Minggu, 31 Maret 2013

Musim Banjir

Beberapa kali di musim penghujan ini, aku datang sangat terlambat ke sekolah. Penyebabnya: terjebak antrian panjang -bahkan bisa dikatakan macet total- di seputar Bandung Selatan. Bale Endah kebanjiran! Rumahku di sekitar Bale Endah, sebetulnya aman-aman saja, bebas banjir. Tapi rute yang biasa kulalui jadi jalur alternatif arus lalu lintas yang berasal dari 'jalur sebelah'. Maka padat luar biasa-lah jalur Bojong Soang karena rute Palasari-Dayeuhkolot tergenang air cukup tinggi. Pengendara jalan saling berebut, saling nggak mau kalah. Yang sabar? Hm... nggak kebagian :(
Ruas jalan Dayeuhkolot-Palasari tergenang air tinggi.
(foto: dok. RepublikaOnline)
Arus lalu lintas berpindah ke sini. Padat sekali. Ngerriii...
(foto: dok. @syairendra via @infobdg)
Untuk membunuh kebosanan, aku menyempatkan membaca buku di belakang kemudi. Bisa banget. Dua buku kutamatkan dalam dua kali kesempatan. Majalah bulanan juga bisa khatam dalam sekali jalan. Harus selalu siapkan snack dan bekal minum nih untuk bekal di perjalanan, soalnya sekali jalan bisa makan waktu 3-4 jam!!! Banyak orang saling berebutan jalan
Di suatu hari Rabu, tak kuasa sampai ke sekolah pada waktunya, aku minta rekanku untuk menggantikan. Alhamdulillah, bisa. Dan sampai sekolah, anak-anak ramai berkomentar, "Miss, kebanjiran ya?" Heu... Maaf ya anak-anak, Ms. Diah tak bisa hadir di kelas kalian.
Jadi ingat masa lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Sekolahku, sebuah sekolah negeri di kampung Dayeuhkolot, terletak nyaris di tepi sungai Citarum. Di setiap musim hujan (baca: musim banjir), kami datang ke sekolah hanya untuk membaca pengumuman bahwa sekolah diliburkan karena banjir. Ya, sekolah kami sudah langganan digenangi 'bajigur' limpahan dari sungai Citarum. Kalau sudah demikian, kami pulang untuk ganti baju, lalu kembali ke sekolah untuk main air. Jadi anak-anak sih senang aja, nggak belajar malah bisa seru-seruan main air bareng temen. 
Keriaan anak saat bermain di halaman sekolah. Libur ekstra akibat banjir.
(foto: dok. inilah.com)
Setelah air surut pun, kami masih belum bisa belajar karena sibuk kerja bakti membersihkan lumpur dan jejak banjir di sekolah. Nggak kebayang deh kalau jadi guru di masa itu. Apa kabar dengan target kurikulum yang mesti dikejar? Beberapa hari libur dadakan begitu kan tidak ada rencananya dalam kalender akademik. Ah... perjuangan guru-guruku di masa itu, sungguh luar biasa. Angkat topi untuk guru-guruku, bu Ida (kelas 1 dan 3), bu Engkom (kelas 2), bu Haryati (kelas 4), dan pak Ero (kelas 5 dan 6)serta bu Euis (pengajar PAI). Semoga barakah dan kasih sayang Allah selalu tercurah untuk Anda semua.

Sabtu, 16 Februari 2013

Irsyad Bike Day

Sabtu pagi, jadwal Sabtu on yang berarti jadwal kami untuk tetap hadir ke sekolah walaupun anak-anak tidak masuk sekolah. Tapi kali ini, beberapa anak ikut hadir di sekolah, selain anak-anak kelas 6 yang sudah mulai dengan program pengayaannya, ada pula anak-anak kelas 3-5 yang berdandan sporty, siap untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Irsyad Bike Day bulan ini.
Awalnya aku cuma merencanakan untuk mengambil beberapa foto dari partisipan Irsyad Bike Day kali ini, tapi ternyata akhirnya ikut juga. Berawal dari menumpang motor ms. Reni untuk jadi 'tim penyapu', motret-motret peserta dan menyemangati anak-anak untuk terus semangat nggowes. Salah seorang guru ternyata menyadari bahwa event ini ternyata menguras energi juga. Maka janjianlah kita untuk bertukar peran. Separuh jalan, kami bertukar tempat. Aku naik di sadel sepeda, dan dia pindah ke boncengan ms. Reni. Dan melajulah aku di atas sepeda pinjaman.
Nggak seperti yang dibayangkan, ternyata. Posisi sadel masih terlalu tinggi walaupun sudah direndahkan sampai pol. Aku mesti berjinjit jika perlu menjejak tanah. Posisi badan yang mesti agak membungkuk, bikin kurang nyaman juga saat bersepeda. Padahal yang kupakai ini sepeda bagus lho, yang dilengkapi dengan setelan gigi segala. Sepedaku dulu, yang cuma sekedar sepeda sederhana untuk pemakaian dalam kota, jauh lebih nyaman dibandingkan sepeda pinjaman kali ini. Jadi ngeri. Takut jatuh dan bikin cacat sepeda orang :p Ah, tapi akhirnya dijalani sajalah event Irsyad Bike Day kali ini. 
Briefing before biking
Sebagian partisipan Irsyad Bike Day kali ini.
Kami berkendara dari sekolah, melaju hingga depan Bale Seni Barli, lalu berputar di roundabout dekat sana. Melaju terus menuju cluster Jingganagara, lalu beristirahat sejenak di tamannya untuk mendengarkan penjelasan kak Radithya -salah satu atlet sepeda dari Irsyad- tentang safe cycling. Seru juga ternyata, mengetahui ini-itu tentang bersepeda yang aman dan nyaman. Mulai helm, sarung tangan, kacamata (gaya), pakaian yang nyaman dipakai, sepatu berkunci yang kompatibel dengan sadel sepeda, hingga speedometer imut yang bisa di-attach di sepeda kita. Jangan lupakan sun block dan botol minum. Sharing santai ini berlangsung dalam suasana santai. Sarat manfaat dan sangat bisa diaplikasikan dalam event IBD berikutnya. Terima kasih ya, kak Adit.
Sharing session di Taman cluster Jingganagara.
Safe cycling equipment, ki-ka: sarung tangan, helm, speedometer pink, pengatur shock breaker, hingga oli sepeda yang tersembunyi di dekat handle.
Radithya Fajri a.k.a. kak Adit sang atlet sepeda.
Setelah sesi tanya-jawab, kami pun siap-siap kembali ke sekolah. Aku masih mengendarai sepeda pinjaman hingga sekolah. Lumayan berkeringat, pegal (karena tidak biasa), tapi senang. Siap-siap ikutan Irsyad Bike Day lagi ah di bulan depan. Insya Allah.

Jumat, 21 Desember 2012

Berikan Susu Untuk Muridku

Di sekolah yang menjalankan sistem sekolah sehari penuh seperti sekolahku, anak-anak perlu energi yang cukup untuk berkegiatan sepanjang hari. Untuk itu tentu mereka perlu asupan energi yang cukup. Dalam satu kesempatan bermain switch seat, satu kalimat yang kunyatakan adalah, "Switch seat for students who drinks milk this morning." Ternyata yang berpindah tempat duduk hanya beberapa orang saja. Mengejutkan!
Kukira semua anak di sekolahku minum susu tiap pagi, bahkan mungkin tiap pagi dan malam. Tapi ternyata, banyak dari mereka lebih suka minum air bening saja sebagai pendamping sarapan. Beda ya denganku dulu? Aku makan roti dengan susu untuk sarapan. Dan itu kulakukan hampir tiap hari. Tapi anak-anak sekarang memang tak bisa disamakan dengan jaman kita dulu.
Walaupun begitu, kupikir minum susu di pagi hari baik lho untuk asupan gizi dan energi anak-anak. Kebanyakan susu yang beredar di pasaran mengandung zat gizi yang berguna untuk proses tumbuh-kembang anak. Salah satu yang kuamati adalah produk Milkuat Danone yang satu ini, karena dia mempunyai beberapa keistimewaan. 
Bentuknya Unik
Dengan figur kepala harimau, kemasan botol ini menjadi unik. Untuk beberapa anak, ini jadi daya tarik tersendiri. Sayang, botol ini tidak bertutup, jadi cukup beresiko tumpah saat dikonsumsi anak-anak kecil yang penuh kelebihan energi. Saat mereka minum dan tak langsung dihabiskan, mereka cenderung untuk meninggalkan botol ini di meja tanpa pengawasan. Mereka asyik bermain, berlarian ke sana ke mari. Dan ketika isi botol tumpah membasahi meja atau lantai, hm... ayo deh kita bersihkan sama-sama. 
Untungnya, Milkuat tiger tersedia dalam dua ukuran, yaitu 170  dan 95 ml sehingga orang tua dapat membekali anak dengan ukuran besar atau kecil sesuai keperluan.
Kandungannya Baik
Milkuat tiger mengandung zat gizi yang dibutuhkan anak di masa perkembangan. Produk ini mengandung ekstra kalsium, yang berguna untuk pertumbuhan tulang. Zat besi dan seng yang dikandung produk ini lebih tinggi dibandingkan susu lain yang sejenis. Zat besi dan seng berfungsi untuk membangun koneksi antarsel otak, serta membantu otak untuk mengantarkan informasi genetik kepada sel. Ini berarti membantu koordinasi gerak anak. Selain mineral, tentu saja susu ini juga memiliki kandungan protein, lemak, karbohidrat dan natrium serta vitamin. Lengkap-lah untuk anak di masa pertumbuhannya.  
Rasanya Asyik
Milkuat tiger ini hanya terdiri dari dua varian rasa, yaitu coklat (Chocolicious) dan strawberry (Strawberry Fantasy). Kedua rasa ini merupakan rasa favorit yang digemari anak-anak. Sementara itu, ada yang baru pada varian rasa coklat. Dengan kemasan yang berwarna lebih muda, terkesan lebih ringan dan bersahabat. 

Minggu, 16 Desember 2012

Belum Lima Menit!

Kelamaan...! Tapi itu yang biasa diucapkan banyak orang saat makanan mereka jatuh ke lantai. Sayang untuk dibuang begitu saja. Dengan alasan 'belum lima menit', atau mungkin belum lima detik, atau bahkan ada yang sedikit strict dengan aturan belum tiga detik. Tapi bahkan tiga detik pun sudah terlalu lama. Begitu menurut studi yang dilakukan di University of Arizona. Faktanya, 50% pria mempercayai bahwa makanan yang jatuh ke lantai, masih aman dimakan selama belum menempel selama 5 detik, bahkan perempuan yang mempercayai hal ini mencapai angka 70%.
Faktanya, bakteri bisa ada di mana saja, dan kita boleh takjub bahwa kecepatan mereka untuk menempel di makanan yang jatuh ke permukaan lantai atau bahkan meja makan sekalipun, ternyata cepat sekali. Dan saat kuman itu masuk ke tubuh kita bersama makanan, kita perlu waspada. Untuk aku yang anak kampung, makan makanan 'kotor' bukan masalah besar. Lambung dan ususku cukup kebal bahkan mungkin 'bersahabat' dengan beberapa kuman. Tapi untuk murid-muridku yang rata-rata 'anak kota', yang terbiasa dengan pola hidup (teramat) higienis, kuman bisa jadi adalah salah satu musuh besar mereka. Salah makan sedikit bisa berakibat masuk rumah sakit. Hmm... apakah aku berlebihan? Rasanya tidak. Cukup sering isi kelas tak lengkap karena ada saja anak yang sakit.
Sudah jadi salah satu tugas dan tanggung jawab guru untuk ikut memperhatikan menu dan pola makan murid-muridnya. Boleh dibilang, aku termasuk 'polisi' di sekolah. Selalu kuingatkan anak-anak untuk menghabiskan makanan yang sudah mereka ambil sendiri ke piring mereka, juga (minimal) mencicipi sayur yang dihidangkan. Sampai beberapa murid kelas atas mengingatku sebagai miss Veggie karena setiap ketemu mereka saat makan siang, kerjaanku cuma mengingatkan mereka untuk makan sayur belaka :p 
Nah, kalau mereka tidak suka dengan makanannya, mulai deh aksi membuang sedikit-dua dikit makanan ke meja makan atau bahkan menjatuhkannya ke lantai. Ya itu dia yang jadi alasan untuk membuang-buang makanan. Aku nggak suka deh kalau lihat meja dan lantai kotor berantakan. Mengundang kuman dan lalat ke sekitar. Susahnya, kalau anak diingatkan untuk membersihkan, mereka suka beralasan bahwa itu bukanlah sampah yang dihasilkan olehnya (padahal kalau bantu membersihkan, itu jadi ladang pahala buat mereka kan, selain menciptakan lingkungan bersih yang keuntungannya buat mereka juga). Tapi terkadang, komentar mereka bikin aku meradang juga, karena katanya, "Aku nggak mau mberesin. Biar OB (Office Boy) ajalah yang mberesin. Mereka kerja untuk itu kan?" Masya Allah... jika kebersihan sebagian dari iman, apa cuma staf OB aja yang beriman?

Minggu, 09 Desember 2012

Laguku-Doa Untuk Ayah dan Ibu

Beberapa waktu lalu aku mengikutkan satu lagu karyaku dalam Festival Lagu Anak Nusantara 2012. Rasanya sih (menurut aku sebagai pengarang lagunya), lagu itu bagus. Haha, subjektif sekali kan ya? :p Aku minta seorang teman di sekolah yang jagoan main gitar untuk mengiringi aku menyanyi, merekam kembali lagu itu untuk dikirimkan kepada panitia lomba. Berharap menang? Tentu saja. Apalagi dengan godaan hadiah yang berjuta-juta, wah... aku sudah berharap cukup banyak. Kalau menang, lumayan buat nambah-nambah biaya reparasi mobil katana-ku yang akhir-akhir ini bolak-balik masuk bengkel :-(
Tapi ternyata, bahkan lagu karyaku itu tidak masuk jajaran finalis sama sekali. Kecewa, pastilah terasa. Tapi tak perlu dirasa berlama-lama kan? Lagu itu sempat juga kuajarkan kepada murid-muridku. Anak-anak kelas 3 atau 4 di tahun ini, mungkin masih hapal lagu itu. Lagunya yang manna siiiih? Ayo deh, aku buatkan file audio-video dalam bentuk movie maker. 
Utak-atik movie maker, ternyata nggak sebentar juga. Komputer yang kupakai sudah agak penuh nih muatannya (jadi agak-agak lemot, gitu :p), berakibat 'prosesi' bongkar-pasang rangkaian foto yang kujadikan sebagai ilustrasi pengiring lagu jadi makan waktu. Lammaa... Aku sengaja pakai foto-foto keluarga saja, supaya terabadikan dalam file. Awalnya mau comot gambar dari sana-sini, tapi khawatir di kemudian hari ada claim hak cipta atau bagaimana, nah... untuk amannya aku pakai foto-foto dari keluarga dekat saja. Mereka iklash & ridho, foto-fotonya kupakai di video ini :)

Jelang sore, file video movie maker itu akhirnya selesai. Ku-upload di youtube ya. Silakan buka link-nya, dengar dan apresiasi. Aku membuka diri untuk kritik dan saran. Tahun ini, anak-anak kelas 1 yang dapat giliran kuajari lagu ini. Ada yang sempat mempertanyakan, nyaris protes, "Miss, bukannya nggak boleh doa dinyanyi-nyanyiin?" tanya anak itu tempo hari. Hmm... gimana ya? Kayaknya, kalau yang begini masih boleh deh. Akhirnya mereka mau juga sih diajari lagu ini. Sesekali, mereka menyenandungkan lagu ini di kelas. Saat dinyanyikan sepenuh hati, siapa tahu jadi doa yang langsung didengar Allah. Mari kita aminkan.

Sabtu, 01 Desember 2012

"Miss, Abis Kondangan Ya?" :p


Aku termasuk guru yang jarang berdandan ke sekolah. Pagi-pagi memang seringkali berdandan lengkap (psst, yang kumaksud dengan dandan lengkap itu ya pelembab dan foundation, bedakkan juga tentunya. Tambah lipgloss dan lipstick senada busana pada hari itu, nah sudah.) Tapi selepas dzuhur, sesudah bedak luntur oleh keringat dan air wudhu, aku jarang touch up. Jadinya wajah tampil natural saja hingga sepulang sekolah di sore harinya. 
Dan hari itu aku terlambat datang ke sekolah. Mau perpanjang SIM yang sudah expired beberapa bulan yang lalu :p. Untuk keperluan ini, tentu mengharuskan aku untuk berfoto. Dan untuk tampil maksimal di foto, aku nambah dandanan sedikitlah... Cuma nambah eye intensity pencil di lingkar luar mata bagian atas, sebagai pengganti eye liner. Tapi tampilan wajahku secara keseluruhan langsung kelihatan beda-lah. 
Hari itu, aku juga sekalian mengurus pajak kendaraan yang memang habis di akhir bulan November lalu. Maka aku datang terlambat sekali ke sekolah. Tengah hari, saat makan siang, aku baru sampai, dan  langsung menuju ruang makan tempat murid-muridku mulai menikmati menu makan siang mereka. Beberapa dari mereka menyempatkan untuk menyapa, dan pertanyaan mereka nyaris seragam, "Miss, baru dari kondangan ya?" Haha... Efek apa sih aku disangka pulang kondangan? Efek baju warna fuschia, atau gara-gara riasan mata yang tak biasa? Hadeuh... sekali-sekali gurunya dandan cantik, boleh kan...? Nggak mesti cantik cuma buat ke kondangan. Diajarin sama yang cantik, bukannya lebih asyik? ;)

Senin, 19 November 2012

Ekskul Kali Ini

Aku kembali membantu mengkoordinir unit ekstra kurikuler Art yang diselenggarakan sekolah kami bekerja sama dengan Bale Seni Barli. Tahun ini, beberapa kali kami jadwalkan anak-anak ke BSB untuk beraktivitas di sana. Pertimbangan ini dibuat dan diputuskan untuk memudahkan pengajar saat beraktivitas. Kadangkala, sesi ekskul Art ini memerlukan berbagai peralatan pendukung, dan di BSB yang memang pusat belajar seni di area Kota Baru Parahyangan -dan kebetulan cukup dekat dengan sekolah kami- berbagai sumber daya cukup tersedia. Tidak hanya crayon dan pensil warna, tentunya, tapi juga kapur, arang, cat dan kuas, kertas lipat, lilin, tanah liat, lukis kaca, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, prosesi antar-jemput anak-anak ini jadi agak 'merepotkan'. Partisipan ekskul Art tahun ini jumlahnya mencapai 30 orang, mulai dari anak kelas 1 yang jumlahnya belasan sampai dua orang anak kelas 5. Keberadaan kendaraan pengantar-jemput menjadi teramat penting. 
Setelah dismissal, aku segera bersiap berangkat ke Bale Seni Barli. Kendaraan tak selalu tersedia, mengingat satu kendaraan sekolah dimanfaatkan bersama oleh segenap warga sekolah. Kadang sedang ngantar/jemput pejabat ke bandara, kadang sedang dipakai belanja ke Cibadak atau area Bandung lainnya, mobil belum datang karena terjebak macet di Pasteur, atau mengantar tamu agung keliling Bandung. Pasrah deh kalau sudah begitu kejadiannya. Tak jarang aku pergi ke BSB dengan membawa anak-anak di mobil Katana yang kukemudikan sendiri. Pengennya sih, ikut naik kendaraan jemputan. Sekali-sekali jadi penumpang, enak juga kan...? ;)
Sampai di arena BSB, anak-anak masuk ruang kelas, lalu dipandu oleh pak Epi sang pengajar ekskul, mereka pun bersegera mengerjakan project demi project yang dicontohkan oleh pak Epi. Seru. Semua tampak antusias di setiap sesi kegiatannya. Beberapa project yang dikerjakan antara lain:
Foto bersama sambil menunggu kendaraan jemputan datang. Cheers!!!
Origami berwarna. Dengan lipatan sederhana yang bisa jadi kantong pensil atau nota kecil, bisa digantung di pintu kamar atau kulkas. Hari itu juga, anak-anak langsung membawa pulang hasil karya mereka. Semua senang dengan hasil karyanya. 
Pak Epi sedang memberi saran dan apresiasi atas karya salah satu anak.
Gambar hitam-putih. Sambil latihan menggunakan kuas sebagai persiapan project Art selanjutnya. Ayo, beranikan diri, jangan ragu-ragu untuk menggambar. Usahakan jangan sampai salah ya. Kalau salah mencoret garis, ayo pinter-pinter ngakalinnya jadi gambar.
The boys in action.
Lukis hewan. Awalnya anak-anak belajar menggambar sosok hewan tertentu. Dan project melukis hewan (kuda, keledai dan zebra) merupakan hal yang menantang untuk anak-anak. Mereka antusias di setiap sesinya. 3 pekan mereka menyelesaikan project lukis ini. Dan di pertengahan Desember nanti, insya Allah ada program melukis di Kebun Binatang Bandung bersama dengan anak-anak sanggar lukis BSB. Yuk, ikutan yuuk...!
Project lainnya? Ah, jangan dibocorkan di sini semua dong. Biasanya di akhir semester nanti hasil karya anak-anak ini dikembalikan kepada mereka, bersama dengan laporan perkembangan mereka selama mengikuti aktivitas ekskul selama satu semester.
Nah, usai mengerjakan project Art mereka, biasanya aku harus 'menggiring' mereka untuk shalat ashar sebelum kembali ke sekolah. Jam setengah lima sore, jika kendaraan penjemput sudah datang, mari kita pulang. Naik mobil jemputan, umpel-umpelan. Belasan bahkan 20-an anak harus masuk sekali angkut di kendaraan jemputan yang akan segera digunakan untuk mengantar pulang anak-anak sekolah ke rumahnya masing-masing. Ribet banget deh. Sisanya? Mari masuk Katana lagi, kuantar ke sekolah lagi.

Minggu, 18 November 2012

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)

Postingan sebelumnya tentang field trip sebetulnya sudah cukup panjang, tapi memang cerita field trip ke Tahura Juanda belum selesai. Ayo, kita lanjutkan dengan rangkaian kegiatan berikutnya.  
Seriusnya Udi, Langie dan Adam. Masih pegang LKS, mencari sampel daun.
Dalam perjalanan menyusuri beberapa titik poin pembelajaran (Recycle, Cooking Session, Biopori, Composting), kami pun melakukan penelitian kecil mengenai biodiversity. Tugas kami adalah mengamati ragam pohon yang ada di Tahura Juanda dan mengumpulkan sampel daunnya. Daun-daun dari pohon yang pendek tentu dengan mudah kami kumpulkan. Petik satu daunnya, masih bolehlah. Tapi untuk pohon yang tinggi? Tak mungkin kami memanjat batang pohonnya yang besar dan tinggi menjulang. Minimal, kita ketahui nama-nama pohonnya, bentuk daunnya, dan tak lupa untuk mensyukuri oksigen siang hari yang begitu segar, dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Anak-anak terlihat senang, tapi beberapa orang bolak-balik memohon, "Miss... boleh makan ya...?" Haduh... sebentar lagi ya, nak. Kita akan makan siang bersama. Segera setelah sampai di 'base camp'.
Usai pengamatan di pos Composting, hujan rintik-rintik mulai turun. Hwaduh, anak-anak sibuk mengeluarkan jas hujannya. Semua ingin pakai jas hujan lengkap. Kan sudah berbekal dari rumah ;) Hujannya tidak deras sih, hanya sekedar gerimis saja. Tapi ya... ayolah kita pakai jas hujan lengkap. Dan pasukan berjas hujan pun siap melanjutkan perjalanan kembali. Mari...!
Sampai di base camp, kita siap-siap makan siang dan shalat. Shalat dulu deh. Subhanallah... anak-anak shalih ini. Mereka -9 orang yang ada di kelompokku- shalat berjamaah dan dzikir bareng. Duh, anak-anak, semoga Allah ridho kepada kalian ya. 
Langie jadi imam, memandu shalat dan dzikir. Anak-anak perempuannya nggak kelihatan :p
Selesai shalat, kami pun siap makan. Menu makan siang yang disiapkan adalah nasi, perkedel tahu, rolade daging, sop sayuran dengan baso, kerupuk dan semangka iris. Yang lapar, makan dengan lahap dong, walaupun selalu ada anak yang bilang nggak suka ini-lah, nggak pengen itu-lah, sudah kenyang-lah, dan sebagainya. 
Usai makan, karena hujan sedikit menderas, makin banyak kelompok yang berteduh di base camp. Kebetulan, acara memang dilanjutkan dengan sesi sharing. Acara ini kembali dipandu oleh pak Viktor. Beberapa anak bergantian ke depan dan menyampaikan kesannya tentang kegiatan paling menarik yang diikutinya dalam rangkaian field trip kali ini. Jawabannya beragam, tentu saja. Suasana jadi begitu ramai, karena banyak anak yang berlomba untuk maju ke depan. Tapi ada yang nyenyak ketiduran, tak peduli sekitar yang ramai luar biasa :p Di tengah keramaian itu, kami pun diminta untuk menyelesaikan LKS yang kami pegang. Beberapa pertanyaan memang belum terjawab. Aku dan anak-anak laki-laki yang duduk di satu baris, bersama-sama membahas pertanyaan demi pertanyaan, dan mereka berebutan untuk menuliskan jawabannya di LKS. Senangnya punya murid-murid yang bersemangat begini. Semangat terus ya nak, semangat mengejar ilmu, di dalam dan di luar kelas. 
Rangkaian kegiatan terus berlanjut. Kali ini saatnya permainan tradisional. Ada dua sesi permainan tradisional yang diperkenalkan di sesi ini. Yang pertama adalah permainan dengan untaian karet ganda. Simse, namanya. Sebagai anak kampung, aku kenal permainan karet ini dan tentu saja aku juga cukup sering main simse bersama teman-teman masa kecilku dulu. Melihat anak-anak masa kini yang terlihat kaku dan canggung, aku jadi gemes. Jadi pengen ikut main. Hayu ah, sesi berikutnya, giliran guru-gurunya yuk! 
Main simse yang (mestinya) seru ini sedikit berubah jadi membosankan. Anak-anak kelamaan nunggu, dan mereka mulai berlarian ke sana-ke mari. Guru-guru mesti kejar-kejaran deh sama anak-anak aktif itu, menjaga supaya mereka tetap terlihat di arena. Kalau hilang satu kan nggak lucu :p. Nah, permainan selanjutnya adalah gatrik. Ini pun permainan seru. Anak-anak bergantian memegang tongkat untuk melontarkan tongkat kecil lainnya untuk ditangkap kelompok lawan. Semua ingin dapat giliran. Seru sih. Nah, yang namanya permainan tradisional, memang seru kan? Yuk kita sering-sering mainnya. Bikin segar badan, juga pikiran. 
Ngantri main gatrik. Asyiik...!
Selesai bermain, kita siap-siap pulang yuk...! Sebelum pulang, kami kembali berkumpul di arena panggung. Anak-anak diminta untuk menulis atau menggambar kesan mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan di Tahura Juanda kali ini. Ada yang menggambar, ada yang menulis cerita, ada juga yang menulis puisi. Secara sekilas, karya mereka dicek oleh tim juri yang terdiri dari pak Viktor dan romo Ferry. Dan terpilihlah puisi tentang kesegaran udara yang ditulis Donna (siswa Primary 3). Congrats!
Dalam perjalanan pulang, anak-anak di bus 1 masih seperti kelinci dengan baterai yang tak habis-habis. Masiiih saja bergerak ke sana-ke mari, dengan suara yang masih bisa disetel kencang di level 5, padahal standar bicara mestinya di level 2 saja :p. Sementara itu, rata-rata gurunya sudah pada ngedrop baterainya hingga tinggal satu-dua garis saja. Mungkin karena faktor usia, ya. Ya... ya... aku harus ngaku sebagai salah satunya. Biarpun begitu, kami tetap bolak-balik mengingatkan anak-anak untuk duduk manis, terutama ketika bus sedang bergerak. Tapi malang tak dapat ditolak. 
Dalam satu kesempatan, bus ngerem mendadak, dan banyak anak terbentur ke kursi depannya. Seorang anak yang duduk di baris paling depan mengaku bahunya sakit karena bertahan pada tiang di belakang sopir. Sementara itu, satu anak lainnya terjatuh cukup keras ke lantai bus. Luka. Walaupun begitu, dia tidak menangis sama sekali. Sepanjang sisa perjalanan ke sekolah, eh... dia malah ngantuk. Tapi tentunya kami cemas juga. Kami kontak orang tuanya, dan kami temani di UGD RSCK yang terletak di dekat sekolah. 
Selama di UGD, setelah ditangani dan menanti dokter untuk konsultasi, baterainya seperti di-charge kembali. Ceritaaaa terus. Jalan-jalan juga ke sana ke mari. Nggak ada matinye deh. Tapi dokter tetap memberi surat sakit untuknya. Istirahat di rumah dan cepat sembuh ya, Mirace. Kami tunggu kehadiran Mirace kembali di sekolah, sehat, ceria, dan semangat kembali. 
Yang tertinggal dari moment field trip semester 1. Saat menanti di depan arena. Anak-anak P1 Andalusia tanpa 5 orang yang tidak bisa ikut serta di kegiatan ini. Salah satu form teacher-nya -yaitu diriku- juga tak nampak dalam foto karena memang aku yang pegang kamera. Ayo, bilang P1 Andalusiaaaa :D

Sabtu, 17 November 2012

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 1)

Semester pertama ini, jadwal Field Trip Al Irsyad Satya adalah ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, Dago. Hari Selasa, 13 November lalu, kami berangkat dari Kota Baru Parahyangan Padalarang menuju Dago. Terlambat lebih dari satu jam, entah menunggu apa, akhirnya kami pun berangkat. Dari 11 orang yang dikelompokkan bersamaku, hanya 9 orang yang bersedia untuk ikut berpartisipasi, dan salah satunya akan dijemput di kawasan Dago karena memang dia berdomisili di sana. 5 bus berangkat beriringan. Kelompok kami ada di bus 1, bersama 2 kelompok anak-anak kelas 1 lainnya dan 2 kelompok anak-anak kelas 4.
Sepanjang perjalanan, anak-anak tak bisa diajak diam. Selain mulutnya yang tak henti makan (begitu duduk, langsung siap-siap mengeluarkan bekal snack mereka ;)), mereka juga bicara dengan suara riuh, ditambah lagi dengan gerakan mereka yang luar biasa. Berdiri, berputar, melompat, berlarian (maunya) ke depan dan ke belakang bus, berpindah-pindah tempat duduk dengan teman, hingga akrobatik (ya... ya... aku memang sedikit melebih-lebihkan). 
Pendek kata, sampailah kami di Tahura Juanda. Disambut oleh tim Spice yang berseragam kaos hijau, kami pun siap berkegiatan sesuai dengan arahan mereka. Spice ini merupakan vendor penyelenggara paket kegiatan field trip kali ini. 
Setelah seluruh bus tiba dan semua tim berkumpul, perjalanan pun dimulai. Kelompok 1 (kelompok kami) mulai jalan lebih dulu. Yell kami, "Grup satu, siap maju!" Sementara grup 2 "Oke!" dan grup 3 "Ready!". Ini jadi salah satu kiat kami untuk menyatukan perhatian anak-anak agar fokus kembali. 
Tiba di lokasi, baru turun dari bus. "Grup satu, Siap maju!"
Berjalan melintasi hutan pinus. Hmm... udaranya sejuuk.
Mari kita jalan, menuju lokasi pertama untuk pembekalan awal. Kami semua berkumpul di seputar arena panggung untuk mendengarkan sambutan dari Spice dan Tahura Juanda. Ada pak Victor dan romo Ferry di sana. Setelah pembekalan singkat, kami pun mulai jalan kembali. Dengan dibekali LKS untuk dikerjakan, kelompok kami siap menjalani rangkaian kegiatan dan melaksanakan semua tugas. Grup Satu, siap maju! teriak 9 anak di kelompokku dengan bersemangat.
Sambutan selamat datang dari pak Viktor untuk rombongan Al Irsyad Satya
Pos pertama yang kami singgahi adalah pos Recycle. Dipandu oleh tim dari Eureka ITB, kami membuat beragam proyek yang berbeda. Kelompok kami mendapat proyek membuat kincir angin pengangkat beban, sedangkan kelompok sebelah mendapat proyek mobil bertenaga angin (dari balon). Seru lho.
Membuat mobil tenaga angin dari botol bekas air mineral.
Pos selanjutnya adalah cooking session. Sambil menunggu giliran untuk memasak (atau memakan) kue cubit, anak-anak (eh, alhamdulillah, gurunya juga) dapat jatah donat sebagai snack pagi. Ampuun deh, anak-anak bolak-balik ingin pilih sendiri donat favoritnya. Ada yang keukeuh ingin donat coklat meises, ada yang mau donat serupa dengan yang didapat oleh karibnya, atau ada juga yang pasrah dengan donat gula dan selai blueberry atau topping/rasa lain. 
Setelah makan donat, saatnya mencicip kue cubit. Kakak-kakak kelas besar dipandu untuk mencoba memasak sendiri, sedangkan adik-adik kecil kelas satu cukup dengan menonton saja dan boleh mencicip kue cubit satu satu. 
Belajar membuat kue cubit. Kak Vikri terlihat terampil meminyaki cetakan kue cubit.
Setelah mencicip kue cubit, kami berjalan lagi untuk belajar tentang manfaat lubang biopori. Anak-anak kelas besar memperdalam lubang dengan alat khusus (umm... apa ya namanya? Aku lupa :p), sedangkan anak-anak kelas kecil mulai membuat lubang dengan sendok semen. Gantian ya pakainya. Hadeuh... mereka rebutan ingin ikut andil membuat lubang. Seru kan, 'main tanah' :p Kalau nggak dipandu, hasilnya pasti cuma ngacak-ngacak tanah aja. Untungnya, anak-anak di kelompokku kooperatif sekali. Mereka mau dipandu, diarahkan, diberi contoh, belajar sabar dan menggali bergantian. 
Gali lubang biopori. Iih, Faqih kok tiga kali menggali. Aku cuma dua :p
Usai menggali lubang biopori, kami kembali berjalan menyusuri hutan, menuju pos berikutnya, sambil mengamati pohon dan mengambil sampel beberapa daun tertentu. Dari 8 sampel daun yang diminta, dua tak berhasil kami kumpulkan. Tapi kami menemukan pohon yang cantik, dengan kulit pohon berwarna seperti lembayung. Ayo, berfoto dulu...! Sayang, keindahan pohon ini tidak tertangkap sempurna oleh kamera yang kupunya. Makanya, harus datang langsung deh untuk melihat keindahannya dengan mata dan kepala sendiri ;)
Bergaya di depan pohon berkulit lembayung :)
Selesai sesi foto, kami menyusul teman-teman lain di pos pembuatan kompos atau pupuk hijau. Anak-anak menyimak penjelasan petugas sambil sesekali mengamati mesin pencacah daun yang kemudian sengaja dioperasikan oleh bapak petugas. Tak berapa lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai mengguyur tanah Dago.
Adam dan Aya lagi apa siiiih? Padahal yang lain sedang asyik menyimak.
Kisah lanjutannya insya Allah ditulis di Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2) ya.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Searching, Googling, Teaching

Tahun pelajaran 2012-2013 ini aku kembali ke bidang keahlian dasarku, Seni. Aku diberi tanggung jawab untuk mengajar materi Art & Culture untuk seluruh kelas di level Primary. Back to basic kalau begini caranya. Sungguh aku senang, karena akan bisa fokus di bidang yang kusukai dan kukuasai. Walaupun kadang-kadang ada saja guru-guru mata pelajaran lain yang memanfaatkan media seni untuk mengajar dan mengajak anak belajar. Dunia seni memang universal, bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh siapa saja.
Sekarang kembali lagi kepada aku sebagai guru. Aku tak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada keberadaan buku panduan standar, maka harus rajin-rajin mencari referensi. Untuk resource gambar, dunia maya menyediakan rentang yang sangat luas. Tak hanya aku yang bisa memanfaatkannya. Guru lain dengan korelasi tertentu untuk mata pelajaran mereka pun sangat bisa mendapatkan sumbernya dari aktivitas searching dan googling. 
Untuk aktivitas berkarya dan berkriya pun, dunia maya merupakan sumber yang nyaris tak ada habisnya. Bisa seharian aku mengubek-ubek cyber area itu dan selalu menemukan hal-hal baru yang bisa kumanfaatkan atau jadi inspirasi untuk kubawa ke ruang kelas. Tak jarang, aku perlu juga langkah-langkah pembuatan suatu karya tertentu. Kalau yang ini, memang masih agak sulit menemukannya. Jadi harus rajin-rajin mengulik dan mencari kata kunci yang pas untuk menemukan sumber yang tepat.
Nah, dari aktivitas googling itu, ternyata aku menemukan beberapa blog crafter Indonesia yang luar biasa kreatif. Aku yang memang suka dengan benda-benda kriya yang orisinil, handmade product yang dibuat dengan cinta, menemukan sumber ide yang menarik, bisa diadaptasi ke dalam proyek seni murid-muridku. Selain itu, di satu-dua kesempatan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan hadiah gratisan alias giveaway. Senangnya... mendapat inspirasi dan ide kreatif saja sudah menyenangkan. Jika bisa mendapatkan salah satu hadiah giveaway-nya sekalian, wah... kesenangan berlipat ganda tuh. Yang mau ikut serta 'bersaing' untuk mendapatkan hadiahnya, silakan klik link berikut ini. Lengkapi syarat dan ketentuannya, lalu tunggu hasilnya. Sementara itu, aku sih kembali ke kelas saja. Mengajar lagi. Mariii...!

Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri

Waah, lama nggak update blog ini, banyak moment terlewat. Upacara kelulusan, liburan sambil kerja di Pelabuhan Ratu, hari-hari awal masa sekolah, yang dilanjut dengan rangkaian kegiatan Ramadhan. Seluruhnya sungguh luar biasa.
Kali ini, bahas tugas terakhir untuk anak-anak sebelum libur lebaran saja ah. Sebagai guru kesenian (alhamdulillah, tahun ini full jadi guru kesenian lagi, khusus buat level Primary), tugas yang kuberi untuk anak-anak ya nggak jauh-jauh dari bikin karya seni. Dan jelang idul fitri begini, tugasnya tentu sangat bisa ditebak. Membuat kartu ucapan Idul Fitri. Setiap level punya tingkat kesulitan tersendiri. 
Untuk anak-anak kelas satu, ditugaskan untuk menggambar dengan tema masjidku. Hehe... konvensional sekali ya? Untuk kelas dua pun bertema serupa. Untuk kelas tiga pun masih sama, sebetulnya, tapi dengan detil tambahan di bagian dalamnya. Kertas lipat agak-agak pop-up untuk disisipkan di bagian dalam. Kupikir, ini adalah teori lipatan yang sederhana sekali. Hanya dua lipatan silang plus satu lipatan horizontal untuk menulis ucapan. Tapi untuk anak kelas tiga, bahkan kelas lima sekalipun, ini ternyata cukup rumit juga. Jadilah bikin gurunya keringatan. Ampuuun, target tak tercapai kalau gini. Teorinya, urusan lipat melipat ini cuma memerlukan waktu dua menit saja. Tapi ternyata mulurnya jadi 10 kali lipat!!! Serius, aku nggak mengada-ada. Begitu banyak tangan yang minta dibantu, dan akhirnya kartu yang mestinya bisa selesai dalam dua pertemuan saja, mulur jadi tiga pertemuan (3 pekan??? untuk membuat kartu sederhana begini???)
Kartu lebaran karya anak-anak kelas 3
Kartu lebaran untuk anak-anak kelas 4 juga bertema pop up. Tapi kali ini mereka harus membuat gambar yang akan ditempel sedemikian rupa di bagian dalam hingga akan jadi gambar munculan saat kartu dibuka. Rata-rata mereka senang mengerjakannya. Hasilnya? Lumayan jugalah. 
Kartu pop-up karya anak Primary 4
Kelas 5 membuat kartu dengan penyelesaian campuran dua media warna, yaitu crayon dan cat air. Dengan konsep garis crayon tak akan tertembus air, penyelesaian akhirnya dilakukan dengan sapuan cat air. Hasilnya lucu-lucu juga. 
Karya mixmedia Primary 5
Sayangnya, kelas 6 tak berhasil mencapai cita-cita. Kartu mereka tak selesai dieksekusi karena pada hari-H, sekolah kami sedang menyelenggarakan event lomba musik sahur, nasyid, dan lomba rangkai parcel. Kelas 6 nggak kebagian waktu untuk mengerjakan proyek kartu lebaran mereka. Maaf ya anak-anak... :(
Dan yang terakhir, kartu virtual dariku. Karena dibuat bersamaan dengan moment ulang tahun Indonesia, maka kartu ini mengambil tema warna merah-putih. Dari foto lama bunga di halaman rumah, hanya tinggal ditambahi teks. Sederhana saja. Semoga kesederhanaan ini juga berimbas ke kehidupan kita. Tak perlu bermewah-mewah, yang penting berkah. 
Selamat Idul Fitri 1433 H. Semoga Allah berkenan membawa kita meraih fitri di Syawal ini. Amiin.

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...