Tampilkan postingan dengan label Al Irsyad Satya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al Irsyad Satya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2016

Tutorial Origami Kotak Segi Empat

Membuat karya origami itu menyenangkan sekali. Kepuasan ketika berhasil menyelesaikan sebuah bentuk dengan sukses itu, whoaa... tak terkatakan. Tahun lalu, saya menugaskan pembuatan kotak segi tiga untuk murid-murid di kelas 6. Origami ini cukup njelimet untuk dibuat. Anak-anak kelas 6 tahun ini pun sudah belajar membuatnya. Setelah itu selesai, dilanjut dengan membuat kotak segi empat. Membuatnya bisa cepat kok. Tahap-tahap pembuatannya pun lebih sederhana dibandingkan dengan cara pembuatan kotak segi tiga. Buktikan sendiri yuk, lihat langkah-langkah pembuatannya di video di bawah ini.
Tutorial langkah-langkah pembuatannya, sudah tersedia di beberapa laman website di jagad maya sebetulnya, tapi ternyata saya sendiri masih agak pusing mencari tips dan trik paling sip untuk menyelesaikan kotak origami ini. Bertolak dari itu, saya beranikan diri untuk membuat tutorial cara pembuatan kotak segi empat ini. Di video berikut ini yaa.

Video ini memberi gambaran, bahwa sebuah karya, kotak segi empat hasil melipat-lipat kertas itu tidak serta merta terwujud dalam sekejap mata, tapi bisa cukup cepat dibuat jika mau memperhatikan secara cermat. Membuat video tutorial ini juga tidak sederhana walaupun tidak runit-rumit amat juga... . Kembali, video 'mission is possible' ini dibuat untuk ikut berpartisipasi di lomba vlog yang digelar Emak Gaoel.
Setelah berkutat dengan MovieMaker dan tidak kunjung sukses, saya pun melirik dunia maya, mencari-cari aplikasi movie maker online atau video maker gratisan. Ehehee... Ketemulah WeVideo ini yang langsung saya jajal untuk mengeksekusi video tutorial ini. Kali ini cara pembuatan tutup kotak segi empat.
Masih mengandalkan foto-foto hasil bidikan kamera dari posel cerdas saya yang standar saja adanya, bukan handphone canggih sekelas Smartfren Andromax, saya ambil belasan gambar di lantai ruang kelas setelah murid-murid pulang sekolah. Setelah itu, saya mengeditnya sedikit di Microsoft Office Picture Manager hingga foto-foto itu siap diunggah ke WeVideo. Menambahkan sedikit teks, menambahkan judul dan musik (bisa pilih-pilih sendiri di web tersebut), lalu sambungkan dengan account YouTube yang saya miliki Setelah itu, voila... tak berapa lama kemudian video tutorial ini sudah ikut nampang di jagad maya. Tapi yaa... namanya juga aplikasi gratisan, kualitasnya ya sekedarnya saja deh. Teks yang saya sertakan dalam video itu jadi tampak buram. Maaf maaf yaa, jika jadinya kurang jelas. :(
Untuk yang sudah melihat video tutorialnya, selamat berkarya membuat kotak segi empat ini ya. Jangan ragu untuk berkreasi dengan kertas berbagai warna dan motif. Kreasikan kertas polos dengan corak, atau polos dengan warna-warni serba seru. Mari berkarya lagiii...

Minggu, 07 Februari 2016

Beasiswa Al Irsyad Satya 2016

Tahun ini, Al Irsyad Satya kembali membuka peluang untuk bersekolah dengan beasiswa penuh untuk penerimaan siswa di tahun akademik 2016-2017. Syarat dan ketentuan bisa disimak di poster berikut ini. Silakan juga tanya langsung ke admin sekolah kami untuk mendapatkan penjelasan lebih terperinci.
Kesempatan ini terbuka untuk siswa kelas 6 yang akan masuk Secondary 1 di tahun ajaran depan, atau siswa kelas 3 SMP yang akan masuk Junior College. Untuk mempelajari tahapan sekolah dan ragam ketentuan lainnya, silakan kunjungi website resmi sekolah kami, alirsyadsatya.sch.id. 

Senin, 26 Januari 2015

Bismillaah-Pesan dari Ayah dan Ibu

Mulai pekan lalu, anak-anak Primary 1 belajar lagu baru. Apa ya judulnya? Setahu saya sih, Pesan dari Ayah dan Ibu (versi bahasa Indonesia) atau A Note from Mum and Dad (versi bahasa Inggris). Yang pertama saya ajarkan adalah versi basmalah berbahasa Inggris. Anak-anak mendapatkan catatan lirik lagu beserta satu area kecil untuk menggambar kebersamaan mereka bersama ayah dan bundanya.
Yang lucu terjadi di kelas P1 Andalusia. Ketika saya perdengarkan lagu ini untuk pertama kalinya, salah satu anak laki-laki berkomentar, "Aah, udah tahu. Tapi aku tahu yang bahasa Indonesianya." Ya, lagu ini memang saya dapat di sebuah pelatihan untuk guru, dari pak Widadi, salah seorang guru yang pada saat itu mengajar di SD Al Ikhlas Cipete. Anak yang sekarang di kelas ini tentu pernah belajar dari guru yang juga belajar dari pak Widadi. Yuk atuhlah, saguru saelmu, tong saling ngaganggu. Eh...?? :p
Tapi setelah saya nyanyikan lagu ini sekali, ada seorang anak laki-laki lain yang berkomentar, "Iiih, kok jadi pengen nangis ya..." Kemudian dia melihat berkeliling, mencari teman yang mungkin punya perasaan yang sama. Satu-dua anak mulai melow nih. Saya tak ambil pusing dengan apa yang terjadi di kelas itu, dan melanjutkan mengajarkan lagu itu, mengulangnya berkali-kali, bergantian. Tapi semakin sering diperdengarkan, rupanya anak-anak itu jadi semakin melow saja. Saya lihat, beberapa wajah sudah berurai air mata. Naon atuhlah...? Lagunya kan nggak melow juga.
pic: courtesy of P1 A's FT, Mr. Tj
'Cuma' begini aja kok lirik lagunya, masa sih bikin nangis berderai derai...? 
Jangan lupa, janganlah lupa
Kita baca basmallah
Sebagai tanda diawalinya
Perbuatan yang baik

Ingat slalu pesan ibumu
Ingat pesan ayahmu
Bismillahirrahmaanirrahiim
Harus dibaca slalu -3x
Sedangkan versi bahasa Inggrisnya seperti berikut ini:
Please don't forget, please don't forget
We always say basmalah
It is a sign to start everything
All good, everything we do

Remember what your mother says
Remember what your father says
Bismillahirrahmanirrahim
It must be always we say -3x
Versi hamdalahnya, menyusul kemudian yaa. Melodinya sama, hanya liriknya yang sedikit berbeda.
Setelah berkali-kali menyanyikan lagu ini, ternyata makin banyak wajah-wajah berurai air mata. Aaah, masa sih lagu begini sedemikian mellownya mengaduk-aduk isi hati anak-anak manis ini...? Nggak percaya rasanya. Tapi memang demikianlah yang terjadi. Hingga jam pelajaran berakhir, beberapa anak masih melanjutkan tangisnya, bahkan hingga saat bubaran sekolah (period mengajarku memang terjadwal di akhir hari). Dan inilah wajah-wajah mereka.

Minggu, 10 November 2013

Friendship Bracelet

Beberapa waktu lalu, aku kembali diminta mengisi sesi keputrian oleh anak-anak Secondary. Sesi keterampilan lagi, dan aku menyanggupi. Requestnya, mereka minta diajarkan cara membuat gelang. Hmm... gelang seperti apa ya yang cukup sederhana untuk dibuat dalam waktu kurang dari satu jam, tidak perlu banyak bahan untuk membuatnya (berarti bukan sekedar meronce manik-manik yaa), tapi cukup menarik untuk mereka. 
Browsing-lah sedikit, dan kutemukan banyak sumber di dunia maya tentang friendship bracelet ini. Siap-siap deh untuk mengajarkan pembuatan gelang ini. Aku sendiri mencoba membuatnya beberapa kali. Tidak susah, sebetulnya, karena prinsipnya adalah pengulangan simpul mati berkali-kali. Yang akrab dengan tali temali, tentu tak akan menemui kesulitan. 
Ketika sesi keputrian tiba, mengajari sekumpulan anak gadis ternyata memang tak semudah yang kupikir. Untuk mengurai benang saja, mereka minta bantuan berkali-kali. Kapan selesainya nih sesi bikin gelang ini, jika 10 menit pertama saja sudah dihabiskan hanya untuk mengurusi benang kusut?
Untuk menjalin gelang ini, aku sebetulnya hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan satu untainya. Tapi mengajari anak-anak ini, wow... kelihatannya aku perlu sesi private satu persatu. Semua anak minta dipandul Pusinglah aku berjalan ke sana ke mari. Di akhir sesi, hanya 4-5 anak yang cukup sukses menjalin gelang ini hingga belasan simpul, tapi mereka tetap harus melanjutkan di luar sesi karena waktu yang terbatas. Mereka harus segera shalat dzuhur dan melanjutkan belajar di kelas lagi. Sementar itu, satu gelang ungu kuberikan pada Ms. Firda, sebagai tanda pertemanan dengan guru English di Secondary itu.
Aku jadi ingin gelang lain, sebuah gelang persahabatan, gelang impian. Apakah Hayano Handmade bisa mewujudkan keinginan itu? Ketika Hayano Handmade menggandeng .lell. untuk menggelar event giveaway, ahh... aku jadi ingin salah satunya, Gelang dengan liontin menara Eiffel akan jadi afirmasi positif untuk mentargetkan mengunjunginya suatu saat kelak. Sedangkan gelang dengan gantungan lambang damai itu akan selalu jadi pengingat untuk jadi agen perdamaian. Yang mana aja deh, aku siap menerima salah satunya ;)

Minggu, 14 Juli 2013

Sekolah Lagiiii...!

Besok, Senin, 15 Juli 2013, saatnya kembali ke sekolah. Mari semangat lagi.
Tahun Pelajaran 2013-2014 ini aku 'pegang' kelas 1 lagi, tapi kali ini pindah kelas ke P1 Damascus. Berparter dengan gadis muda yang enerjik, yuk, kita bangun sinergi di sekolah ini dan di kelas kita, P1 Damascus khususnya. Selamat datang ke Sekolah Dasar, murid-muridku. Welcome to P1 Damascus. Let's enjoy the learning process together. To be honest, I -personally- want to learn from all of you. So let's learn from each other, and let's learn together.
Memulai hari pertama sekolah di bulan Ramadan begini, pasti berat. Tapi insyaAllah kita bisa. Semangat ya, semua... \(^ 0 ^)/

Kamis, 27 Juni 2013

Sport & Art Day 2013

Menutup tahun pembelajaran ini. Usai ujian kenaikan kelas atau Semestral Assessment 2 di sekolah kami, disambung dengan masa Checking Answer Script atau ujian susulan bagi yang sebelumnya berhalangan. Hectic juga sih, di dua hari itu. Pertengahan minggu, field trip ke Kidzania sudah dijadwalkan. Seru, dengan berbagai 'insiden'. Tapi cerita tentang itu akan aku tulis di blog posting yang lain ya. Kamis dan Jumat, 13 & 14 Juni 2013, saatnya menjalani event tahunan di sekolah kami, Sport & Art Day.
Hari Kamis diawali dengan Fun Bike & Fun Run, yang dilanjut dengan mendekorasi layangan. Seru-seruan. Ada yang memang sungguh-sungguh mendekorasi, membuat layangannya jadi cantik, tapi tak sedikit yang sekedar membuat lukisan (bukan) abstrak di atas layangan mereka. Tapi serunya sih seru aja. Sesi siang diisi dengan kegiatan menerbangkan layangan. Sayang, cuaca kurang bersahabat. Mendung tak berangin. Anak-anak berlarian tak karuan, tak jarang saling tabrak dalam upaya mereka untuk menerbangkan layang-layang. 
Kite Decorating. Pic: courtesy of Fauziah Hasny.
Hari kedua yaitu Jumat, diisi dengan aktivitas Circuit Games. Anak-anak dibagi dalam 13 kelompok, campuran dari kelas 1 hingga kelas 6. Setiap kelompok akan berjalan menyusuri 13 pos yang sudah disiapkan. Di setiap pos mereka harus melaksanakan tugas atau menjalani kegiatan tertentu. Setiap kali mereka sukses menjalani tugas itu, mereka akan mendapatkan poin. Nanti keseluruhan poin yang mereka dapat akan diakumulasi untuk mendapatkan pemenang circuit games ini.
Setiap pos dirancang untuk melatih atau mengembangkan salah satu potensi anak. Mungkin tidak secara akademis, tapi ada nilai positif yang ingin dikembangkan dari seluruh rangkaian aktivitas ini. Anak-anak bolak-balik bertanya mengenai pelajaran yang nggak dimulai-mulai, atau bahwa betapa menyenangkannya hari itu karena 'tidak ada pelajaran'. Ah... mereka belum menyadari bahwa ada pelajaran lain yang secara tidak disadari telah mereka pelajari dalam rangkaian kegiatan hari itu.
Pada intinya, ini dia pos-pos yang secara beruntun didatangi oleh seluruh kelompok:
Sondah (hop skotch). Ini adalah aktivitas yang sebetulnya sudah biasa dilakukan anak-anak. Mereka cukup familiar dengan salah satu bentuk/skema permainan sondah ini. Dalam kesempatan ini, sebagai salah satu penjaga pos, kukenalkan satu jenis sondah yang lain. Dulu kita menyebutnya sondah payung. Ya... sebut saja begitu. Kubuat skemanya di lantai koridor, dan siap menyambut anak-anak yang berkunjung ke pos satu. Mereka bersemangat untuk mengetahui aturan mainnya dan berusaha mengikutinya. Aku yang ngasih contoh (untuk 13 kelompok, gitu, dan tak jarang aku mesti ngasih contoh lebih dari sekali lompat-lompat di situ), end up with gemporness at the end of the day :p Peggeeeel, asli.
pics: courtesy of Bintu Qomar
Di pos berikutnya, membuat kincir/baling-baling dari kertas lipat. Jika sukses berputar, tiap anak dapat poin. Jika tidak, hm... silakan dibawa pulang sajalah ;) Ada pula basket dan boling mini, main ketapel, menangkap dan memindahkan belut, memindahkan hulahoop berantai, balap bakiak juga balap karung mini. Yang nggak kalah seru adalah lomba memindahkan matras secara berkelompok. Dibutuhkan kerjasama dan kekompakan dalam rangkaian proses membawa matras dari lapang bawah ke lapang atas ini. Yang serunya lagi, setelah poin selesai dihitung, matras bisa dilempar lagi ke lapang bawah. Seru sekali.
Seluruh rangkaian kegiatan ini, mengandung ragam nilai positif yang ingin kami kembangkan dari murid-murid kami. Melalui kegiatan ini mereka belajar menjalin kerjasama, memupuk sportivitas, meningkatkan daya juang dan kerja keras, belajar tekun dan sabar, serta banyak lagi yang lainnya. Lelah fisik di akhir hari, akan terbayar di kemudian hari ketika potensi positif ini muncul dari murid-murid kami. Semoga berkah, anak-anakku. Semangat selalu!

Sabtu, 06 April 2013

Tim Security Sekolah Kami

Tim Security sekolah kami sigap sekali. Terdiri dari (saat ini) belasan anggota G4S yang ramah tapi selalu siaga. Dikomandani oleh seorang yang matang pengalaman, Pak Iwan namanya. Beliau ini komandan tim Security di sekolah kami. Kepiawaiannya tidak hanya soal pengamanan lingkungan sekolah, tapi juga berbagai hal lainnya.
Bela diri? Beliau pasti bisa-lah. Urusan seni rupa, beliau pun mahir. Beberapa signage di lingkungan sekolah, beliau yang buat. Tanda ini dibuat dengan memanfaatkan tutup kaleng cat yang ditulisi sendiri oleh beliau. Terkadang, di waktu senggangnya pak Iwan yang ramah ini juga meraut potongan batang sapu yang patah untuk dibuat jadi miniatur binatang-binatang kecil. Karakter seperti Badak, Jerapah dan Dinosaurus pernah menjadi modelnya. Anak-anak suka dan minta. Ikhlas saja diberikannya. Hmm... bisa dipertimbangkan nih untuk inval guru kesenian ;)
Kepiawaian beliau dalam berkomunikasi pun sangat baik. Beliau tahu kapan harus tegas, baik kepada tamu maupun kepada orang tua murid maupun penjemput lainnya. Beliau hapal satu persatu. Anak ini siapa ayah dan ibunya, kakak atau adiknya, nanny atau sopir penjemputnya, apa mobilnya, di mana rumahnya. Aiih, sungguh luar biasa ya. Dan beliau pun menuntut hal serupa untuk anggota tim lainnya. 
Sementara itu, beliau pun tak segan untuk terus belajar. Kelas Bahasa Inggris untuk Security tak pernah absen diikutinya setiap Jumat malam. Bersama sebagian anggota Tim Security lainnya, beliau selalu bersemangat mengikuti setiap sesinya.
Anggota Security lainnya pun tak kalah hebat, hanya 'kalah' soal pengalaman saja. 
Sebagian anggota tim Security shift pagi dan malam bersama sang komandan.
Ada pak Angga yang jago karate dan pecinta kucing. Mendadak mellow dia kalau ketemu kucing imut. Satu lagi yang mendadak mellow adalah pak Anton. Yang biasa tegas ketika bertemu tamu mencurigakan, tapi langsung lumer ketika harus membujuk anak untuk pulang setelah dijemput orang tuanya. Ada pula pak Ari yang tegas tapi lembut tutur katanya. Selalu siap kapan saja. Sigap sekali.
Ada pula pak Sofyan yang tak kalah sigap. Siapa pun bisa ditaklukkannya. Menghadapi tamu, beliau bisa ramah. Dan saat Idul Qurban tiba, beliau pun sangat piawai menangani para kambing. Ikut ngangon. (Waduh... maaf, bukan menyamakan antara tamu dan... domba) ;)
Masih ada lagi pak Wawan yang nyaris tak pernah lepas dari senyuman. Bahkan saat bilang 'Siap!' sekalipun :p Ada juga pak Wahyu yang relatif baru bergabung dengan G4S, dengan 4 anggota baru lainnya yang disiagakan saat gedung baru SMA diresmikan, yaitu pak Ferdian, pak Andi, pak Yandi, dan pak Jajang. Selamat bertugas, bapak-bapak semuanya. 

Sabtu, 16 Februari 2013

Irsyad Bike Day

Sabtu pagi, jadwal Sabtu on yang berarti jadwal kami untuk tetap hadir ke sekolah walaupun anak-anak tidak masuk sekolah. Tapi kali ini, beberapa anak ikut hadir di sekolah, selain anak-anak kelas 6 yang sudah mulai dengan program pengayaannya, ada pula anak-anak kelas 3-5 yang berdandan sporty, siap untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan Irsyad Bike Day bulan ini.
Awalnya aku cuma merencanakan untuk mengambil beberapa foto dari partisipan Irsyad Bike Day kali ini, tapi ternyata akhirnya ikut juga. Berawal dari menumpang motor ms. Reni untuk jadi 'tim penyapu', motret-motret peserta dan menyemangati anak-anak untuk terus semangat nggowes. Salah seorang guru ternyata menyadari bahwa event ini ternyata menguras energi juga. Maka janjianlah kita untuk bertukar peran. Separuh jalan, kami bertukar tempat. Aku naik di sadel sepeda, dan dia pindah ke boncengan ms. Reni. Dan melajulah aku di atas sepeda pinjaman.
Nggak seperti yang dibayangkan, ternyata. Posisi sadel masih terlalu tinggi walaupun sudah direndahkan sampai pol. Aku mesti berjinjit jika perlu menjejak tanah. Posisi badan yang mesti agak membungkuk, bikin kurang nyaman juga saat bersepeda. Padahal yang kupakai ini sepeda bagus lho, yang dilengkapi dengan setelan gigi segala. Sepedaku dulu, yang cuma sekedar sepeda sederhana untuk pemakaian dalam kota, jauh lebih nyaman dibandingkan sepeda pinjaman kali ini. Jadi ngeri. Takut jatuh dan bikin cacat sepeda orang :p Ah, tapi akhirnya dijalani sajalah event Irsyad Bike Day kali ini. 
Briefing before biking
Sebagian partisipan Irsyad Bike Day kali ini.
Kami berkendara dari sekolah, melaju hingga depan Bale Seni Barli, lalu berputar di roundabout dekat sana. Melaju terus menuju cluster Jingganagara, lalu beristirahat sejenak di tamannya untuk mendengarkan penjelasan kak Radithya -salah satu atlet sepeda dari Irsyad- tentang safe cycling. Seru juga ternyata, mengetahui ini-itu tentang bersepeda yang aman dan nyaman. Mulai helm, sarung tangan, kacamata (gaya), pakaian yang nyaman dipakai, sepatu berkunci yang kompatibel dengan sadel sepeda, hingga speedometer imut yang bisa di-attach di sepeda kita. Jangan lupakan sun block dan botol minum. Sharing santai ini berlangsung dalam suasana santai. Sarat manfaat dan sangat bisa diaplikasikan dalam event IBD berikutnya. Terima kasih ya, kak Adit.
Sharing session di Taman cluster Jingganagara.
Safe cycling equipment, ki-ka: sarung tangan, helm, speedometer pink, pengatur shock breaker, hingga oli sepeda yang tersembunyi di dekat handle.
Radithya Fajri a.k.a. kak Adit sang atlet sepeda.
Setelah sesi tanya-jawab, kami pun siap-siap kembali ke sekolah. Aku masih mengendarai sepeda pinjaman hingga sekolah. Lumayan berkeringat, pegal (karena tidak biasa), tapi senang. Siap-siap ikutan Irsyad Bike Day lagi ah di bulan depan. Insya Allah.

Sabtu, 01 Desember 2012

"Miss, Abis Kondangan Ya?" :p


Aku termasuk guru yang jarang berdandan ke sekolah. Pagi-pagi memang seringkali berdandan lengkap (psst, yang kumaksud dengan dandan lengkap itu ya pelembab dan foundation, bedakkan juga tentunya. Tambah lipgloss dan lipstick senada busana pada hari itu, nah sudah.) Tapi selepas dzuhur, sesudah bedak luntur oleh keringat dan air wudhu, aku jarang touch up. Jadinya wajah tampil natural saja hingga sepulang sekolah di sore harinya. 
Dan hari itu aku terlambat datang ke sekolah. Mau perpanjang SIM yang sudah expired beberapa bulan yang lalu :p. Untuk keperluan ini, tentu mengharuskan aku untuk berfoto. Dan untuk tampil maksimal di foto, aku nambah dandanan sedikitlah... Cuma nambah eye intensity pencil di lingkar luar mata bagian atas, sebagai pengganti eye liner. Tapi tampilan wajahku secara keseluruhan langsung kelihatan beda-lah. 
Hari itu, aku juga sekalian mengurus pajak kendaraan yang memang habis di akhir bulan November lalu. Maka aku datang terlambat sekali ke sekolah. Tengah hari, saat makan siang, aku baru sampai, dan  langsung menuju ruang makan tempat murid-muridku mulai menikmati menu makan siang mereka. Beberapa dari mereka menyempatkan untuk menyapa, dan pertanyaan mereka nyaris seragam, "Miss, baru dari kondangan ya?" Haha... Efek apa sih aku disangka pulang kondangan? Efek baju warna fuschia, atau gara-gara riasan mata yang tak biasa? Hadeuh... sekali-sekali gurunya dandan cantik, boleh kan...? Nggak mesti cantik cuma buat ke kondangan. Diajarin sama yang cantik, bukannya lebih asyik? ;)

Senin, 19 November 2012

Ekskul Kali Ini

Aku kembali membantu mengkoordinir unit ekstra kurikuler Art yang diselenggarakan sekolah kami bekerja sama dengan Bale Seni Barli. Tahun ini, beberapa kali kami jadwalkan anak-anak ke BSB untuk beraktivitas di sana. Pertimbangan ini dibuat dan diputuskan untuk memudahkan pengajar saat beraktivitas. Kadangkala, sesi ekskul Art ini memerlukan berbagai peralatan pendukung, dan di BSB yang memang pusat belajar seni di area Kota Baru Parahyangan -dan kebetulan cukup dekat dengan sekolah kami- berbagai sumber daya cukup tersedia. Tidak hanya crayon dan pensil warna, tentunya, tapi juga kapur, arang, cat dan kuas, kertas lipat, lilin, tanah liat, lukis kaca, dan lain sebagainya.
Di sisi lain, prosesi antar-jemput anak-anak ini jadi agak 'merepotkan'. Partisipan ekskul Art tahun ini jumlahnya mencapai 30 orang, mulai dari anak kelas 1 yang jumlahnya belasan sampai dua orang anak kelas 5. Keberadaan kendaraan pengantar-jemput menjadi teramat penting. 
Setelah dismissal, aku segera bersiap berangkat ke Bale Seni Barli. Kendaraan tak selalu tersedia, mengingat satu kendaraan sekolah dimanfaatkan bersama oleh segenap warga sekolah. Kadang sedang ngantar/jemput pejabat ke bandara, kadang sedang dipakai belanja ke Cibadak atau area Bandung lainnya, mobil belum datang karena terjebak macet di Pasteur, atau mengantar tamu agung keliling Bandung. Pasrah deh kalau sudah begitu kejadiannya. Tak jarang aku pergi ke BSB dengan membawa anak-anak di mobil Katana yang kukemudikan sendiri. Pengennya sih, ikut naik kendaraan jemputan. Sekali-sekali jadi penumpang, enak juga kan...? ;)
Sampai di arena BSB, anak-anak masuk ruang kelas, lalu dipandu oleh pak Epi sang pengajar ekskul, mereka pun bersegera mengerjakan project demi project yang dicontohkan oleh pak Epi. Seru. Semua tampak antusias di setiap sesi kegiatannya. Beberapa project yang dikerjakan antara lain:
Foto bersama sambil menunggu kendaraan jemputan datang. Cheers!!!
Origami berwarna. Dengan lipatan sederhana yang bisa jadi kantong pensil atau nota kecil, bisa digantung di pintu kamar atau kulkas. Hari itu juga, anak-anak langsung membawa pulang hasil karya mereka. Semua senang dengan hasil karyanya. 
Pak Epi sedang memberi saran dan apresiasi atas karya salah satu anak.
Gambar hitam-putih. Sambil latihan menggunakan kuas sebagai persiapan project Art selanjutnya. Ayo, beranikan diri, jangan ragu-ragu untuk menggambar. Usahakan jangan sampai salah ya. Kalau salah mencoret garis, ayo pinter-pinter ngakalinnya jadi gambar.
The boys in action.
Lukis hewan. Awalnya anak-anak belajar menggambar sosok hewan tertentu. Dan project melukis hewan (kuda, keledai dan zebra) merupakan hal yang menantang untuk anak-anak. Mereka antusias di setiap sesinya. 3 pekan mereka menyelesaikan project lukis ini. Dan di pertengahan Desember nanti, insya Allah ada program melukis di Kebun Binatang Bandung bersama dengan anak-anak sanggar lukis BSB. Yuk, ikutan yuuk...!
Project lainnya? Ah, jangan dibocorkan di sini semua dong. Biasanya di akhir semester nanti hasil karya anak-anak ini dikembalikan kepada mereka, bersama dengan laporan perkembangan mereka selama mengikuti aktivitas ekskul selama satu semester.
Nah, usai mengerjakan project Art mereka, biasanya aku harus 'menggiring' mereka untuk shalat ashar sebelum kembali ke sekolah. Jam setengah lima sore, jika kendaraan penjemput sudah datang, mari kita pulang. Naik mobil jemputan, umpel-umpelan. Belasan bahkan 20-an anak harus masuk sekali angkut di kendaraan jemputan yang akan segera digunakan untuk mengantar pulang anak-anak sekolah ke rumahnya masing-masing. Ribet banget deh. Sisanya? Mari masuk Katana lagi, kuantar ke sekolah lagi.

Minggu, 18 November 2012

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2)

Postingan sebelumnya tentang field trip sebetulnya sudah cukup panjang, tapi memang cerita field trip ke Tahura Juanda belum selesai. Ayo, kita lanjutkan dengan rangkaian kegiatan berikutnya.  
Seriusnya Udi, Langie dan Adam. Masih pegang LKS, mencari sampel daun.
Dalam perjalanan menyusuri beberapa titik poin pembelajaran (Recycle, Cooking Session, Biopori, Composting), kami pun melakukan penelitian kecil mengenai biodiversity. Tugas kami adalah mengamati ragam pohon yang ada di Tahura Juanda dan mengumpulkan sampel daunnya. Daun-daun dari pohon yang pendek tentu dengan mudah kami kumpulkan. Petik satu daunnya, masih bolehlah. Tapi untuk pohon yang tinggi? Tak mungkin kami memanjat batang pohonnya yang besar dan tinggi menjulang. Minimal, kita ketahui nama-nama pohonnya, bentuk daunnya, dan tak lupa untuk mensyukuri oksigen siang hari yang begitu segar, dihasilkan oleh pohon-pohon itu. Anak-anak terlihat senang, tapi beberapa orang bolak-balik memohon, "Miss... boleh makan ya...?" Haduh... sebentar lagi ya, nak. Kita akan makan siang bersama. Segera setelah sampai di 'base camp'.
Usai pengamatan di pos Composting, hujan rintik-rintik mulai turun. Hwaduh, anak-anak sibuk mengeluarkan jas hujannya. Semua ingin pakai jas hujan lengkap. Kan sudah berbekal dari rumah ;) Hujannya tidak deras sih, hanya sekedar gerimis saja. Tapi ya... ayolah kita pakai jas hujan lengkap. Dan pasukan berjas hujan pun siap melanjutkan perjalanan kembali. Mari...!
Sampai di base camp, kita siap-siap makan siang dan shalat. Shalat dulu deh. Subhanallah... anak-anak shalih ini. Mereka -9 orang yang ada di kelompokku- shalat berjamaah dan dzikir bareng. Duh, anak-anak, semoga Allah ridho kepada kalian ya. 
Langie jadi imam, memandu shalat dan dzikir. Anak-anak perempuannya nggak kelihatan :p
Selesai shalat, kami pun siap makan. Menu makan siang yang disiapkan adalah nasi, perkedel tahu, rolade daging, sop sayuran dengan baso, kerupuk dan semangka iris. Yang lapar, makan dengan lahap dong, walaupun selalu ada anak yang bilang nggak suka ini-lah, nggak pengen itu-lah, sudah kenyang-lah, dan sebagainya. 
Usai makan, karena hujan sedikit menderas, makin banyak kelompok yang berteduh di base camp. Kebetulan, acara memang dilanjutkan dengan sesi sharing. Acara ini kembali dipandu oleh pak Viktor. Beberapa anak bergantian ke depan dan menyampaikan kesannya tentang kegiatan paling menarik yang diikutinya dalam rangkaian field trip kali ini. Jawabannya beragam, tentu saja. Suasana jadi begitu ramai, karena banyak anak yang berlomba untuk maju ke depan. Tapi ada yang nyenyak ketiduran, tak peduli sekitar yang ramai luar biasa :p Di tengah keramaian itu, kami pun diminta untuk menyelesaikan LKS yang kami pegang. Beberapa pertanyaan memang belum terjawab. Aku dan anak-anak laki-laki yang duduk di satu baris, bersama-sama membahas pertanyaan demi pertanyaan, dan mereka berebutan untuk menuliskan jawabannya di LKS. Senangnya punya murid-murid yang bersemangat begini. Semangat terus ya nak, semangat mengejar ilmu, di dalam dan di luar kelas. 
Rangkaian kegiatan terus berlanjut. Kali ini saatnya permainan tradisional. Ada dua sesi permainan tradisional yang diperkenalkan di sesi ini. Yang pertama adalah permainan dengan untaian karet ganda. Simse, namanya. Sebagai anak kampung, aku kenal permainan karet ini dan tentu saja aku juga cukup sering main simse bersama teman-teman masa kecilku dulu. Melihat anak-anak masa kini yang terlihat kaku dan canggung, aku jadi gemes. Jadi pengen ikut main. Hayu ah, sesi berikutnya, giliran guru-gurunya yuk! 
Main simse yang (mestinya) seru ini sedikit berubah jadi membosankan. Anak-anak kelamaan nunggu, dan mereka mulai berlarian ke sana-ke mari. Guru-guru mesti kejar-kejaran deh sama anak-anak aktif itu, menjaga supaya mereka tetap terlihat di arena. Kalau hilang satu kan nggak lucu :p. Nah, permainan selanjutnya adalah gatrik. Ini pun permainan seru. Anak-anak bergantian memegang tongkat untuk melontarkan tongkat kecil lainnya untuk ditangkap kelompok lawan. Semua ingin dapat giliran. Seru sih. Nah, yang namanya permainan tradisional, memang seru kan? Yuk kita sering-sering mainnya. Bikin segar badan, juga pikiran. 
Ngantri main gatrik. Asyiik...!
Selesai bermain, kita siap-siap pulang yuk...! Sebelum pulang, kami kembali berkumpul di arena panggung. Anak-anak diminta untuk menulis atau menggambar kesan mereka selama mengikuti rangkaian kegiatan di Tahura Juanda kali ini. Ada yang menggambar, ada yang menulis cerita, ada juga yang menulis puisi. Secara sekilas, karya mereka dicek oleh tim juri yang terdiri dari pak Viktor dan romo Ferry. Dan terpilihlah puisi tentang kesegaran udara yang ditulis Donna (siswa Primary 3). Congrats!
Dalam perjalanan pulang, anak-anak di bus 1 masih seperti kelinci dengan baterai yang tak habis-habis. Masiiih saja bergerak ke sana-ke mari, dengan suara yang masih bisa disetel kencang di level 5, padahal standar bicara mestinya di level 2 saja :p. Sementara itu, rata-rata gurunya sudah pada ngedrop baterainya hingga tinggal satu-dua garis saja. Mungkin karena faktor usia, ya. Ya... ya... aku harus ngaku sebagai salah satunya. Biarpun begitu, kami tetap bolak-balik mengingatkan anak-anak untuk duduk manis, terutama ketika bus sedang bergerak. Tapi malang tak dapat ditolak. 
Dalam satu kesempatan, bus ngerem mendadak, dan banyak anak terbentur ke kursi depannya. Seorang anak yang duduk di baris paling depan mengaku bahunya sakit karena bertahan pada tiang di belakang sopir. Sementara itu, satu anak lainnya terjatuh cukup keras ke lantai bus. Luka. Walaupun begitu, dia tidak menangis sama sekali. Sepanjang sisa perjalanan ke sekolah, eh... dia malah ngantuk. Tapi tentunya kami cemas juga. Kami kontak orang tuanya, dan kami temani di UGD RSCK yang terletak di dekat sekolah. 
Selama di UGD, setelah ditangani dan menanti dokter untuk konsultasi, baterainya seperti di-charge kembali. Ceritaaaa terus. Jalan-jalan juga ke sana ke mari. Nggak ada matinye deh. Tapi dokter tetap memberi surat sakit untuknya. Istirahat di rumah dan cepat sembuh ya, Mirace. Kami tunggu kehadiran Mirace kembali di sekolah, sehat, ceria, dan semangat kembali. 
Yang tertinggal dari moment field trip semester 1. Saat menanti di depan arena. Anak-anak P1 Andalusia tanpa 5 orang yang tidak bisa ikut serta di kegiatan ini. Salah satu form teacher-nya -yaitu diriku- juga tak nampak dalam foto karena memang aku yang pegang kamera. Ayo, bilang P1 Andalusiaaaa :D

Sabtu, 17 November 2012

Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 1)

Semester pertama ini, jadwal Field Trip Al Irsyad Satya adalah ke kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda, Dago. Hari Selasa, 13 November lalu, kami berangkat dari Kota Baru Parahyangan Padalarang menuju Dago. Terlambat lebih dari satu jam, entah menunggu apa, akhirnya kami pun berangkat. Dari 11 orang yang dikelompokkan bersamaku, hanya 9 orang yang bersedia untuk ikut berpartisipasi, dan salah satunya akan dijemput di kawasan Dago karena memang dia berdomisili di sana. 5 bus berangkat beriringan. Kelompok kami ada di bus 1, bersama 2 kelompok anak-anak kelas 1 lainnya dan 2 kelompok anak-anak kelas 4.
Sepanjang perjalanan, anak-anak tak bisa diajak diam. Selain mulutnya yang tak henti makan (begitu duduk, langsung siap-siap mengeluarkan bekal snack mereka ;)), mereka juga bicara dengan suara riuh, ditambah lagi dengan gerakan mereka yang luar biasa. Berdiri, berputar, melompat, berlarian (maunya) ke depan dan ke belakang bus, berpindah-pindah tempat duduk dengan teman, hingga akrobatik (ya... ya... aku memang sedikit melebih-lebihkan). 
Pendek kata, sampailah kami di Tahura Juanda. Disambut oleh tim Spice yang berseragam kaos hijau, kami pun siap berkegiatan sesuai dengan arahan mereka. Spice ini merupakan vendor penyelenggara paket kegiatan field trip kali ini. 
Setelah seluruh bus tiba dan semua tim berkumpul, perjalanan pun dimulai. Kelompok 1 (kelompok kami) mulai jalan lebih dulu. Yell kami, "Grup satu, siap maju!" Sementara grup 2 "Oke!" dan grup 3 "Ready!". Ini jadi salah satu kiat kami untuk menyatukan perhatian anak-anak agar fokus kembali. 
Tiba di lokasi, baru turun dari bus. "Grup satu, Siap maju!"
Berjalan melintasi hutan pinus. Hmm... udaranya sejuuk.
Mari kita jalan, menuju lokasi pertama untuk pembekalan awal. Kami semua berkumpul di seputar arena panggung untuk mendengarkan sambutan dari Spice dan Tahura Juanda. Ada pak Victor dan romo Ferry di sana. Setelah pembekalan singkat, kami pun mulai jalan kembali. Dengan dibekali LKS untuk dikerjakan, kelompok kami siap menjalani rangkaian kegiatan dan melaksanakan semua tugas. Grup Satu, siap maju! teriak 9 anak di kelompokku dengan bersemangat.
Sambutan selamat datang dari pak Viktor untuk rombongan Al Irsyad Satya
Pos pertama yang kami singgahi adalah pos Recycle. Dipandu oleh tim dari Eureka ITB, kami membuat beragam proyek yang berbeda. Kelompok kami mendapat proyek membuat kincir angin pengangkat beban, sedangkan kelompok sebelah mendapat proyek mobil bertenaga angin (dari balon). Seru lho.
Membuat mobil tenaga angin dari botol bekas air mineral.
Pos selanjutnya adalah cooking session. Sambil menunggu giliran untuk memasak (atau memakan) kue cubit, anak-anak (eh, alhamdulillah, gurunya juga) dapat jatah donat sebagai snack pagi. Ampuun deh, anak-anak bolak-balik ingin pilih sendiri donat favoritnya. Ada yang keukeuh ingin donat coklat meises, ada yang mau donat serupa dengan yang didapat oleh karibnya, atau ada juga yang pasrah dengan donat gula dan selai blueberry atau topping/rasa lain. 
Setelah makan donat, saatnya mencicip kue cubit. Kakak-kakak kelas besar dipandu untuk mencoba memasak sendiri, sedangkan adik-adik kecil kelas satu cukup dengan menonton saja dan boleh mencicip kue cubit satu satu. 
Belajar membuat kue cubit. Kak Vikri terlihat terampil meminyaki cetakan kue cubit.
Setelah mencicip kue cubit, kami berjalan lagi untuk belajar tentang manfaat lubang biopori. Anak-anak kelas besar memperdalam lubang dengan alat khusus (umm... apa ya namanya? Aku lupa :p), sedangkan anak-anak kelas kecil mulai membuat lubang dengan sendok semen. Gantian ya pakainya. Hadeuh... mereka rebutan ingin ikut andil membuat lubang. Seru kan, 'main tanah' :p Kalau nggak dipandu, hasilnya pasti cuma ngacak-ngacak tanah aja. Untungnya, anak-anak di kelompokku kooperatif sekali. Mereka mau dipandu, diarahkan, diberi contoh, belajar sabar dan menggali bergantian. 
Gali lubang biopori. Iih, Faqih kok tiga kali menggali. Aku cuma dua :p
Usai menggali lubang biopori, kami kembali berjalan menyusuri hutan, menuju pos berikutnya, sambil mengamati pohon dan mengambil sampel beberapa daun tertentu. Dari 8 sampel daun yang diminta, dua tak berhasil kami kumpulkan. Tapi kami menemukan pohon yang cantik, dengan kulit pohon berwarna seperti lembayung. Ayo, berfoto dulu...! Sayang, keindahan pohon ini tidak tertangkap sempurna oleh kamera yang kupunya. Makanya, harus datang langsung deh untuk melihat keindahannya dengan mata dan kepala sendiri ;)
Bergaya di depan pohon berkulit lembayung :)
Selesai sesi foto, kami menyusul teman-teman lain di pos pembuatan kompos atau pupuk hijau. Anak-anak menyimak penjelasan petugas sambil sesekali mengamati mesin pencacah daun yang kemudian sengaja dioperasikan oleh bapak petugas. Tak berapa lama kemudian, rintik-rintik hujan mulai mengguyur tanah Dago.
Adam dan Aya lagi apa siiiih? Padahal yang lain sedang asyik menyimak.
Kisah lanjutannya insya Allah ditulis di Field Trip ke Tahura Juanda (bagian 2) ya.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Searching, Googling, Teaching

Tahun pelajaran 2012-2013 ini aku kembali ke bidang keahlian dasarku, Seni. Aku diberi tanggung jawab untuk mengajar materi Art & Culture untuk seluruh kelas di level Primary. Back to basic kalau begini caranya. Sungguh aku senang, karena akan bisa fokus di bidang yang kusukai dan kukuasai. Walaupun kadang-kadang ada saja guru-guru mata pelajaran lain yang memanfaatkan media seni untuk mengajar dan mengajak anak belajar. Dunia seni memang universal, bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh siapa saja.
Sekarang kembali lagi kepada aku sebagai guru. Aku tak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada keberadaan buku panduan standar, maka harus rajin-rajin mencari referensi. Untuk resource gambar, dunia maya menyediakan rentang yang sangat luas. Tak hanya aku yang bisa memanfaatkannya. Guru lain dengan korelasi tertentu untuk mata pelajaran mereka pun sangat bisa mendapatkan sumbernya dari aktivitas searching dan googling. 
Untuk aktivitas berkarya dan berkriya pun, dunia maya merupakan sumber yang nyaris tak ada habisnya. Bisa seharian aku mengubek-ubek cyber area itu dan selalu menemukan hal-hal baru yang bisa kumanfaatkan atau jadi inspirasi untuk kubawa ke ruang kelas. Tak jarang, aku perlu juga langkah-langkah pembuatan suatu karya tertentu. Kalau yang ini, memang masih agak sulit menemukannya. Jadi harus rajin-rajin mengulik dan mencari kata kunci yang pas untuk menemukan sumber yang tepat.
Nah, dari aktivitas googling itu, ternyata aku menemukan beberapa blog crafter Indonesia yang luar biasa kreatif. Aku yang memang suka dengan benda-benda kriya yang orisinil, handmade product yang dibuat dengan cinta, menemukan sumber ide yang menarik, bisa diadaptasi ke dalam proyek seni murid-muridku. Selain itu, di satu-dua kesempatan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan hadiah gratisan alias giveaway. Senangnya... mendapat inspirasi dan ide kreatif saja sudah menyenangkan. Jika bisa mendapatkan salah satu hadiah giveaway-nya sekalian, wah... kesenangan berlipat ganda tuh. Yang mau ikut serta 'bersaing' untuk mendapatkan hadiahnya, silakan klik link berikut ini. Lengkapi syarat dan ketentuannya, lalu tunggu hasilnya. Sementara itu, aku sih kembali ke kelas saja. Mengajar lagi. Mariii...!

Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri

Waah, lama nggak update blog ini, banyak moment terlewat. Upacara kelulusan, liburan sambil kerja di Pelabuhan Ratu, hari-hari awal masa sekolah, yang dilanjut dengan rangkaian kegiatan Ramadhan. Seluruhnya sungguh luar biasa.
Kali ini, bahas tugas terakhir untuk anak-anak sebelum libur lebaran saja ah. Sebagai guru kesenian (alhamdulillah, tahun ini full jadi guru kesenian lagi, khusus buat level Primary), tugas yang kuberi untuk anak-anak ya nggak jauh-jauh dari bikin karya seni. Dan jelang idul fitri begini, tugasnya tentu sangat bisa ditebak. Membuat kartu ucapan Idul Fitri. Setiap level punya tingkat kesulitan tersendiri. 
Untuk anak-anak kelas satu, ditugaskan untuk menggambar dengan tema masjidku. Hehe... konvensional sekali ya? Untuk kelas dua pun bertema serupa. Untuk kelas tiga pun masih sama, sebetulnya, tapi dengan detil tambahan di bagian dalamnya. Kertas lipat agak-agak pop-up untuk disisipkan di bagian dalam. Kupikir, ini adalah teori lipatan yang sederhana sekali. Hanya dua lipatan silang plus satu lipatan horizontal untuk menulis ucapan. Tapi untuk anak kelas tiga, bahkan kelas lima sekalipun, ini ternyata cukup rumit juga. Jadilah bikin gurunya keringatan. Ampuuun, target tak tercapai kalau gini. Teorinya, urusan lipat melipat ini cuma memerlukan waktu dua menit saja. Tapi ternyata mulurnya jadi 10 kali lipat!!! Serius, aku nggak mengada-ada. Begitu banyak tangan yang minta dibantu, dan akhirnya kartu yang mestinya bisa selesai dalam dua pertemuan saja, mulur jadi tiga pertemuan (3 pekan??? untuk membuat kartu sederhana begini???)
Kartu lebaran karya anak-anak kelas 3
Kartu lebaran untuk anak-anak kelas 4 juga bertema pop up. Tapi kali ini mereka harus membuat gambar yang akan ditempel sedemikian rupa di bagian dalam hingga akan jadi gambar munculan saat kartu dibuka. Rata-rata mereka senang mengerjakannya. Hasilnya? Lumayan jugalah. 
Kartu pop-up karya anak Primary 4
Kelas 5 membuat kartu dengan penyelesaian campuran dua media warna, yaitu crayon dan cat air. Dengan konsep garis crayon tak akan tertembus air, penyelesaian akhirnya dilakukan dengan sapuan cat air. Hasilnya lucu-lucu juga. 
Karya mixmedia Primary 5
Sayangnya, kelas 6 tak berhasil mencapai cita-cita. Kartu mereka tak selesai dieksekusi karena pada hari-H, sekolah kami sedang menyelenggarakan event lomba musik sahur, nasyid, dan lomba rangkai parcel. Kelas 6 nggak kebagian waktu untuk mengerjakan proyek kartu lebaran mereka. Maaf ya anak-anak... :(
Dan yang terakhir, kartu virtual dariku. Karena dibuat bersamaan dengan moment ulang tahun Indonesia, maka kartu ini mengambil tema warna merah-putih. Dari foto lama bunga di halaman rumah, hanya tinggal ditambahi teks. Sederhana saja. Semoga kesederhanaan ini juga berimbas ke kehidupan kita. Tak perlu bermewah-mewah, yang penting berkah. 
Selamat Idul Fitri 1433 H. Semoga Allah berkenan membawa kita meraih fitri di Syawal ini. Amiin.

Minggu, 24 Juni 2012

To Sir (and Maam) With Love



Waktu cepat sekali berlalu. Sampailah kita di akhir tahun pelajaran. Saatnya berpisah telah tiba. Melepaskan satu generasi lagi untuk melanjutkan perjalanan mereka ke tahap berikutnya.
Di tengah kesibukan luar biasa di akhir tahun pelajaran ini, menyiapkan rapor anak-anak (tentunya), berpartisipasi di kegiatan Art & Sport Day, melatih anak-anak untuk tampil di panggung lomba, menyiapkan kelas (tepatnya: merapikan kelas yang sempat berantakan berat dimanfaatkan sebagai sentra berbagai aktivitas), menulisi ijazah (masih aku aja nih petugasnya? tahun depan 'ganti pemain ah'), dan lain sebagainya, ternyata anak-anak lulusan kelas 6 berinisiatif untuk memberi persembahan satu lagu ekstra untuk guru-gurunya di acara graduation. Mestinya jadi satu kejutan untuk guru-guru kelas 6. Lha, aku kan guru kelas 6 juga, tapi ternyata didaulat untuk ikut mempersiapkan tampilan mereka. Oke deh...
Kuberi ide dengan sedikit efek drama ala Glee (halah...) yang sudah membawakan kembali lagu tahun 60-an ini. Kuusulkan juga ide properti untuk mereka bawa (bikin sendiri ya, anak-anak), berupa gambar bulan dan hati bolak-balik yang ditempel di batang kecil yang nantinya akan mereka berikan pada guru yang pernah mengajar mereka. Kebayang deh, wali kelasnya yang terkenal halus perasaan bakalan nangis berderai-derai melihat aksi mereka. Sedikit perubahan ditambahkan pada lirik lagu ini, tidak hanya to Sir with love, tapi to Sir and Maam with love. Terima kasih anak-anak. Thank you to you too, for being an ispiration, always.

Minggu, 03 Juni 2012

Karya Murid-murid di Kelasku

Mengajar Kesenian itu asyik-asyik susah. Asyiknya karena memang kegiatannya fun, seru. Anak-anak biasa menunjukkan antusiasme di setiap sesinya. Adik-adik kelas kecil biasanya terkagum-kagum melihat hasil karya kakak kelasnya yang 'spektakuler' -di mata mereka, tentunya-, sementara kakak kelasnya 'berdarah-darah' menyelesaikan proyek yang menantang.
Proyek String Art Fun ini, misalnya. Beberapa anak berjibaku, bersimbah peluh untuk memberikan karya terbaik mereka. Mulai dari mengampelas tripleks yang akan digunakan sebagai alas karya, lalu berlengket-lengket menempel kain felt dengan warna pilihan mereka di atas tripleks itu. Dilanjut dengan membenamkan jarum pentul satu demi satu sesuai dengan pola kapal yang telah kusediakan. Alhamdulillah, tak ada satu pun anak yang terluka di sepanjang proses ini. Tak ada pula yang coba-coba iseng atau bermain-main dengan jarum pentul atau palu yang mereka bawa dari rumah. Anak-anak kelas 5 ini telah cukup bertanggung jawab untuk mengindahkan keselamatan kerja saat berkarya. 
Berlanjut dengan mengikatkan benang sulam di antara paku-paku itu, wah... luar biasa. Berkali-kali kudengar panggilan untukku di sana-sini dari seantero penghuni kelas. Minta dibantu ;) Tapi ada juga yang mandiri dan bekerja cepat sekali. Ada yang request, minta benang khusus. Wow... aku mesti pergi sendiri nih ke King's Textile Center untuk membeli benang model pelangi. Nggak pake mobil sekolah. Bukan di jam kerja, pula. Ya sudahlah, kujabanin juga. Dan hasilnya? Karya benang yang tidak mengecewakan, bukan?
Lain lagi dengan karya anak-anak kelas 1. Aku yang keringatan di sini. Aku mesti memotong-motong plastisin/lilin malam berminyak yang dibelikan sekolah segedambrengan. Padahal aku minta paket-an yang sudah berukuran kecil, berwarna-warni pula. Tapi ya... daripada minta tukar dan perlu waktu lama lagi, akhirnya ya kumanfaatkan juga itu barang yang dibelikan sekolah. Dan anak-anak sibuk negosiasi. "Miss, aku mau yang warna merah." "Miss, aku mau yang warna biru!" dan seterusnya, dan sebagainya. Hadeuh... 
Kubuat mereka keringatan juga akhirnya (bukan balas dendam, lho... :p) Karena bukan lilin berkualitas tinggi yang kami punya, maka anak-anak harus meremas-remasnya dulu beberapa waktu sebelum sukses dibentuk sesuai keinginan. Ternyata, ada juga sih anak-anak yang kesulitan meremas lilin itu. Hasilnya: lilin malam malah jadi bubuk dan berhamburan mengotori meja dan lantai. Naah, ini baru 'pembalasan dendam' anak-anak padaku, karena sesudah itu, dibantu anak-anak pun, aku tetap harus membersihkan 'sisa-sisa perjuangan' mereka. Waktu belajar selama 2 peride (60 menit) tidak cukup untuk mengerjakan karya ini. Aku harus memberi petunjuk pengerjaan karya kepada anak-anak, membimbing beberapa dari mereka yang memerlukan, hingga merapikan kembali pekerjaan mereka, plus mencuci tangan bersih-bersih (dan meminta mereka mencuci tangan pun ternyata perlu waktu yang cukup lama). Tapi bagaimana pun hasilnya karya mereka, mereka tak sabar untuk membawa pulang lebah buatan mereka. Sabar ya nak. Miss Diah harus mencuci tangan juga bersih-bersih sampai tangan kembali kesat tak berminyak sebelum memberi nilai pada karya kalian. Jika sudah selesai, si lebah (yang mestinya lucu ini) boleh kok kalian bawa pulang ;)

Kamis, 22 Maret 2012

Suwe Ora Nge-Blog

Sungguh, lama juga aku tidak meng-update blog ini. Kangen, sungguh. Setelah sok sibuk (banget) dengan berbagai aktivitas, di dalam dan luar kelas, akhirnya aku bisa juga menyempatkan diri untuk menulis  postingan baru (dan postingan berikutnya akan segera menyusul ;)). 
The Expendibles in action.
Beberapa waktu lalu kami sibuk dengan event Open House. Sepaket dengan Open House itu, ada kegiatan berbagai lomba yang diikuti oleh beberapa sekolah yang diundang, penjelasan kurikulum yang berlaku di sekolah kami, pameran karya siswa, hingga pementasan. Wah... sungguh masa persiapan yang luar biasa. Di saat sibuk begitu, ternyata beberapa anak 'bertumbangan' karena virus udara, kelas relatif kosong, sementara the show must go on. Pergantian pemain untuk pementasan Bear Hunt terpaksa dilakukan. Aku yang baru diberi tahu beberapa hari sebelum show akhirnya menyingsingkan lengan baju juga, dan ikut sibuk ngatur pementasan anak-anak itu. Dan di akhir acara, The Expendibles, gabungan antara beberapa guru, Office Boy hingga Security, naik panggung dan menyanyikan dua lagu. Serruuuu!!!
Sementara itu, persiapan pameran karya yang dipadu dengan kegiatan interaktif dari departemen Pupil Development juga harus jalan terus. Kami menyiapkan aktivitas melukis gelas dengan Glass Deco yang ternyata mendapat sambutan meriah dari pengunjung. Seru. Sayangnya, hasil kerja berhari-hari menyusun konsep dan mendekorasi satu spot itu harus punah dalam beberapa menit saja usai event Open House. Sekolah akan segera di-fogging untuk mengantisipasi menyebarnya virus DB.
Segera setelah Open House usai, kami langsung disibukkan dengan urusan rapor tengah semester. Di sekolah kami, istilahnya adalah Progress Report term 3. Sibuk lagi deh mengumpulkan nilai anak-anak yang masih 'tercecer'. Beberapa anak yang memang harus ikut tes susulan atau melengkapi nilai tugas, harus rela 'dikejar-kejar'. Tapi untuk anak-anak yang sakit memang tak ada pilihan lain selain menunggu mereka sembuh. Cepat sembuh ya murid-muridku. Kangen deh kelas penuh lagi :p
Usai pembagian rapor, guru-guru masih belum libur. Ada sesi pelatihan untuk meng-upgrade kualitas pribadi kami sebagai guru dalam beberapa sesi training yang salah satunya bertajuk Project-Based Approach. Training semi workshop ini seru juga. Murid-muridku, siap-siap aja untuk mendapatkan project gaya baru yang inter-related dan multifungsi (maaf, nggak akan cukup untuk dijelaskan di sini. Penjelasannya nanti langsung di kelas aja ya ;)). 

Selasa, 11 Oktober 2011

Rapotan Term 1 2011-2012

Hectic. Hingga detik-detik terakhir masih mengajar, sementara hari Jumat tuh termasuk hari sibukku. 3 kelas @ 2 period, plus Contact Time. Teman-teman lain nggak kalah sibuk, terutama tim pengolah nilai dan pencetak rapor. Wah... mereka kerja ekstra keras, dan meluangkan waktu ekstra juga, tentunya, demi selesainya lembar-lembar buku rapor siswa.
Jelang jam makan malam... Nggak biasanya kita-kita masih di sekolah. Satu-dua orang sudah 'kalap' kelaparan, sementara kerjaan masih belum selesai. Ada beberapa cemilan tersedia, direlakan oleh yang empunya. Tapi dasar perut Indonesia, memang mesti dikasih nasi. Perut sudah berdendang nggak karuan, posisi sudah tak beraturan, tapi tetep masih ada yang mau berpose :p
Jelang pulang, sudah lewat jam 8 tuh dari sekolah. Aku masih harus mengantarkan kamera untuk kakak yang mau pinjam. Bukan jarak yang dekat untuk dituju, ke Soreang aja gitu... :p (Padalarang-Soreang tuh sekitar berapa kilometer ya...? Kayaknya sih lebih dari 40 km) Ya sudah, pulang lewat jalur Kopo aja deh, sekalian nganterin ibu-ibu yang memang tinggal di daerah sana. Hayu semuanya...! 
Malam-malam berkunjung ke pesantren? Nggak biasa banget. Tapi dijabanin juga, dan akhirnya delivery kamera selesai dilaksanakan. Pulang ke rumah sudah nyaris tengah malam. Untunglah... kereta kencana Cinderella belum berubah jadi labu, Kesimpulan: aku masih Cinderella, belum berubah jadi Upik Abu :p
Hari rapotan, ah... masih hectic aja. Diawali dengan persiapan segala sesuatu, ini-itu, begini-begitu. Pukul sembilan, pertemuan dengan orang tua murid Primary dimulai. Hm... pukul sembilan lewat sedikit sih. Setelah mengenalkan guru-guru, penjelasan dilanjut, sementara aku dan partner kembali menemui salah satu orang tua murid yang hendak mengambil rapor putranya lebih awal karena mereka ada keperluan mendesak ke luar kota. Yang lainnya mengambil rapor setelah pertemuan antara pihak sekolah dan ortu murid usai. Dialog... dialog... konsultasi tentang perkembangan anak-anak kelas 1 yang belum lagi genap 3 bulan bersekolah di level SD. Ada perkembangan apa? Semoga yang positif saja, dan terus berkembang di waktu mendatang. Insya Allah.
Usai sesi dialog, sempat-sempatnya kita berfoto-ria. Mau pamer sepatu yang saling bertukar. Aku dan Pury yang kompakan pakai hitam-putih ternyata kurang matching di sepatu. Akhirnya kita tukaran sementara. Untung nomornya sama. Ms. Astuty ikut berpose, jadi trio wali kelas 1 (yang satu lagi laki-laki sih, dia ogah ikut berfoto bareng kita :p)

Senin, 29 Agustus 2011

Selamat Hari Raya Idul Fitri

Tahun ini rasanya waktu sangat berkejaran. Baru selesai dengan hajat pelepasan siswa TK B, kelas 6 dan 3 SMP, langsung berangkat ke Singapura untuk program internship -yang liputannya kutulis di sini, di sini, sini, dan sini-. Liburan hanya sekejap rasanya, kami sudah sibuk lagi dengan persiapan awal tahun ajaran baru dengan program FDoS (First Day of School), yang bahkan liputannya tak sempat kutuliskan di sini. Berlanjut dengan program Ramadhan dengan seabrek aktivitasnya, yang bersinggungan dengan keriaan perayaan HUT ke-66 Republik Indonesia kita ini. Agustus ini, yang bertepatan dengan Ramadhan 1432 H, kegiatan kita teramat padat.
Di sela aktivitas mengajar dan mengelola murid-muridku di kelas satu, kami semua berjuang, rasanya. Sungguh Allah tahu. Susah-senang, letih-lelah, terasa semua. Semoga jadi catatan ibadah bagi kami dan semua yang ikut menjalani. Hanya dua dari tiga kelas yang berhasil kubuatkan program membuat hartu ucapan selamat Idul Fitri, yang di kedua kelas tersebut anak-anak hanya punya waktu 2 jam pelajaran (=60 menit) untuk menyelesaikan kartu ucapan mereka. Ini termasuk dengan SoP masuk dan keluarnya guru (yang cukup makan waktu), mendengarkan penjelasanku tentang proyek kartu, dan eksekusi pengerjaannya. 
Contoh kartu yang kubuat sederhana saja, sebetulnya. Kuharapkan murid-muridku bisa mengembangkan ide kreatif mereka secara bebas. Anak-anak kelas 5 dan 6 rata-rata sudah punya skill yang diperlukan. Beberapa karya mereka luar biasa. Ini salah satunya. Proyek kartu ucapan dengan mengerat bagian muka dengan tampilan warna-warni atau gambar di bagian dalamnya. Qushoyy, murid kelas 6 yang baru bergabung dengan Al Irsyad Satya di tahun ini, mengerjakan kartunya dengan kesungguhan dan upaya terbaik. Hasilnya? Aku angkat jempol untuk dia. 
Keratan yang rapi untuk sebuah kaligrafi berlafadz Allah, berhasil dia selesaikan dalam satu pertemuan saja. Selamat Idul Fitri untuk semua. Mohon maafkan segala kesalahan lahir batin. Semoga Allah mempertemukan kita lagi di Syawal nanti, dengan kemurnian hati dan semangat fitri untuk belajar lagi, sekemapuan diri. Semoga Allah meridhoi. Amiin.

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...