Hari Guru Nasional

Posted on 20.15

Ini harinya. Hari guru diperingati setiap tanggal 25 November di Indonesia, dan berbeda-beda di setiap negara. Google selalu bikin image header tematik. Spesial untuk hari ini, gambar google cantik sekali. Terima kasih.
Selain Google, memang terasa ada sesuatu yang spesial di hari ini, aku rasakan dalam perjalananku menuju sekolah pagi tadi. 3 Sekolah Dasar yang kulewati, sepi. Ini membuat perjalananku jadi relatif lancar karena tidak banyak anak-anak sekolah yang biasanya ramai diantar orangtua mereka, naik-turun kendaraan menuju sekolah. Pemandangan lainnya yang kuamati, adalah banyaknya bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam batik PGRI yang tampak di jalan. Hm... Rupanya beberapa sekolah negeri diliburkan karena guru-gurunya harus mengikuti upacara hari guru. Begitukah? Tapi di sekolah kami, tidak ada yang istimewa. Semua berjalan seperti biasa saja. 
Selamat hari guru, semuanya. Kalian, siapa saja, adalah juga guru bagiku. Aku belajar banyak dari kalian, dari kehidupan. Dan kita bangun peradaban.

Indonesia Berduka

Posted on 17.17

Indonesia berduka. Begitu banyak bencana melanda negeri.  Surat kabar, radio dan televisi menjadikan bencana di berbagai tempat di Indonesia ini menjadi berita utama.
Beberapa waktu lalu, terdengar kabar adanya banjir bandang di Wasior. Beberapa desa tersapu air bah. Banyak warga berduka di Papua sana. Sementara kita hanya mendengar berita tentangnya dan merasa iba.
Picture: courtesy of www.telegraph.co.uk
Akhir Oktober. Terdengar kabar adanya gempa berkekuatan 7,2 SR di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. BMKG menyebutkan bahwa gempa itu berpotensi tsunami. Mungkin karena letaknya yang agak berada di tepian barat, berita mengenai tsunami di kepulauan Mentawai ini terlambat sampai ke pusat (Jakarta). Gelombang air laut hingga setinggi 10 meter yang menyapu kawasan Mentawai itu meluluhlantakkan beberapa desa sekaligus. Musnah. Keluarga tercerai berai. Ratusan orang meninggal, sementara ratusan lainnya hilang dan masih dalam pencarian.
Di hari yang sama, Gunung Merapi dalam status awas. Tanda-tanda aktivitasnya sudah terdeteksi oleh para pengamat gunung api. Penduduk di kawasan Merapi dihimbau untuk mengevakuasi diri ke tempat yang lebih aman. Mbah Maridjan, sang juru kunci Merapi pun dihimbau untuk meninggalkan rumahnya yang berada dalam radius 5 km-an dari puncak Merapi. Beliau tetap menolak, hingga tersapu awan panas yang meluncur kencang menuruni lereng Merapi. Wafat, oleh Merapi yang dijaganya. 
Kami peduli. Aku banyak bercerita pada murid-muridku. Walaupun mereka baru kelas 2 SD, mereka bisa lho diajak peduli. Aku minta mereka menaruh simpati dan empati pada para korban yang sekarang tinggal sengsara di pengungsian. Tidur tak nyaman, makanan nyaris tak ada. Jadi kuminta murid-muridku untuk bersyukur dengan apa yang ada. Mensyukuri makanan yang mereka punya. Tidak mengeluh dan berusaha menghabiskan hidangan yang tersedia (minimal pada saat makan siang, ketika mereka berada dalam pengawasanku, di bawah tanggung jawabku).
Selain itu, mereka juga kuminta untuk mengerem kebiasaan jajan dan belanja banyak makanan kecil (tak berguna dan nyaris tak bergizi). Tabung uangnya, untuk disumbangkan kepada korban gempa dan tsunami. Sedikit pun berarti. 
Di sesi pelajaranku, Kesenian, kuminta mereka untuk membuat gambar tentang para pengungsi. Akan kukirimkan untuk teman-teman, saudara-saudara mereka di pengungsian. Kami peduli.
Dan yang terakhir, tentu saja kami kirimkan doa untuk mereka, semoga tabah, sabar, diberi kekuatan untuk menjalani. Semoga bantuan dapat segera sampai kepada mereka dengan utuh dan selamat. Kami akan upayakan apa yang kami bisa, untuk bantu kalian, saudaraku. Karena kalian... adalah juga Indonesia. Kami berduka untuk kalian.