Minggu, 21 Juni 2015

Lagu Untuk Guru Sejatiku

Lagu ini sudah lama berada dalam memory card. Setelah proses merekam yang seadanya, yang hanya di depan MP3 saja, rasanya belum PD untuk merilis lagu ini ke khalayak (jyaaah...). Ingin sekali merekamnya ulang secara lebih serius. Sudah minta bantuan teman, tapi rupanya belum berjodoh saja. Akhirnya nekat juga. Aku tekadkan, lagu ini harus rilis di akhir tahun pelajaran ini!!!
Mulai dari mengkonversinya dari file wav ke MP3. Setelah itu mulai menyortir foto-foto untuk disisipkan ke dalam rangkaian koleksi foto dalam program MovieMaker. Eh... ternyata aku harus kembali mengunduh MovieMaker ke komputerku yang tempo hari sempat diinstall ulang. Baiklah...
Tak pakai berlama-lama, setelah MovieMaker kembali ter-install di komputerku, segera kumasukkan rangkaian foto-foto koleksiku yang berasal dari kumpulan foto anak-anak P1 Damascus dan P1 Baghdad yang lalu. Beberapa di antaranya foto narsisku juga siih :p Mengeditnya sedikitTak perlu waktu lama untuk memasukkan beberapa foto lalu mengubah-suai sususan foto agar terasa agak nyambunglah dengan lirik lagu, dan memastikan bahwa jumlah foto yang diunggah akan tayang pas dengan panjang lagu yang menyertainya. Tak pakai customize editing, segera kuselesaikan project video MovieMaker ini.
Setelah selesai dengan menyelesaikan video dalam program MovieMaker, file ini harus melewati proses converting files ke MP4 dari wlmp (file moviemaker). Aku gunakan salah satu fasilitas file converting online. Setelah itu, hanya tinggal mengunggahnya ke youtube. Dan inilah hasilnya...
Lagu ini berirama gembira yang menggambarkan semangat yang ditebarkan oleh guru-guru di sekitarku. Beberapa guru di sekolah dasar dan sekolah lanjutan dulu sangat menginspirasiku. Selain ibuku, mereka juga yang jadi inspirasi bagiku untuk menjadi guru. Tapi selain guru-guru di kelas, setelah aku sendiri menjadi guru justru kutemukan bahwa murid-murid kecilku pun bisa mengajari aku banyak hal. Sungguh, mereka semua adalah guru sejatiku, seperti apa yang disampaikan lagu ini. Lagu ini untuk kalian, semua, guru-guru sejatiku. 

Minggu, 17 Mei 2015

Lebah Warna-warni Kami

Beberapa waktu lalu, anak-anak berkarya dengan menggunakan lilin atau playdough. Perjuangan ekstra nih, ya persiapannya, ya eksekusinya. Ketika anak-anak suka, hadeuh... susah banget disuruh berhenti. Dimulai dengan latihan membuat bentuk dasar berupa bola dan tetesan air. Setelah bisa membuat bentuk dasar, mereka akan bisa membuat apa saja. Insya Allah.
Bahan dasar untuk project craft kali ini adalah lilin atau plastisin atau playdough. Sekolah menyediakan lilin, tapi dengan kualitas yang ala kadarnya. Kandungan minyaknya relatif tinggi, sehingga cukup sulit membersihkan tangan setelah berkreasi dengan lilin ini. Lilin yang kami siapkan dari sekolah adalah lilin yang sudah cukup kecil, sesuai dengan porsi yang diperlukan untuk anak-anak. Yang mau bawa sendiri dari rumah, tentu dipersilakan. Yang mau pakai lilin 'jatah' dari sekolah pun boleh. 
Saya siapkan koran untuk alas meja, supaya minyak lilin tak (terlalu) mengotori meja. Siap-siap juga, setelah selesai berkreasi, antrean cuci tangan bisa panjang sekali. Hihi... Kita mengerjakan projek karya seni 3 dimensi ini di kelas. Bentuk dasar yang harus mereka kuasai adalah membuat bentuk bola, tetesan air, 'cacing', hingga daun. Pertama-tama mereka harus meremas-remas lilin malam menjadi 'adonan' yang homogen dan tidak lagi berbutir atau mudah terburai. Membuat bentuk bola dilakukan dengan memutar 'adonan' di antara kedua telapak tangan. Setelah bola, dilanjutkan dengan membuat bentuk tetesan air. Kali ini, satu sisi bola dibuat pipih dengan menggunakan tepian telapak tangan. Boleh juga menggunakan ujung jari untuk membentuk kerucut kecil di puncak 'tetesan'. Beberapa anak mulai merasa kesulitan saat membuat bentuk ini. 
Selanjutnya adalah bentuk 'cacing' yang bisa didapat dengan proses memilin atau menggiling lilin dengan telapak tangan di atas meja sebagai alasnya. Ini pun ternyata cukup sulit dilakukan oleh anak-anak kelas 1. Bentuk 'cacing' seringkali tak sukses terbentuk, putus-putus, atau suka-suka anak saja mereka buat dengan ukuran 'jumbo'. Hmm... Dan yang terakhir adalah bentuk daun yang pipih, didapat dengan menipiskan bola di telapak tangan. Tak jarang anak-anak membuat bentuk ini dengan ekstra tipis. Dan dalam keseluruhan proses, banyak sekali anak yang minta dibantu. Dengan demikian, saya tak sempat mengambil gambar saat proses pembelajaran berlangsung. Beberapa foto baru saya ambil setelah anak-anak selesai berkarya. Ini dia beberapa hasil karya mereka.

Minggu, 19 April 2015

Doa Untuk Ayah dan Ibu

Dua pekan ini, mengajarkan lagu 'Doa Untuk Ayah dan Ibu' kepada murid-muridku, anak-anak kelas 1. Lagunya mudah, hanya dalam 15 menit, mereka sudah hapal melodinya. 15 menit berikutnya pun digunakan untuk berlatih, mengulang-ulang liriknya. Beberapa anak sudah langsung hapal dalam satu pertemuan. Langsung menantang battle menyanyi tanpa melirik teks-nya. Gayya ya? ;)

Pekan berikutnya, masih mengingat-ingat lagu yang diajarkan sebelumnya, dilanjut dengan mengajarkan melipat origami sederhana, yaitu sebuah amplop mungil dari kertas origami bercorak. Umm... mengajarinya cukup melelahkan, ternyata, karena tidak setiap anak terbiasa dengan aktivitas lipat melipat kertas. Banyak yang mudah menyerah dan minta dibantu begitu saja. Ah... anak-anak jaman sekarang ya. Tapi sebetulnya mereka antusias sekali, terutama karena corak yang menarik dari kertas origami yang kusiapkan untuk mereka. Selain itu, kuminta mereka menyiapkan surat cinta untuk orang tuanya yang nanti akan disisipkan ke dalam amplop tersebut. 
pic: courtesy of www.ohcrafts.net
Kusiapkan lembar kerja sederhana. Di bagian kiri kusiapkan teks lagu itu, sedangkan di bagian kanan ada area untuk menulis 'surat cinta'. Anak kelas 1 itu... ternyata banyak juga yang isi suratnya mengharu-biru. Aku yang 'hanya' gurunya saja, yang ikut bantu mengedit kata (misalnya ada huruf yang kurang), hampir berurai air mata juga membaca ungkapan hati mereka. Bunda-bunda... siap-siap dengan tissue dan pelukan hangat ya untuk putra-putri tercinta.
Mengingat pengalaman berurai air mata di kelas sebelah ketika mengajarkan lagu basmalah, kali ini aku mewanti-wanti anak-anak itu agar tidak menangis. Seorang anak yang saat ini tinggal bersama kakek-neneknya, terpisah dari ayah-bundanya, terlihat berkali-kali menahan haru. Tak kuat menahan perasaannya, dia bertanya, "Miss, kalau nangisnya nanti di rumah, boleh?" Oh... tentu saja boleh, nak. (T T)


Senin, 26 Januari 2015

Bismillaah-Pesan dari Ayah dan Ibu

Mulai pekan lalu, anak-anak Primary 1 belajar lagu baru. Apa ya judulnya? Setahu saya sih, Pesan dari Ayah dan Ibu (versi bahasa Indonesia) atau A Note from Mum and Dad (versi bahasa Inggris). Yang pertama saya ajarkan adalah versi basmalah berbahasa Inggris. Anak-anak mendapatkan catatan lirik lagu beserta satu area kecil untuk menggambar kebersamaan mereka bersama ayah dan bundanya.
Yang lucu terjadi di kelas P1 Andalusia. Ketika saya perdengarkan lagu ini untuk pertama kalinya, salah satu anak laki-laki berkomentar, "Aah, udah tahu. Tapi aku tahu yang bahasa Indonesianya." Ya, lagu ini memang saya dapat di sebuah pelatihan untuk guru, dari pak Widadi, salah seorang guru yang pada saat itu mengajar di SD Al Ikhlas Cipete. Anak yang sekarang di kelas ini tentu pernah belajar dari guru yang juga belajar dari pak Widadi. Yuk atuhlah, saguru saelmu, tong saling ngaganggu. Eh...?? :p
Tapi setelah saya nyanyikan lagu ini sekali, ada seorang anak laki-laki lain yang berkomentar, "Iiih, kok jadi pengen nangis ya..." Kemudian dia melihat berkeliling, mencari teman yang mungkin punya perasaan yang sama. Satu-dua anak mulai melow nih. Saya tak ambil pusing dengan apa yang terjadi di kelas itu, dan melanjutkan mengajarkan lagu itu, mengulangnya berkali-kali, bergantian. Tapi semakin sering diperdengarkan, rupanya anak-anak itu jadi semakin melow saja. Saya lihat, beberapa wajah sudah berurai air mata. Naon atuhlah...? Lagunya kan nggak melow juga.
pic: courtesy of P1 A's FT, Mr. Tj
'Cuma' begini aja kok lirik lagunya, masa sih bikin nangis berderai derai...? 
Jangan lupa, janganlah lupa
Kita baca basmallah
Sebagai tanda diawalinya
Perbuatan yang baik

Ingat slalu pesan ibumu
Ingat pesan ayahmu
Bismillahirrahmaanirrahiim
Harus dibaca slalu -3x
Sedangkan versi bahasa Inggrisnya seperti berikut ini:
Please don't forget, please don't forget
We always say basmalah
It is a sign to start everything
All good, everything we do

Remember what your mother says
Remember what your father says
Bismillahirrahmanirrahim
It must be always we say -3x
Versi hamdalahnya, menyusul kemudian yaa. Melodinya sama, hanya liriknya yang sedikit berbeda.
Setelah berkali-kali menyanyikan lagu ini, ternyata makin banyak wajah-wajah berurai air mata. Aaah, masa sih lagu begini sedemikian mellownya mengaduk-aduk isi hati anak-anak manis ini...? Nggak percaya rasanya. Tapi memang demikianlah yang terjadi. Hingga jam pelajaran berakhir, beberapa anak masih melanjutkan tangisnya, bahkan hingga saat bubaran sekolah (period mengajarku memang terjadwal di akhir hari). Dan inilah wajah-wajah mereka.

Senin, 20 Oktober 2014

Pelatihan Menulis Untuk Guru

Kulihat pengumuman kecil itu di sudut surat kabar harian PR. Tertarik dong... selain aku sudah lama tidak ikut pelatihan apapun (duuh, susah memang cari pelatihan untuk guru kesenian atau guru kelas -selain standar pelatihan kurtilas tempo hari :p-), memang menulis adalah salah satu hal yang kugemari. Biaya yang nggak sedikit, tentu jadi kendala, baik jika dibebankan ke pihak sekolah, apalagi individu. Duh!!!
Kantor Redaksi PR sebagai penyelenggara terbakar!!! Sebuah berita mengejutkan. Akankah sesi pelatihan menulis artikel untuk guru itu akan tetap digelar? Nyatanya YA. Komitmen PR untuk tetap terbit dan tetap menjalankan segala aktivitas senormal mungkin, dijaga betul oleh pimpinan beserta segenap staf. Maka jadilah pelatihan yang sedianya akan diselenggarakan di kantor redaksi PR, pindah tempat ke Hotel Serela di Cihampelas.
Dan pada hari Rabu dan Kamis, 15-16 Oktober lalu, aku dan Ms. Reni dari sekolah kami, resmi bergabung menjadi salah satu peserta pelatihan menulis astikel untuk guru, beserta 20-an guru-guru dari sekolah lain.
Sesi pertama diawali oleh pak Budhiana yang punya pengalaman panjang di dunia persuratkabaran, termasuk di PR tentunya. Menarik mendengarkan kisah beliau, berbagi pengalaman mengenai banyak hal. Berlanjut dengan sesi kedua bersama pak Tendi, yang juga punya pengalaman tak kurang panjang bersama PR. Sesi terakhir di hari pertama ditutup oleh pak Septiana Santana, yang membongkar pola berpikir kita, agar lebih berani berpikir dan berpendapat dalam tulisan. Sebetulnya materi yang disampaikannya adalah tentang struktur tulisan, lengkap dengan contoh-contoh tulisan sesuai dengan penjelasan yang disampaikannya dengan cara yang menarik.
Hari kedua, kembali pak Septiawan Santana mengawali sesi pagi. Kali ini membahas mengenai gaya bertutur dalam tulisan. Beberapa contoh diungkapkan, tapi sayangnya tidak cukup waktu untuk membahas semua contoh yang diberikan. Sesi berikutnya, kembali pak Tendi mengisi materi. Kali ini mengenai Bidik Rubrik. Ternyata, cukup banyak peluang bagi penulis lepas untuk menjadi kontriutor di koran PR. Aku yakin, banyak ide sudah bermunculan di benak teman-teman, siap diwujudkan menjadi ragam tulisan untuk surat kabar.
Usai diskusi dengan pak Tendi, acara pun berakhir. Pembagian 3 doorprize untuk penyusun kerangka tulisan terbaik pun diumumkan. Hari sebelumnya sudah dibagikan 2 doorprize untuk partisipan dengan usulan tema terbanyak. Aku bukan salah satunya, cukup jadi fotografer saja :p
Selamat ya buat para penyabet door prize. Apa kabar denganku sendiri? Iddiiih, update blog ini saja tertunda-tunda teruuus. Apa kabar artikel untuk surat kabar, yang notabene harus berdasarkan data dan fakta, didukung riset baik kecil maupun besar, lebar menyeluruh? Sabar deh... satu-satu. Blog posting dulu yang diselesaikan yaa, yang hanya curhatan kecil dari hati. Sambil menanti hari, hingga tulisanku selesai. Tim PR-Institute sebagai penyelenggara menanti tulisan terbaik kita untuk dipublikasikan dalam salah satu penerbitan koran Pikiran Rakyat. Sementara itu, kita tunggu dulu liputan dari tim PR yaa. Ayo, berfoto yang cantik ;)

Minggu, 13 April 2014

Twinkle Little Stars by Deedee Utami

Lagu anak. Entah apa judul lagu sebenarnya, dan tak kutemukan pula data penciptanya. Yang jelas, ini adalah salah satu lagu anak yang sering kunyanyikan saat aku kecil. Lirik dan melodinya sederhana, sangat layak dinyanyikan anak-anak usia sekolah -terutama kelas kecil-. Melodinya mudah diikuti, mengasah kemampuan mereka untuk peka nada. Sedangkan liriknya mengasah imajinasi dan kecintaan pada bunda. Anak sekarang, masih maukah mengambilkan bintang untuk bundanya? :)
Beberapa karya gambar anak-anak kukompilasi menggunakan program MovieMaker. Masukkan lagu yang kurekam ala kadarnya, jadikan file movie, kemudian diunggah ke YouTube yang kemudian bisa diakses siapa saja. Video ini sebagai sarana belajar anak-anak kelas 2 yang akan dites menyanyikan lagu ini di depan kelas nanti. Suka ada aja yang masih bingung atau lupa melodi jika saatnya tes tiba. Di kesempatan mendatang mungkin perlu juga kulengkapi dengan notasi angkanya ya. Hmm... nambah lagi kerjaan, tapi ini berarti nambah lagi keterampilan. Jangan berhenti belajar lagi, Dee ;)
Anyway, here's the song lyrics. 
Twinkle-twinkle little stars, up above the sky
Twinkle-twinkle little stars, how pretty you are
Twinkle-twinkle little stars, you are everywhere
Twinkle-twinkle little stars, like diamonds in the sky

Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring
Oh how I want to pick up one of you
So I can put it on my mother's ring

Lirik aslinya (dalam bahasa Indonesia)

Kerlap kerlip bintang, di langit tingi
Kerlap kerlip bintang, indah sekali
Kerlap kerlip bintang, di mana-mana
Kerlap kerlip bintang, bagai permata

Ingin hatiku memetik bintang

Untuk kupasang di cincin Ibu
Ingin hatiku memetik bintang
Untuk kupasang di cincin Ibu

Minggu, 10 November 2013

Friendship Bracelet

Beberapa waktu lalu, aku kembali diminta mengisi sesi keputrian oleh anak-anak Secondary. Sesi keterampilan lagi, dan aku menyanggupi. Requestnya, mereka minta diajarkan cara membuat gelang. Hmm... gelang seperti apa ya yang cukup sederhana untuk dibuat dalam waktu kurang dari satu jam, tidak perlu banyak bahan untuk membuatnya (berarti bukan sekedar meronce manik-manik yaa), tapi cukup menarik untuk mereka. 
Browsing-lah sedikit, dan kutemukan banyak sumber di dunia maya tentang friendship bracelet ini. Siap-siap deh untuk mengajarkan pembuatan gelang ini. Aku sendiri mencoba membuatnya beberapa kali. Tidak susah, sebetulnya, karena prinsipnya adalah pengulangan simpul mati berkali-kali. Yang akrab dengan tali temali, tentu tak akan menemui kesulitan. 
Ketika sesi keputrian tiba, mengajari sekumpulan anak gadis ternyata memang tak semudah yang kupikir. Untuk mengurai benang saja, mereka minta bantuan berkali-kali. Kapan selesainya nih sesi bikin gelang ini, jika 10 menit pertama saja sudah dihabiskan hanya untuk mengurusi benang kusut?
Untuk menjalin gelang ini, aku sebetulnya hanya perlu waktu sekitar 30 menit untuk menyelesaikan satu untainya. Tapi mengajari anak-anak ini, wow... kelihatannya aku perlu sesi private satu persatu. Semua anak minta dipandul Pusinglah aku berjalan ke sana ke mari. Di akhir sesi, hanya 4-5 anak yang cukup sukses menjalin gelang ini hingga belasan simpul, tapi mereka tetap harus melanjutkan di luar sesi karena waktu yang terbatas. Mereka harus segera shalat dzuhur dan melanjutkan belajar di kelas lagi. Sementar itu, satu gelang ungu kuberikan pada Ms. Firda, sebagai tanda pertemanan dengan guru English di Secondary itu.
Aku jadi ingin gelang lain, sebuah gelang persahabatan, gelang impian. Apakah Hayano Handmade bisa mewujudkan keinginan itu? Ketika Hayano Handmade menggandeng .lell. untuk menggelar event giveaway, ahh... aku jadi ingin salah satunya, Gelang dengan liontin menara Eiffel akan jadi afirmasi positif untuk mentargetkan mengunjunginya suatu saat kelak. Sedangkan gelang dengan gantungan lambang damai itu akan selalu jadi pengingat untuk jadi agen perdamaian. Yang mana aja deh, aku siap menerima salah satunya ;)

Sabtu, 09 November 2013

Lagu Anak Muslim

http://www.packetofthree.com/songbook-2/
Beberapa waktu lalu, di kegiatan LDKS sekolah level SMP, rasa nasionalismeku terusik. Ms. Yetti sebagai pengampu sesi tersebut memang sengaja memutar beberapa lagu populer dan beberapa lagu nasional sebagai pembanding. Anak-anak berebut menjawab ketika lagu populer Indonesia dan dunia diputar. Dalam detik-detik pertama, bahkan musik pembukanya, mereka sudah begitu percaya diri untuk menjawab lagu-lagu itu, dan betul semua! Sedangkan ketika lagu nasional yang diperdengarkan, perlu waktu lama sebelum mereka berani menjawab, dan itu pun tak seluruhnya benar. Prihatin juga ya. Apa kabar dengan rasa nasionalisme kita?
Kejadian lain terjadi beberapa hari yang lalu. Saat itu dua dari 20 muridku di kelas satu sedang asyik menggambar. Ketika kusapa, salah satu di antaranya mengatakan bahwa yang digambarnya adalah Katy Perry. Hmm... Seru lho. Lagunya asyik, Roar gitu, lanjutnya lagi. Lalu mereka asyik bersenandung lagu terbaru dari penyanyi cantik itu. Roarr...!
Prihatin juga sih dengan kondisi lagu anak-anak saat ini. Maka dari itu aku coba meng-counter dengan mengenalkan kembali lagu-lagu lama karya komposer yang mengerti dan peduli pada dunia anak. Tapi yang satu ini sih lagu yang kupikir relatif baru. Satu lagu karya anak-anak Bimbo. Tempo hari, rasanya aku pernah punya kasetnya, tapi sekarang entah di mana. Kucari-cari sumbernya di jagat maya, tak kunjung ketemu, ya akhirnya aku bikin sendiri aja video sederhana tentang lagu ini lalu kuunggah di YouTube.

Lagu ini kuajarkan di kelas 2. Pekan kedua di bulan November ini mereka akan dites, menyanyi satu demi satu di depan kelas. Ketepatan menangkap dan menproduksi kembali nada yang dicontohkan, kelengkapan mengingat lirik lagu, dan ekspresi saat menyanyikannya akan jadi poin penilaian utama. Aku sendiri, sibuk juga mengiringi mereka menyanyi dengan gitar kesayanganku. Maaf maaf, nggak sempat mendokumentasikan sesi menyanyi ini melalui video. Mungkin di kesempatan lain ya. Untuk saat ini, selamat menikmati lagu ini. :) 

Selasa, 05 November 2013

Siapkan Tanggalan Untuk Tahun Depan

Alhamdulillah, sudah bulan November aja nih. Tinggal menghitung hari ke tahun baru Masehi. Waktu betul-betul melesat cepat. Sementara itu, aku rasanya belum banyak 'menorehkan sejarah' di tahun 2013 ini, sedangkan sebentar lagi tahun sudah berganti. 
Psst, masih ada waktu untuk menggores tinta emas di tahun ini. Berpikir optimis saja yuk, bahwa masih tersisa lebih dari sebulan di tahun ini untuk selalu melakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik juga. Tandai hari-hari pada tanggalan untuk memastikan tanggal-tanggal istimewa tak terlewat. fyi, di bulan November dan Desember nanti, ada lebih dari 6 orang teman dan kerabat yang berulang tahun (termasuk aku. ;)). Sedangkan di bulan Januari yang sudah menanti, berentet juga jadwal event ilang tahun dari kawan dan murid-muridku. Jadi merasa perlu segera punya kalender tahun depan.
Hmm... berharap GoodThinks mau ngasih satu kalender buatku, mumpung lagi ngadain event GiveAway kan ya...? Menarik banget nih hadiahnya. Kalender kain ala Jepang. Biarpun nggak bisa ditulisin, tapi buat reminder tanggal-tanggal penting, tetap bisa dong... Well, kalaupun meleset nggak dapat kalender unyu ini, masih boleh dong ngarep dapat hadiah lain berupa 1 majalah craft edisi summer 2018 yang dilengkapi dengan KIT DIYnya. Waah... ini juga hadiah seru. Aku sih dapat yang mana aja, akan kuterima dengan senang hati. Mariii...!

Jumat, 16 Agustus 2013

Sang Juara di Tiap Hariku ~ Kopi Instan & Cappuccino Good Day, Kopi Gaul Paling Enak

Memulai hari dengan secangkir kopi itu, alhamdulillah, nikmat sekali. Kopi yang diseduh dengan tambahan susu, bisa jadi boosting energy untuk aktif sepanjang hari. Satu yang jadi favoritku adalah yang satu ini, kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak. Setelah mencicipi semua kopi sachetnya, bolehlah kunobatkan 3 plus 1 produknya sebagai juara. 
Pertama kali mencoba kopi instant Good Day, rasanya sudah bertahun-tahun yang lalu, aku mulai dengan yang original. Dilanjutkan dengan coffeemix, vanilla, coolin' coffee, carebbian nut, moccacino dan chococino. Cappucino dengan coklat granule-nya pun tak lupa untuk kujajal. Chococino dan moccacino punya rasa yang serupa, sehingga sangat sulit bagiku untuk menentukan yang mana yang harus jadi juara. Teksturnya lembut, betul-betul berbaur dengan ingredients lainnya. Aromanya manis dan hangat. Sebagai pecinta yang manis-manis, bisa kurasa bahwa moccacino sedikit lebih manis dibanding chococino. Tapi betul-betul sulit menentukan juaranya antara yang dua itu, maka kunobatkan mereka sebagai juara kembar.  
Biasanya, aku menambahkan susu lagi di kopiku. Niatnya sih sebagai energy booster untuk hari itu. Tapi sedikit berbeda untuk Good Day capuccino. Penambahan susu justru akan mengurangi foam atau busa yang timbul saat diseduh air panas. Dan jika tidak cukup busa di permukaan cangkir, maka bubuhan coklat granule tidak akan terlihat menarik lagi. Dan karena tampilannya yang begitu menggoda, kunobatkan Cappucino coklat granule ini di posisi kedua ;)
Buat nemenin kopi pagi yang enaknya diminum hangat, bikin 2 minutes brownie, boleh juga nih. Resep berbasis kopi lainnya, masih banyak di sini. Sementara itu, ragam manfaat kopi lainnya, dan berbagai manfaat kopi, pokoknya all about coffee, bisa juga dilihat di sini. Wah, pagi makin berseri nih dengan kopi. Have a good day ya, all ;)
Sebagai juara ketiga...pilihanku jatuh pada si segar Kopi Instant 3in1 Good Day Freeze Mocafrio yang praktis, bisa diseduh dengan air dingin. Kadang-kadang aku bawa sebagai persiapan saat haus di tempat kerja, tapi seringkali tak sempat juga menyeduh kopi dingin ini karena kesibukanku sebagai guru kelas satu sekarang ini. Deuh... emang segitu sibuknya ya? :p Kalau dua produk terbaru yang tersedia dalam kemasan botol, kebetulan aku belum coba sih, tapi keduanya, Good Day Tiramisu Bliss dan Good Day Funtastic Mocacinno terlihat menggoda. Aku belum bisa menentukan pilihan, lebih suka yang mana. Yang jelas, harus dicoba dulu, untuk bisa tahu varian mana yang terenak, dari jajaran kopi instan & cappuccino Good Day, kopi gaul paling enak ini. Mungkin akan kucoba dalam waktu dekat ini, untuk menemaniku dalam perjalanan kembali ke rumah, menjaga mata agar tetap terbuka selama berkendara. Tapi sementara ini, mari memulai hari dengan salah satu dari produk ini kopi instan & Good Day, kopi gaul paling enak ini.

Minggu, 14 Juli 2013

Sekolah Lagiiii...!

Besok, Senin, 15 Juli 2013, saatnya kembali ke sekolah. Mari semangat lagi.
Tahun Pelajaran 2013-2014 ini aku 'pegang' kelas 1 lagi, tapi kali ini pindah kelas ke P1 Damascus. Berparter dengan gadis muda yang enerjik, yuk, kita bangun sinergi di sekolah ini dan di kelas kita, P1 Damascus khususnya. Selamat datang ke Sekolah Dasar, murid-muridku. Welcome to P1 Damascus. Let's enjoy the learning process together. To be honest, I -personally- want to learn from all of you. So let's learn from each other, and let's learn together.
Memulai hari pertama sekolah di bulan Ramadan begini, pasti berat. Tapi insyaAllah kita bisa. Semangat ya, semua... \(^ 0 ^)/

Origami Balon

Tampak simpel. Aktivitas ekskul kita di hari yang lalu. Pertemuan pertama di tahun ajaran baru setelah libur 2 bulanan. Mengulang aktivitas ...