Tampilkan postingan dengan label karya siswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karya siswa. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Oktober 2012

Searching, Googling, Teaching

Tahun pelajaran 2012-2013 ini aku kembali ke bidang keahlian dasarku, Seni. Aku diberi tanggung jawab untuk mengajar materi Art & Culture untuk seluruh kelas di level Primary. Back to basic kalau begini caranya. Sungguh aku senang, karena akan bisa fokus di bidang yang kusukai dan kukuasai. Walaupun kadang-kadang ada saja guru-guru mata pelajaran lain yang memanfaatkan media seni untuk mengajar dan mengajak anak belajar. Dunia seni memang universal, bisa dimanfaatkan sepenuhnya oleh siapa saja.
Sekarang kembali lagi kepada aku sebagai guru. Aku tak bisa menggantungkan diri sepenuhnya pada keberadaan buku panduan standar, maka harus rajin-rajin mencari referensi. Untuk resource gambar, dunia maya menyediakan rentang yang sangat luas. Tak hanya aku yang bisa memanfaatkannya. Guru lain dengan korelasi tertentu untuk mata pelajaran mereka pun sangat bisa mendapatkan sumbernya dari aktivitas searching dan googling. 
Untuk aktivitas berkarya dan berkriya pun, dunia maya merupakan sumber yang nyaris tak ada habisnya. Bisa seharian aku mengubek-ubek cyber area itu dan selalu menemukan hal-hal baru yang bisa kumanfaatkan atau jadi inspirasi untuk kubawa ke ruang kelas. Tak jarang, aku perlu juga langkah-langkah pembuatan suatu karya tertentu. Kalau yang ini, memang masih agak sulit menemukannya. Jadi harus rajin-rajin mengulik dan mencari kata kunci yang pas untuk menemukan sumber yang tepat.
Nah, dari aktivitas googling itu, ternyata aku menemukan beberapa blog crafter Indonesia yang luar biasa kreatif. Aku yang memang suka dengan benda-benda kriya yang orisinil, handmade product yang dibuat dengan cinta, menemukan sumber ide yang menarik, bisa diadaptasi ke dalam proyek seni murid-muridku. Selain itu, di satu-dua kesempatan, ada juga kesempatan untuk mendapatkan hadiah gratisan alias giveaway. Senangnya... mendapat inspirasi dan ide kreatif saja sudah menyenangkan. Jika bisa mendapatkan salah satu hadiah giveaway-nya sekalian, wah... kesenangan berlipat ganda tuh. Yang mau ikut serta 'bersaing' untuk mendapatkan hadiahnya, silakan klik link berikut ini. Lengkapi syarat dan ketentuannya, lalu tunggu hasilnya. Sementara itu, aku sih kembali ke kelas saja. Mengajar lagi. Mariii...!

Jumat, 17 Agustus 2012

Selamat Idul Fitri

Waah, lama nggak update blog ini, banyak moment terlewat. Upacara kelulusan, liburan sambil kerja di Pelabuhan Ratu, hari-hari awal masa sekolah, yang dilanjut dengan rangkaian kegiatan Ramadhan. Seluruhnya sungguh luar biasa.
Kali ini, bahas tugas terakhir untuk anak-anak sebelum libur lebaran saja ah. Sebagai guru kesenian (alhamdulillah, tahun ini full jadi guru kesenian lagi, khusus buat level Primary), tugas yang kuberi untuk anak-anak ya nggak jauh-jauh dari bikin karya seni. Dan jelang idul fitri begini, tugasnya tentu sangat bisa ditebak. Membuat kartu ucapan Idul Fitri. Setiap level punya tingkat kesulitan tersendiri. 
Untuk anak-anak kelas satu, ditugaskan untuk menggambar dengan tema masjidku. Hehe... konvensional sekali ya? Untuk kelas dua pun bertema serupa. Untuk kelas tiga pun masih sama, sebetulnya, tapi dengan detil tambahan di bagian dalamnya. Kertas lipat agak-agak pop-up untuk disisipkan di bagian dalam. Kupikir, ini adalah teori lipatan yang sederhana sekali. Hanya dua lipatan silang plus satu lipatan horizontal untuk menulis ucapan. Tapi untuk anak kelas tiga, bahkan kelas lima sekalipun, ini ternyata cukup rumit juga. Jadilah bikin gurunya keringatan. Ampuuun, target tak tercapai kalau gini. Teorinya, urusan lipat melipat ini cuma memerlukan waktu dua menit saja. Tapi ternyata mulurnya jadi 10 kali lipat!!! Serius, aku nggak mengada-ada. Begitu banyak tangan yang minta dibantu, dan akhirnya kartu yang mestinya bisa selesai dalam dua pertemuan saja, mulur jadi tiga pertemuan (3 pekan??? untuk membuat kartu sederhana begini???)
Kartu lebaran karya anak-anak kelas 3
Kartu lebaran untuk anak-anak kelas 4 juga bertema pop up. Tapi kali ini mereka harus membuat gambar yang akan ditempel sedemikian rupa di bagian dalam hingga akan jadi gambar munculan saat kartu dibuka. Rata-rata mereka senang mengerjakannya. Hasilnya? Lumayan jugalah. 
Kartu pop-up karya anak Primary 4
Kelas 5 membuat kartu dengan penyelesaian campuran dua media warna, yaitu crayon dan cat air. Dengan konsep garis crayon tak akan tertembus air, penyelesaian akhirnya dilakukan dengan sapuan cat air. Hasilnya lucu-lucu juga. 
Karya mixmedia Primary 5
Sayangnya, kelas 6 tak berhasil mencapai cita-cita. Kartu mereka tak selesai dieksekusi karena pada hari-H, sekolah kami sedang menyelenggarakan event lomba musik sahur, nasyid, dan lomba rangkai parcel. Kelas 6 nggak kebagian waktu untuk mengerjakan proyek kartu lebaran mereka. Maaf ya anak-anak... :(
Dan yang terakhir, kartu virtual dariku. Karena dibuat bersamaan dengan moment ulang tahun Indonesia, maka kartu ini mengambil tema warna merah-putih. Dari foto lama bunga di halaman rumah, hanya tinggal ditambahi teks. Sederhana saja. Semoga kesederhanaan ini juga berimbas ke kehidupan kita. Tak perlu bermewah-mewah, yang penting berkah. 
Selamat Idul Fitri 1433 H. Semoga Allah berkenan membawa kita meraih fitri di Syawal ini. Amiin.

Minggu, 03 Juni 2012

Karya Murid-murid di Kelasku

Mengajar Kesenian itu asyik-asyik susah. Asyiknya karena memang kegiatannya fun, seru. Anak-anak biasa menunjukkan antusiasme di setiap sesinya. Adik-adik kelas kecil biasanya terkagum-kagum melihat hasil karya kakak kelasnya yang 'spektakuler' -di mata mereka, tentunya-, sementara kakak kelasnya 'berdarah-darah' menyelesaikan proyek yang menantang.
Proyek String Art Fun ini, misalnya. Beberapa anak berjibaku, bersimbah peluh untuk memberikan karya terbaik mereka. Mulai dari mengampelas tripleks yang akan digunakan sebagai alas karya, lalu berlengket-lengket menempel kain felt dengan warna pilihan mereka di atas tripleks itu. Dilanjut dengan membenamkan jarum pentul satu demi satu sesuai dengan pola kapal yang telah kusediakan. Alhamdulillah, tak ada satu pun anak yang terluka di sepanjang proses ini. Tak ada pula yang coba-coba iseng atau bermain-main dengan jarum pentul atau palu yang mereka bawa dari rumah. Anak-anak kelas 5 ini telah cukup bertanggung jawab untuk mengindahkan keselamatan kerja saat berkarya. 
Berlanjut dengan mengikatkan benang sulam di antara paku-paku itu, wah... luar biasa. Berkali-kali kudengar panggilan untukku di sana-sini dari seantero penghuni kelas. Minta dibantu ;) Tapi ada juga yang mandiri dan bekerja cepat sekali. Ada yang request, minta benang khusus. Wow... aku mesti pergi sendiri nih ke King's Textile Center untuk membeli benang model pelangi. Nggak pake mobil sekolah. Bukan di jam kerja, pula. Ya sudahlah, kujabanin juga. Dan hasilnya? Karya benang yang tidak mengecewakan, bukan?
Lain lagi dengan karya anak-anak kelas 1. Aku yang keringatan di sini. Aku mesti memotong-motong plastisin/lilin malam berminyak yang dibelikan sekolah segedambrengan. Padahal aku minta paket-an yang sudah berukuran kecil, berwarna-warni pula. Tapi ya... daripada minta tukar dan perlu waktu lama lagi, akhirnya ya kumanfaatkan juga itu barang yang dibelikan sekolah. Dan anak-anak sibuk negosiasi. "Miss, aku mau yang warna merah." "Miss, aku mau yang warna biru!" dan seterusnya, dan sebagainya. Hadeuh... 
Kubuat mereka keringatan juga akhirnya (bukan balas dendam, lho... :p) Karena bukan lilin berkualitas tinggi yang kami punya, maka anak-anak harus meremas-remasnya dulu beberapa waktu sebelum sukses dibentuk sesuai keinginan. Ternyata, ada juga sih anak-anak yang kesulitan meremas lilin itu. Hasilnya: lilin malam malah jadi bubuk dan berhamburan mengotori meja dan lantai. Naah, ini baru 'pembalasan dendam' anak-anak padaku, karena sesudah itu, dibantu anak-anak pun, aku tetap harus membersihkan 'sisa-sisa perjuangan' mereka. Waktu belajar selama 2 peride (60 menit) tidak cukup untuk mengerjakan karya ini. Aku harus memberi petunjuk pengerjaan karya kepada anak-anak, membimbing beberapa dari mereka yang memerlukan, hingga merapikan kembali pekerjaan mereka, plus mencuci tangan bersih-bersih (dan meminta mereka mencuci tangan pun ternyata perlu waktu yang cukup lama). Tapi bagaimana pun hasilnya karya mereka, mereka tak sabar untuk membawa pulang lebah buatan mereka. Sabar ya nak. Miss Diah harus mencuci tangan juga bersih-bersih sampai tangan kembali kesat tak berminyak sebelum memberi nilai pada karya kalian. Jika sudah selesai, si lebah (yang mestinya lucu ini) boleh kok kalian bawa pulang ;)

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...