke tempat-tempat lain? Bumi memang sedang berguncang, menggeliat. 
Kelihatannya kita harus waspada saja. Siapkan tas survival berisi perlengkapan darurat seperti surat-surat penting, makanan kecil dan minuman botol, obat standar, pakaian ganti, hm... apa lagi? Kok jadi ingin seperti Doraemon dengan kantong ajaib atau Hermione Granger dengan tas kecil serba ada-nya. Inginnya memasukkan segala barang yang diperlukan dalam wadah kecil yang siap dibawa kapan saja. Rasanya perlu juga mengingatkan murid-muridku untuk selalu bersiaga, meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan dalam menghadapi berbagai situasi. Mungkin drilling atau training kesiagaan bencana sudah harus diselenggarakan lagi di sekolah kami.